Cina Berniat Tambah Cadangan Darurat, Harga Minyak Ikut Menghijau
JAKARTA, invetsortrust.id - Pada penutupan jelang akhir pekan (5/7/2024) pagi ini, harga minyak terpantau bergerak bullish didukung oleh potensi meningkatnya permintaan minyak oleh Cina, dan penurunan pasokan dari dua produsen minyak utama Rusia. Meski demikian, keputusan Aramco serta sinyal kemajuan dalam negosiasi gencatan senjata di Gaza membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Pemerintah Cina memerintahkan perusahaan minyak negaranya untuk menambahkan sekitar 8 juta metrik ton, atau hampir 60 juta barel, minyak mentah ke dalam persediaan darurat negaranya guna meningkatkan keamanan pasokan, menurut perusahaan analisis Vortexa dan sumber perdagangan. Rencananya program tersebut akan berlangsung dari bulan Juli ini hingga Maret tahun depan. Saat ini total impor Cina mencapai sekitar 11 juta barel minyak mentah per hari.
Turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, dua produsen minyak utama Rusia, Rosneft dan Lukeoil, berencana memangkas tajam ekspor minyak dari pelabuhan Novorossiisk di Laut Hitam pada bulan Juli, kata dua sumber pada hari Kamis. Diperkirakan akan terjadi penurunan output sebesar 220.000 bph pada bulan Juli dari kedua produsen tersebut.
Baca Juga
Sementara itu, sinyal gencatan senjata di Gaza semakin menguat setelah seorang pejabat senior pemerintah AS pada hari Kamis mengatakan telah mencapai terobosan baru karena Hamas telah membuat penyesuaian yang cukup signifikan dalam posisinya mengenai kemungkinan kesepakatan pembebasan sandera dengan Israel. Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Kamis mengatakan kepada Presiden AS Joe Biden bahwa dia telah memutuskan untuk mengirim delegasi guna melanjutkan negosiasi yang terhenti mengenai kesepakatan pembebasan sandera dengan Hamas.
Sentimen negatif lainnya datang dari perusahaan minyak negara Saudi Aramco yang mengumumkan harga jual resmi (OSP) minyak untuk pengiriman bulan Agustus ke Asia, yang diturunkan sebesar 60 sen per barel menjadi US$ 1,80 per barel. Penurunan itu juga lebih rendah dari ekspektasi pedagang dan kilang yang memperkirakan Aramco akan memangkas turun sebesar 90 sen. Keputusan Aramco tersebut mengisyaratkan masih berlanjutnya pelemahan permintaan di pasar utamanya.
Baca Juga
Kurang Pasokan di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Harga Minyak Naik
Dalam riset ICDX, Jumat (5/7/2024) melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 86 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 81 per barel.

