Bahlil: Total Investasi Hilirisasi Vale (INCO) Bisa Capai Rp 160 Triliun
JAKARTA, investortrust.id –Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia mengatakan, rencana investasi hilirisasi nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencapai Rp 160 triliun. Investasi ini digelontorkan untuk empat proyek.
“Yang pertama adalah Sorowako HPAL (menggunakan telnologi High Pressure Acid Leaching), bekerja sama dengan Huayou, untuk membangun pabrik HPAL dengan kapasitas 60.000 ton nikel (Ni)/tahun dalam bentuk MHP (Mixed Hydroxide Precipitate, bahan baku baterai kendaraan listrik). Vale akan menggandeng pabrikan otomotif atau non-Chinese investor lainnya, seperti POSCO, LG Chem, Ford, dan VW,” kata Bahlil di Jakarta, Senin (18/03/2024).
Baca Juga
Akuisisi Saham Vale, Luhut Langsung Bahas Hilirisasi Nikel ke Eropa dan AS
Nilai investasi yang akan dibenamkan mencapai Rp 30 triliun, baik untuk tambang maupun pabrik. Sedangkan konstruksi dimulai akhir 2023. Proyek hilirisasi ini akan menghasilkan produk nikel lebih lanjut hingga precursor.
Proyek kedua adalah SOA HPAL, yang belum ada realisasinya. Proyek ini baru tahap menyelesaikan eksplorasi tahap akhir. Sedangkan potensi pabrik HPAL minimal 60.000 ton Ni/tahun dalam bentuk MHP.
Proyek ini juga akan menggandeng international automaker atau non-Chinese investor lainnya. Nilai investasi Rp 30 triliun untuk pabrik dan tambang, dengan rencana hilirisasi lebih lanjut hingga memproduksi precursor.
Proyek ketiga adalah Pomalaa HPAL. Pabrik HPAL ini menghasilkan nikel dalam bentuk MHP dengan kapasitas hingga 120.000 ton Ni/tahun, bekerja sama dengan Huayou dan Ford.
Sedangkan nilai investasi menembus Rp 66 triliun untuk pabrik dan tambang. Konstruksinya sedang berjalan, yang diharapkan hilirisasi lebih lanjut menghasilkan hingga precursor.
Stainless Steel
Sedangkan proyek keempat adalah Bahodopi RKEF dan Stainless Steel. “Pabrik RKEF (berteknologi Rotary Kiln Electric Furnace) ini 73 kt – 80 kt Ni/tahun dalam FeNi (feronikel), bekerja sama dengan TISCO dan Xinhai,” ujar Bahlil.
Nilai investasinya mencapai Rp 34 triliun untuk pabrik dan tambang. Konstruksinya sedang berjalan.
Baca Juga
Akhirnya, MIND ID Kuasai Saham Vale, Erick Thohir: Momentum Bersejarah
“Ini akan menjadi RKEF dengan intensitas emisi karbon terendah kedua setelah Sorowako, karena tidak menggunakan batu bara, tetapi gas bumi. Ini hilirisasi lebih lanjut hingga stainless steel (baja nirkarat),” ucap Bahlil.
Sementara itu, pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, harga saham INCO tercatat naik 0,24%. Harga saham ditutup Rp 4.220 pada Senin (18/3/2024).

