Kinerja Mei dan Isu Muamalat Jadi Booster BTN (BBTN) Semester II-2024
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) berhasil menjaga kinerja keuangan tetap stabil di tengah ketatnya likuiditas yang berimbas terhadap penurunan margin keuntungan (NIM) perbankan nasional.
Sedangkan program penjualan aset bermasalah menjadi sentimen positif terhadap performa keuangan dan saham semester II-2024. Sentimen positif juga datang dari rumors batalnya akuisisi Bank Muamalat.
Keberhasilan perseroan menjaga kinerja tetap terkendali terlihat dari keberhasil perseroan mengerek laba bersih sebanyak 43% dari Rp 124 miliar pada April menjadi Rp 176 miliar pada Mei 2024. Perseroan juga berhasil menekan biaya dana (cost of fund/CoF) menjadi 4,8% pada Mei, dibandingkan April sekitar 5,1%.
Baca Juga
Disebut Batal Akuisisi Bank Muamalat, BTN justru Diapresiasi Positif, Kok Bisa?
Analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabara dan Boby Kristianto Chandra mengatakan, ROE BTN memang masih tertekan, tapi secara struktural sudah menunjukkan perbaikan kinerja dari bulan ke bulan. Apalagi dengan pertumbuhan kredit mencapai 14% hingga Mei 2024.
“Kami memandang rencana berlanjutnya program penjualan aset-aset bermasalah pada semester II tahun ini diharapkan membuat NPL perseroan bisa turun drastis tahun ini,” tulisnya dalam riset yang dipublikasikan di Jakarta, hari ini.
Tak hanya itu, Mandiri Sekuritas menyebutkan, adanya rencana perubahan skema pembiayaan kredit kepemilikan rumah (KPR) bersubsidi dapat melambungkan kinerja keuangan dan saham BBTN ke depan. Hal ini menjadikan saham ini tetap layak dipertahankan beli.
BBTN sebelumnya mengusulkan penurunan jangka waktu tenor KPR hunian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dari semula 20 tahun menjadi 10 tahun. Perubahan skema ini tengah dibahas Sekretariat Ekosistem Perumahan. Nantinya subsidi bunga hanya diberikan untuk KPR selama 10 tahun dan sisanya dikenai suku bunga pasar. Hal ini mencerminkan tingkat pendapatan pembeli rumah sudah meningkat dan tentunya bisa menambah jumlah penerima manfaat subsidi perumahan ke depan.
Baca Juga
Tumbuh 14,38%, BTN Catat Penyaluran Kredit Rp 348,40 Triliun per Mei 2024
Sejumlah faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.800. Dengan harga penutupan saham BBTN level Rp 1.265, terbuka penguatan 42,2% atas sahamnya.
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis mengatakan, BTN berhasil menjaga laba bersih tetap bertumbuh hingga Mei 2024 menjadi Rp 1,16 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,15 triliun.
“Peningkatan laba tersebut didukung penurunan provisi lebih rendah, dibandingkan ekspektasi. Kenaikan laba juga didukung lompatan pendapatan operasional lainnya sebanyak 153%. Sedangkan biaya kredit turun dari semula 1,3% menjadi hanya 0,6% sampai Mei 2024,” tulisnya dalam riset harian yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa realisasi pendapatan bunga sampai Mei 2024 senilai Rp 12,45 triliun sudah sesuai estimasi atau merefleksikan 39%. Angka tersebut hampir sama dengan realisasi periode sama tahun lalu sebanyak 40%.
Baca Juga
Transaksi BTN Mobile Melesat 150%, Fitur Investasi Reksa Dana Dirilis
Begitu juga dengan perolehan laba bersih Januari-Mei 2024 senilai Rp 1,16 triliun telah merefleksikan 31% dari target tahun ini. Angka tersebut relatif hampir sama dengan pencapaian hingga Mei 2023 setara dengan 33%.
BRI Danareksa Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih BBTN menjadi Rp 3,72 triliun tahun ini, dibandingkan pencapaian tahun 2023 senilai Rp 3,50 triliun. Sedangkan pendapatan bunga diharapkan naik dari Rp 28,27 triliun menjadi Rp 31,65 triliun.
Isu Muamalat
Sementara itu, rencana BTN untuk menghentikan proses akuisisi Bank Muamalat juga diyakini menjadi katalis positif pergerakan saham ini ke depan. Pelaku pasar menilai eputusan tersebut menunjukkan sikap profesional dan independen BTN dalam melakukan aksi korporasi.
“Jika rumors itu benar, bahwa BTN batal akuisisi Muamalat karena mempertahankan valuasi hasil rekomendasi tim due diligence, ini kabar baik untuk investor. Bagaimanapun BTN merupakan perusahaan publik, jadi setiap keputusan strategis yang diambil, seperti merger dan akuisisi, harus melindungi kepentingan para pemegang sahamnya,” kata pengamat pasar modal Yazid Muammar.
Baca Juga
Genjot Dana Murah hingga Pertumbuhan Kredit, Tiga Sekuritas Pasang 'Buy' Saham BBTN
Menurut mantan analis Ajaib Sekuritas ini, akuisisi Muamalat menjadi rumit bukan karena valuasinya, tetapi justru karena keberadaan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai pemegang saham pengendali. “Ini tidak ada kaitannya dengan kondisi fundamental Muamalat. Bank ini punya sejarah panjang dan prospektif. Masalahnya sederhana, investasi BPKH tidak boleh rugi sementara BTN setelah melakukan due diligence menemukan valuasi yang berbeda dengan nilai investasi BPKH,” kata Yazid.
Dia menjelaskan, due diligence atau uji tuntas merupakan tahapan paling penting dalam proses sebuah akuisisi atau aksi korporasi. Calon investor akan menilai objek yang diakuisisi dari berbagai aspek, terutama sisi legal, valuasi dan harga wajar. “Dalam melakukan valuasi, tim appraisal BTN bukan hanya menghitung berapa harga wajarnya, juga mengkalkulasi seberapa besar suntikan modal baru ke bank hasil akuisisinya itu. Total suntikan modal yang perlu dialokasikan BTN tentu menjadi perhatian investor,” katanya.
Grafik Saham BBTN

