Perlambatan Inflasi AS Pacu Sentimen Investor, Harga Kripto Berbalik Menguat
JAKARTA, investortrust.id – Perdagangan pasar kripto Kamis (13/6/2024) pagi ini ceria usai turun cukup dalam pada perdagangan sehari sebelumnya. Penguatan terjadi hampir ke seluruh aset kripto setelah data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) yang mereda meningkatkan kepercayaan pasar dan menambah spekulasi mengenai sikap dovish bank sentral AS atau The Fed.
Menilik data Coinmarketcap, Kamis (13/6/2024) pukul 07.00 WIB, harga Bitcoin (BTC) menguat 1,38% dalam sehari dan diperdagangkan pada US$ 68.249,47. Sektor alternative coin (altcoin) juga mencatat pemulihan kuat. Harga Ethereum naik 1,75% menjadi US$ 3.559,21, BNB naik 2,73% ke US$ 619,04, sementara Solana naik sekitar 3,83% menjadi US$ 155,15, dan XRP juga menguat 2,34% ke US$ 0,49%.
Secara keseluruhan kapitalisasi pasar kripto global adalah US$ 2,49 triliun, meningkat 1,97% dibandingkan hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 88,99 miliar, turun 5,75%. Total volume di DeFi saat ini US$ 6,58 miliar, 7,39% dari total volume pasar kripto 24 jam.
Baca Juga
Investor Kripto Meningkat, Peran Influencers dan Potensi Pasar Jadi Faktor Pendorong
Volume semua koin stabil sekarang mencapai US$ 82,54 miliar, yang merupakan 92,75% dari total volume pasar kripto 24 jam. Adapun dominasi Bitcoin saat ini sebesar 54,10%, turun 0,36% sepanjang hari.
Sebagai informasi, data CPI AS yang paling ditunggu menunjukkan bahwa inflasi AS tetap stabil sebesar 0,3% di bulan Mei, melebihi perkiraan pasar. Para pengamat pasar sangat menantikan data ini untuk menilai kesehatan ekonomi dan potensi kebijakan suku bunga The Fed.
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI AS tetap stabil di 0,3% pada bulan Mei. Pasar sebelumnya mengantisipasi inflasi akan turun sebesar 0,1%. Secara tahunan, inflasi CPI menurun menjadi 3,3% di bulan Mei dari 3,4% di bulan sebelumnya.
CPI Inti, yang tidak termasuk harga pangan dan energi, turun menjadi 0,2% di bulan Mei dari 0,3% di bulan sebelumnya. Secara tahunan, CPI Inti menunjukkan penurunan inflasi menjadi 3,4% dari 3,6% di bulan April. Penurunan ini memicu optimisme pasar. Data inflasi yang menurun ini meningkatkan sentimen pasar, terutama setelah data Pekerjaan AS yang kuat minggu lalu.
Baca Juga
Penurunan inflasi CPI AS telah meningkatkan sentimen investor, terlihat dari reli di pasar kripto dan harga Bitcoin. Data yang bullish ini menambah ekspektasi pasar akan sikap dovish The Fed dalam kebijakan suku bunganya.
Markus Thielen dari 10X Research sebelumnya memperkirakan bahwa jika CPI AS turun menjadi 3,3%, BTC dapat melonjak lebih dari 4%. Setelah rilis CPI, Imbal Hasil Obligasi 10-tahun AS turun 2,81% menjadi 4,278, dan Indeks Dolar AS Berjangka turun 0,97% menjadi US$ 104,175.
Selain itu, The Fed kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50% untuk ketujuh kalinya secara beruntun pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (13/6/2024). The Fed juga mengisyaratkan hanya akan menurunkan suku bunga sekali pada tahun ini dengan besaran 25 basis poin (bps).
The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mengerek suku bunga sebesar 525 bps sejak Maret 2022 hingga Juli 2023. Mereka kemudian menahan suku bunga di level 5,25-5,50% pada September, November, Desember 2023, Januari 2024, Maret 2024, Mei 2024, dan Juni 2024. Artinya, suku bunga di level 5,25-5,50% sudah bertahan dalam setahun terakhir.
"Kami melihat laporan hari ini (inflasi yang melandai) sebagai kemajuan dan bisa membangun rasa percaya diri. Namun, kepercayaan diri kami belum sampai pada tahap membenarkan keputusan untuk mulai melonggarkan kebijakan pada saat ini," ucap Ketua The Fed Jerome Powell pada saat konferensi pers usai rapat FOMC, dikutip dari CNBC International.
