Ekonom DBS Perkirakan Inflasi dan Suku Bunga Tahun Ini di Kisaran Segini
JAKARTA, investortrust.id – Inflasi 2024 diperkirakan melandai ke level 2,8% secara tahunan (year on year/yoy). Namun, pada paruh pertama tahun ini, inflasi diprediksi sedikit memanas ke level 3,0-3,5%.
“Dengan kondisi inflasi yang terjaga rendah pada semester II-2024, suku bunga riil bakal berada dalam teritori positif,” kata Senior Economist Bank DBS, Radhika Rao dalam keterangan resmi, Jumat (9/2/2024).
Meski demikian, menurut Radhika, suku bunga riil di dalam negeri pada semester I-2024 diprediksi sedikit menyempit. “Dengan inflasi diperkirakan meningkat pada paruh pertama 2024, suku bunga riil positif akan menyempit dari 3,0-3,5% menjadi 2,5-2,8%,” ujar dia.
Baca Juga
Secara keseluruhan, kata Radhika, inflasi di dalam negeri yang terjaga rendah tahun ini, terutama pada semester II, menyisakan cukup ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan, BI-Rate.
Pada pertengahan Januari lalu, BI mempertahankan BI-Rate di level 6%. Bank Sentral diperkirakan memangkas BI-Rate sebanyak tiga kali pada paruh kedua 2024.
Radhika menambahkan, pemerintah dan BI sukses menjaga inflasi tahun lalu di bawah 3% (yoy). Biaya pangan yang lebih tinggi berhasil diimbangi langkah-langkah administratif proaktif dan langkah-langkah ketahanan pangan, selain meningkatkan impor beras.
Dia mengakui,selisih suku bunga The Fed dengan BI-Rate saat ini sangat tipis. Fed funds rate (FFR) kini berada di level 5,25-5,50% dibanding BI-Rate di posisi 6,0%. “Kondisi itu meyakinkan para investor asing untuk memantau lingkungan makro secara bersama,” tutur dia.
Baca Juga
Radhika mengemukakan, selain prospek inflasi yang mendukung, penyesuaian ekspektasi penurunan suku bunga AS telah membuat imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN) mengalami konsolidasi setelah terkoreksi tajam pada akhir tahun lalu. Alhasil, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 15.500-15.700 per dolar AS.
“Dengan latar belakang ini, bank sentral sepertinya tidak akan memiliki dorongan dalam waktu dekat untuk memberikan panduan lunak atau melakukan pelonggaran kebijakan, sampai ada kejelasan mengenai perkembangan eksogen,” papar dia.

