Saham Bank Papan Atas Perkasa Pekan Ini, Penguatan bakal Berlanjut?
JAKARTA, investortrust.id – Lima bank papan atas berhasil mencatatkan lompatan harga pekan ini dengan rebound tertinggi dicatatkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencapai 6,52%. Sedangkan penguatan terendah dicatatkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai 4,35%.
Lompatan lima saham bank papan atas ini berimbas terhadap penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini sebanyak 2,16% menjadi 6.879,97. Lompatan indeks juga ditopang kenaikan pesat saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang dikendalikan Prajogo Pangestu.
Baca Juga
IHSG Ditutup Naik 60 Poin Ditopang Ketangguhan Saham Emiten Prajogo dan Bank Papan Atas
Data BEI mengungkap saham BMRI berhasil melesat 6,52% dari level dari Rp 5.750 menjadi Rp 6.125. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 6,22% dari level Rp 4.180 menjadi Rp 4.440. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 5,34% dari Rp 4.310 menjadi Rp 4.540.
Penguatan serupa melanda bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI ini, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan kenaikan 4,34% dari Rp 9.200 menjadi Rp 9.600. Terakhir PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), bank syariah terbesar di Tanah Air ini, menguat 6,14% dari Rp 2.280 menjadi Rp 2.420. Kenaikan juga melanda saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebanyak 3,31% menjadi Rp 1.250.
Selain mencatatkan penguatan harga pekan ini, pemodal asing terpantau mulai agresif memborong saham-saham bank papan atas tersebut. Di antaranya, net buy saham BBCA mencapai Rp 677,55 miliar, net buy BRIS capai Rp 77,07 miliar, net buy BMRI Rp 28,40 miliar, dan net buy BBNI Rp 8,38 miliar.
Sebaliknya pemodal asing masih melanjutkan penjualan bersih (net sell) BBRI sebanyak Rp 700,65 miliar pekan ini. Lanjutakan tersebut memicu total net sell saham BBRI month do date (mtd) telah lebih dari Rp 4 triliun.
Penguatan Berlanjut?
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Brandon Boedhiman dan Prasetya Gunadi sebelumnya mengungkapkan bahwa saham perbankan, khususnya bank BUMN, sudah oversold. “Kami meyakini bahwa saham bank papan atas, khususnya bank BUMN, sudah oversold. Penurunan laba bersih yang melanda emiten ini sudah terefleksi pada harga sahamnya, sehingga kami memberikan rekomendasi overweight saham-saham ini,” tulisnya dalam riset yang dipublikasikan beberapa waktu lalu.
Baca Juga
Saatnya Akumulasi, Kekhawatiran Pasar terhadap Saham BRI (BBRI) Berlebihan
Hal ini mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi saham BBCA dengan target harga Rp 10.800, saham BBRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 5.000, saham BMRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.100, dan saham BBNI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.620.
Brandon dan Prasetya menyebutkan bahwa bank dengan rasio CASA tinggi yang paling diuntungkan tahun ini, seiring dengan kemampuan untuk menjaga biaya dana tetap terkendali di tengah pengetatan likuiditas. BBCA menjadi bank yang paling mumpuni di tengah pengetatan likuiditas saat ini.
Sumber: Samuel Sekuritas
Sebaliknya rata-rata margin bunga bersih (NIM) empat bank tersebut menunjukkan penurunan sekitar 4 bps. “Kami memperkirakan NIM masih tertekan hingga akhir tahun ini. Hal ini mendorong kami untuk merevisi turun target pertumbuhan rata-rata empat bank tahun ini dari semula 9,5% menjadi 5,6% tahun ini,” terangnya.
Pandangan positif terhadap saham bank papan atas juga datang dari tim riset CGS International. Dalam riset terakhirnya CGS International tetap mempertahankan rekomendasi beli saham bank papan atas. Riset tersebut mengasumsikan penurunan NIM mulai terbatas setelah kuartal I-2024. Begitu juga dengan kualitas kredit diperkirakan turun.
Baca Juga
Lampaui Industri, Kredit Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 19,1% di Kuartal I-2024
Di antaranya saham BBCA direkomendasikan add dengan target harga Rp 10.900 dan BMRI direkomendasikan add dengan target harga Rp 7.100. CGS International juga merekomendasikan add saham BBRI dengan target harga Rp 6.500, saham BBNI direkomendasikan add dengan target harga Rp 5.700, dan saham BBTN direkomendasikan add dengan target harga Rp 1.850.
CGS International menyebutkan bahwa penurunan NIM diperkirakan mulai terbatas dalam beberapa kuartal mendatang, seiring dengan perkiraan kenaikan biaya dana lebih terkendali bersamaan dengan kenaikan bunga kredit. “Kami tidak memperkirakan adanya penurunan NIM lebih lanjut setelah kuartal I-2024,” terangnya.

