Morgan Stanley Nilai Saham Indonesia Underweight, Analis: Harus Jadi Evaluasi
JAKARTA, investortrust.id - Lembaga keuangan Amerika Serikat Morgan Stanley memangkas peringkat untuk saham-saham di Indonesia menjadi underweight. Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, hal ini perlu menjadi evaluasi bagi para stakeholder.
Pasalnya, walaupun Pemilu 2024 berjalan aman dan damai di Indonesia, proses transisi menuju pemerintahan baru yang memakan waktu lama akan menyebabkan para investor bersikap prudent atas beberapa program baru yang akan dicanangkan oleh pemerintahan baru. Presiden Terpilih Prabowo Subianto akan dilantik Oktober mendatang.
“Terkait dengan program-program Prabowo beserta implementasinya yang akan diterapkan nanti, kan setelah Oktober. Apa lagi, Prabowo tentunya juga akan menentukan menteri-menteri pilihannya sebagai pelaksana eksekutif, atau sebagai pelaksana fungsional. Itu memang membutuhkan waktu. Memang mesti prudent ya,” ujar Nafan pada investortrust.id, Kamis (13/6/2024).
Baca Juga
Layanan Kesehatan Inggris Sebut Kecanduan Kripto Kini Jadi Masalah Kesehatan di Negaranya
Terlebih lagi, proyeksi defisit Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 berkisar 2,45-2,82% terhadap produk domestik bruto (PDB). Nafan mengatakan, hal ini juga berkaitan dengan adanya utang jatuh tempo yang harus segera dituntaskan, dan belanja pemerintah yang lebih.
Di sisi lain, terdapat faktor penerapan suku bunga tinggi oleh global central bank di seluruh dunia. Ia berharap pelebaran defisit APBN tersebut harus dikurangi agar APBN lebih sehat.
Asing Lebih Prudent
Menurutnya, hal tersebut bukan hanya memengaruhi sikap dari investor domestik, namun juga investor asing. “Biasanya kan ini membuat asing juga bersikap lebih prudent. Kita so far juga mengalami net foreign sell. kalau secara year to date antara Rp 7-8 triliun,” ungkapnya.
Baca Juga
Pemerintah dan Komisi XI DPR Sepakati Asumsi Makro RAPBN Pertama Prabowo-Gibran
Kendati demikian, Nafan optimistis dalam tahun politik IHSG diproyeksi masih tumbuh positif. Di sisi lain, penerapan Full Call Auction (FCA) sempat memberikan dampak terhadap IHSG, yaitu investor cenderung beralih ke saham-saham yang tidak memiliki special notations seperti LQ45 dan Kompas100, yang membuat penurunan performa dari kapitalisasi pasar.
“Kalau di tahun politik seharusnya IHSG itu secara ytd bisa tumbuh positif, misalnya tahun 2004 dan 2009. Saya masih optimistis IHSG bisa mencatatkan kinerja yang positif di tahun ini,” tutur Nafan.
Baca Juga
Ia menuturkan, bahwa kebijakan pemerintah harus mendapatkan dukungan juga dari para pemegang kepentingan, dengan menerapkan kebijakan pro-growth, pro-jobs, pro-stability, pro-poor, pro-environment, dan pro-market. Ini agar target performa IHSG yang positif dapat dicapai, yang mana secara teknikal resistance IHSG ada di level 7.455.
Di sisi lain, Nafan mengatakan bahwa kebijakan bursa juga harus lebih diperketat, misalnya dari faktor perusahaan yang akan melakukan initial public offering (IPO) harus lebih selektif. “Jadi emiten-emitennya berkualitaslah yang bisa menjalankan IPO, karena tujuan bursa kan untuk melindungi kepentingan investor,” paparnya.
Oleh sebab itu, Nafan optimistis bahwa pada semester II ini, kinerja ekonomi Indonesia akan lebih positif. Ini dipengaruhi oleh momentum penurunan suku bunga oleh The Fed yang memengaruhi produk domestik bruto Indonesia berada dalam peak level.
“Ini pun secara historical memang terjadi, karena dipicu oleh strong domestic consumption. Apalagi pemilu terdapat strong government spending. Itu juga harusnya masih ada harapan menjadi katalis positif,” ujar analis Mirae Sekuritas tersebut.
Prospek Emiten Positif
Menurutnya, prospek emiten di Indonesia saat ini masih postif. Hal ini bisa menjadi potensi positif bagi investor untuk melakukan accumulative buy pada beberapa saham pilihan, seperti BBNI, BMRI, BSDE, EMTK, ICBP, INDF, KLBF, MAPA, MDKA, PWON, dan SMRA.
Terlebih lagi, didukung adanya Prabowo effect, di mana IHSG sempat berada di zona positif usai pasangan calon 02 Prabowo-Gibran Rakabuming Raka berhasil memenangkan pemilu. Hal ini berpotensi mendongkrak performa IHSG.
“Dengan menerapkan kebijakan pro-jobs, pro-poor, pro-environment, dan pro development, tetap potensi IHSG untuk bangkit masih ada. Saya optimistis IHSG bisa mencatatkan pertumbuhan year to date positif di tahun Ini,” tandas dia.
Pada kesempatan lain, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan, indeks harga saham gabungan pada bulan Mei 2024 terkoreksi 4,15% year to date ke level 6.970,74. Indeks melemah 3,64% month to date.
“Di pasar saham, IHSG terkoreksi 4,15% ytd ke level 6.970,74, melemah 3,64% mtd. Kapitalisasi pasar sebesar Rp 11.825 triliun atau naik 1,29% ytd, dan membukukan net sell Rp 6,25 triliun ytd,” ujar Inarno dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan & Kebijakan OJK Hasil RDK Bulanan Mei 2024 secara daring, Senin (10/6/2024).
