OJK: Sebagian Besar Kekuatan Pasar Modal Ditentukan oleh Fundamental Emiten, Tak Hanya dari Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa sebagian besar kekuatan dari pasar modal yang ada di negara-negara utama justru ditentukan oleh fundamental dari perusahaan atau emitennya.
"Sebagian besar kekuatan dari pasar modal yang ada di negara-negara itu justru ditentukan oleh fundamental dari perusahaannya, dari emitennya. Bukan melulu dari perkembangan ekonomi makronya," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam acara Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) 2024 yang bertajuk "Menuju Indonesia Emas 2045" di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Jakarta, Senin (10/6/2024).
Lebih lanjut, Mahendra pun menggambarkan apa yang saat ini terjadi di Jepang. Ia menjelaskan, dengan kondisi yang tetap penuh dengan tantangan, bahkan nilai tukar mata uang yang sudah mencapai yang terendah sepanjang sejarah, namun pasar modal Negeri Matahari Terbit tersebut masih cukup kuat.
Baca Juga
Bos OJK Sebut Masa Transisi Pemerintahan Baru Saat Ini Menjadi yang Termulus Sejak Reformasi
"Tapi apa yang kita lihat growth story dari Jepang di pasar modalnya, persis yang seperti ditekankan tadi adalah karena terjadinya reformasi governance, yang mendorong dari emiten, perusahaan publik, untuk lebih mengoptimalkan value dari para pemegang sahamnya. Antara lain memang mereka bicara tentang kemungkinan excess liquidity yang dilakukan untuk buyback saham. Tapi itu kondisi Jepang," ungkapnya.
Sedangkan di Amerika dengan guncangan yang mungkin tidak sebesar Jepang atau negara lain, kata Mahendra, lagi-lagi kekuatan besar yang terjadi di pasar modal dan terutama kinerja yang tercermin adalah karena apa yang disebut dengan kinerja beberapa perusahaan teknologi yang masuk dalam kelompok yang disebut Magnificent Seven (Nvidia, Meta, Tesla, Apple, Alphabet, Amazon, dan Microsoft).
"Jadi apapun yang terjadi di makronya, selama kondisi fundamental tata kelola kinerja dari emitennya, perusahaan publiknya kuat, maka pertumbuhan pasar modal lanjut," imbuhnya.
Di sisi lain, Mahendra menyampaikan, Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi makro yang tinggi, inflasi terkendali baik, dan stabilitas keuangan yang juga relatif baik.
"Kondisi ekonomi makro kita very strong, pertumbuhannya, inflasinya, kalau masuk ke fiskal tadi, defisitnya, sustainability-nya. Jadi ada apa kalau kemudian tidak tumbuh pasar modal kita?. Balik ke yang saya sampaikan di depan, it's the fundamentals dari para emiten. Apa isunya itu?. Antara lain tentu kinerjanya yang tadi disebut dengan beberapa kriteria, kedua governance-nya, ketiga conduct-nya, keempat pelindungan investor dan masyarakat. Karena ini adalah long term commitment, bukan peristiwa tabrak lari," jelasnya.

