Ini Alasan Harga Bitcoin Cenderung Menurun dalam Seminggu Terakhir
JAKARTA, investortrust.id - Dalam seminggu belakangan ini harga Bitcoin (BTC) cenderung menurun, bahkan sempat berada di level terendahnya pada Senin kemarin (17/6/2024), yakni US$ 65.220,67. Penurunan ini disebut merupakan dampak dari meningkatnya arus keluar Bitcoin yang mencapai US$ 621 juta dan koreksi pasar lebih luas yang berdampak pada sentimen investor.
Melansir Cointelegraph, Selasa (18/6/2024), minggu lalu menandai siklus lima minggu arus masuk ke produk investasi kripto karena investor menarik sekitar US$ 600 juta. Hal ini disebabkan oleh sikap hawkish Dewan Kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat (AS) atau Federal Open Market Committee (FOMC) yang berpotensi menurunkan suku bunga acuannya.
“Seiring dengan periode arus masuk yang signifikan diikuti oleh pertemuan FOMC yang lebih hawkish dari perkiraan. Mendorong investor untuk mengurangi eksposur mereka ke aset persediaan tetap,” ujar Analis CoinShares James Buterfill.
Baca Juga
Kepala Unit Kripto SEC David Hirsch Mengundurkan Diri, Kenapa?
Sentimen paling buruk terfokus pada Bitcoin yang mengalami arus keluar sebesar US$ 621 juta. Hal sebaliknya terjadi pada Ethereum yang mencatatkan arus masuk sekitar US$ 13,1 juta. Arus keluar tinggi untuk Bitcoin tersebut menunjukan berkurangnya minat investor, yang akhirnya membebani harga Bitcoin itu sendiri.
Sementara itu, sejumlah alternative coin (altcoin) mencatatkan arus masuk seperti ethereum dan XRP. Dengan ini, beberapa altcoin telah mengungguli Bitcoin dalam seminggu terakhir. Meski Bitcoin menurun, namun masih mengungguli sebagian besar altcoin, termasuk Solana (SOL) dan BNB Chains (BNB).
Penurunan harga Bitcoin ini juga merupakan bagian dari upaya yang gagal untuk naik ke level yang lebih tinggi lagi, usai menguji resistensi utama dari level tertinggi sepanjang masa di US$ 69.000. Penghalang ini telah menopang harga BTC dalam 11 minggu belakangan.
Baca Juga
Kapitalisasi Pasar Kripto Global Turun 1,6%, Bitcoin Cs Masih Dalam Tren Melemah
Secara terpisah, Corporate Finance & Investor Relations Mobee Digital Asset Exchange Robertus Hardy menilai wajar saja apabila BTC sedang terkonsolidasi dan cenderung melemah, karena penguatan yang sudah cukup signifikan sejak setahun terakhir. Karena sentimen halving dan ETF sudah hampir sepenuhnya terfaktorkan.
“Untuk bisa melanjutkan penguatan ke depannya, kami melihat perlunya konsolidasi yang sehat,” ujarnya kepada Investortrust, Selasa (18/6/2024).
Selain itu, ia juga menghimbau investor aset kripto untuk lebih bisa melihat risiko yang mengikuti setiap kenaikan harga yang tinggi dalam waktu singkat. Oleh karena itu, ia melihat bahwa strategi buy on weakness dan dollar cost averaging (DCA) dapat menjadi pilihan bagi para investor aset kripto dalam menghadapi situasi pasar yang seperti sekarang ini.
Dengan strategi ini, investor dapat menantikan momentum pembalikan arah aset kripto menjelang akhir tahun hingga awal tahun depan. Di mana likuiditas diharapkan dapat lebih membaik seiring The Fed yang diperkirakan sudah bisa menurunkan suku bunganya secara bertahap.

