Anjlok 17% selama Sebulan, Bitcoin Kini Jadi Trending
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) cenderung bergerak sideways dan tengah diperdagangkan di bawah US$ 58.000. Ethereum terus berada di sekitar level US$ 3.000-an, sementara sebagian besar mata uang kripto lainnya juga bergerak sideways.
Menilik lebih jauh, BTC anjlok 17,16% selama sebulan terakhir, dengan banyak pengamat pasar menyalahkan tekanan jual dari operator penambangan Bitcoin dan pengembalian dana Mt. Gox. Hingga yang terbaru penjualan aset digital Jerman.
Adapun menurut data Coinmarketcap, Kamis (11/7/2024) pukul 07.00 WIB, BTC tengah berada di US$ 57.739,08 turun 0,51% dalam 24 jam terakhir dan 4% dalam sepekan. ETH tengah menguat 1,18% ke US$ 3.102,23, namun dalam sepekan ambles 5,76%.
Meski demikian, BTC menempati posisi pertama koin yang menjadi trending, disusul Biaoqing (BIAO), Notcoin (NOT), PeiPei, dan Pepe.
Di mana, kapitalisasi pasar kripto global adalah US$ 2,13T, meningkat 0,13% dibandingkan hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 62,39 miliar, turun 7,99%. Total volume di DeFi saat ini US$ 3,63 miliar, 5,83% dari total volume pasar kripto 24 jam. Volume semua koin stabil sekarang US$ 57,59 miliar, yang merupakan 92,31% dari total volume pasar kripto 24 jam.
Indeks Ketakutan dan Keserakahan kembali ke ketakutan setelah sempat pulih dan berada di netral.
Baca Juga
Pemerintah El Salvador Beli 1 Bitcoin per Hari, Bos Indodax: Bisa Ditiru Negara Lain
Greg Cipolaro, kepala penelitian di NYDIG menilai, alasan mengenai tekanan jual dari operator penambangan Bitcoin, pengembalian dana Mt. Gox dan penjualan aset digital Jerman yang menjadi penyebab penurunan harga besar-besaran terlalu dilebih-lebihkan.
“Kami tidak menyadari fakta bahwa faktor-faktor lain mungkin berperan dalam hal ini, namun masuk akal untuk berpikir bahwa investor yang rasional mungkin menganggap ini sebagai peluang menarik yang diciptakan oleh ketakutan yang tidak rasional,” ujarnya dikutip dari Coindesk, Kamis (11/7/2024).
Selama beberapa minggu terakhir, investor terpaku pada transfer terkait alamat Bitcoin yang terkait dengan kawasan bursa Mt. Gox yang sudah tidak beroperasi, pemerintah AS, dan negara bagian Saxony di Jerman. Sehingga memicu kekhawatiran akan segera terjadinya penjualan simpanan senilai lebih dari US$ 20 miliar ini.
Cipolaro juga berpendapat bahwa laporan terbaru tentang para penambang yang menyerah dan menjual simpanan BTC mereka secara massal setelah peristiwa halving tahun ini tidak hanya dilebih-lebihkan, namun dalam beberapa kasus sama sekali tidak akurat.
Baca Juga
Kenaikan Harga Aset Kripto Berlanjut, Celestia Melonjak hingga 20%
Data NYDIG menunjukkan bahwa perusahaan pertambangan publik benar-benar meningkatkan kepemilikan Bitcoin mereka pada bulan Juni. Meskipun jumlah BTC yang terjual sedikit meningkat pada bulan lalu, jumlah tersebut masih jauh di bawah level yang terlihat pada awal tahun ini dan tahun lalu.
Di sisi lain, angka CPI bulan Juni dari AS akan dirilis dan banyak yang memperkirakan inflasi akan melambat dari bulan sebelumnya.

