RI Sempat Berniat Ekspansi Minyak ke Iran
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, menjelaskan situasi terkini terkait rencana Indonesia untuk melakukan ekspansi bisnis minyak ke Iran. Sebab, saat ini Iran sedang menjadi sorotan lantaran serangan yang mereka lancarkan ke Israel.
Sebagai informasi, PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) sempat berencana melakukan ekspansi hulu migas ke Iran. Pada 2016, MoU pun diteken dengan National Iranian Oil Company (NIOC).
Kendati demikian pada 2018, Presiden Amerika Serikat (AS) kala itu, Donald Trump, mengaktifkan lagi sanksi ekonomi terhadap Iran. Maka dari itu, rencana Pertamina untuk melakukan ekspansi ke Iran belum bisa terwujud.
Menanggapi hal ini, Tutuka Ariadji menerangkan, kelanjutan nasib ekspansi tersebut bukan hanya berada di tangan Kementerian ESDM, tetapi juga Kemenlterian Luar Negeri (Kemenlu). Pasalnya, ini juga berkaitan dengan situasi politik antarnegara.
“Sebagian ini sebenarnya wewenangnya Kemenlu. Kita juga hubungi Kemenlu. Saya selalu konsultasi dengan Kemenlu, bagaimana Kemenlu kebijakan terhadap ini. Ini pemerintah kan, jadi tidak bisa ESDM sendiri mendahului politik,” ujar Tutuka di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (16/4/2024).
Maka dari itu saat ini Kementerian ESDM hanya bisa menunggu tindakan apa yang kemudian diambil oleh Kemenlu. Tutuka menyebut, seandainya Kemenlu memberikan lampu hijau, maka Kementerian ESDM siap tancap gas.
“Kita lihat Kemenlu sikapnya bagaimana. Jadi saya selalu konsultasi. Kalau Kemenlu oke, kita jalan,” kata dia.
Lebih lanjut, Tutuka juga menyampaikan bahwa saat ini tidak ada perusahaan Indonesia yang memiliki sumur ataupun kilang minyak di Iran. Meskipun, Tutuka tidak memungkiri bahwa Indonesia pernah melakukan studi di sana, namun tidak sampai tahap implementasi.
“Di Iran tidak ada. Di Irak adanya. Studi-studi sudah dilakukan (di Iran), tapi tidak sampai ke implementasi, karena sanksi. Pemerintah itu kan memfasilitasi, yang maju nanti perusahaan-perusahaan, salah satunya adalah Pertamina. Kita gak bisa memaksa kalau ada permasalahan di sana misalnya,” ungkap Tutuka.
Baca Juga
Meski Eskalasi Timur Tengah Belum Mereda, Harga Minyak Dunia justru Turun

