Emas Variatif Jelang Rapat Suku Bunga The Fed, Berikut Kisaran Harganya
JAKARTA, investortrust.id - Harga emas terjun bebas beralih ke zona US$ 2.299 setelah data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS) yang rilis pada minggu lalu menunjukkan ekonomi AS memanas dengan bertambahnya 272 ribu pekerjaan pada bulan Mei, jauh melampaui ekspektasi.
Laporan Biro Statistik AS menunjukkan kenaikan penghasilan per jam rata-rata sebesar 4,1% secara year on year. Namun, tingkat pengangguran naik menjadi 4,0% dari angka 3,9% sebelumnya. Data tersebut mengindikasikan adanya inflasi upah yang dapat memicu inflasi inti dan inflasi umum yang lebih tinggi, sehingga hal tersebut berpotensi menyebabkan bank sentral Amerika untuk menunda pemangkasan suku bunganya.
"Suku bunga yang tinggi untuk waktu yang lebih lama adalah sentimen yang negatif bagi emas karena meningkatkan opportunity cost untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil," tulis riset ICDX, Senin (10/6/2024).
Menilai dari sisi teknis, harga emas berpotensi menemui resistance terdekat pada level US$ 2.387. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga emas berpotensi menemui support terdekat pada level US$ 2.266.
Baca Juga
Harga emas turut mengalami tren penurunan setelah berita bahwa cadangan Emas di People’s Bank of China (PBoC) tidak berubah pada 72,8 juta troy ons pada akhir Mei, sama persis dengan akhir April, memperlihatkan penghentian pembelian emas oleh PBoC pada bulan Mei, setelah sebelumnya konsisten dalam pembelian emas selama 18 bulan.
Pembelian emas oleh bank sentral, utamanya di Asia, saat ini menjadi pendorong signifikan harga emas. Bank sentral negara-negara Asia dan pasar berkembang telah menimbun cadangan Emas sebagai sarana lindung nilai terhadap devaluasi mata uang mereka sendiri, terutama terhadap dolar AS (USD).
Baca Juga
Pada tingkat global, ekspektasi suku bunga menurun setelah Bank of Canada (BoC) memangkas suku bunga menjadi 4,75% dari 5,00% dan diikuti oleh Bank Sentral Eropa (ECB) sehari setelahnya. Data inflasi yang menunjukan angka yang rendah di Swiss pun memicu spekulasi bahwa Bank Nasional Swiss (SNB) juga berpotensi memangkas suku bunganya dalam waktu dekat.
Saat ini para pelaku pasar akan memantau beberapa data inflasi AS yang akan rilis minggu depan, serta pertemuan Federal Reserve (Fed) perihal kebijakan moneter. Pidato para pejabat The Fed pun berpotensi menjadi tolak ukur para pelaku pasar akan kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS diperkirakan akan tetap stabil, tetapi percepatan kembali dapat memicu kerugian lebih lanjut bagi logam mulia.

