Resmi Listing, Saham Benteng Api (BATR) Menguat 10%
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan penyedia produk refractori, PT Benteng Api Technic Tbk (BATR) resmi mencatatkan sebanyak saham perdana (listing) di Bursa Efek Indonesia, Senin (10/6/2024).
Pendatang baru dengan kode saham BATR tersebut listing dengan harga perdana Rp 110 per saham. Sesaat setelah listing, pukul 09.01 WIB, saham BATR mengalami penguatan sebesar 10,91% ke level Rp 122 per saham.
Dalam hajatan ini, Perseroan menawarkan maksimal sebanyak 620 juta saham baru dengan nilai nominal Rp 20 per saham. Jumlah saham baru yang ditawarkan mewakili 20,5% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan setelah IPO.
Direktur Utama PT Benteng Api Technic Tbk (BATR) Ridwan Sumadi mengatakan, dari hasil pooling IPO, pihaknya mencatat kelebihan permintaan atau oversubscribed sebesar 140,52 kali. ‘’Hasil ini menunjukan minat yang tinggi pelaku pasar terhadap saham BATR.’’ Urai Ridwan dalam seremoni listing BATR di Jakarta, Senin (10/6/2024).
Baca Juga
Benteng Api Technic Patok Harga IPO Rp 110, Begini Rencana Penggunaan Dananya
Lebih lanjut, Perseroan berhasil meraup dana hasil IPO Rp 68,20 miliar. Aksi korporasi ini dibantu oleh PT KGI Sekuritas Indonesia sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek.
Bersamaan dengan listing Saham, Perseroan juga mencatatkan menerbitkan Waran Seri I sebanyak 620 juta atau sebanyak 25,78% dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh pada saat Pernyataan Pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum Saham Perdana disampaikan.
Waran Seri I yang menyertai penerbitan Saham Baru adalah Efek yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk melakukan pembelian Saham Biasa Atas Nama yang bernilai nominal Rp20 setiap sahamnya dengan Harga Pelaksanaan sebesar Rp 300, sehingga seluruhnya sebesar Rp 186 miliar.
Ridwan menyebut, IPO ini menjadi momen penting bagi Perseroan pasalnya saat ini berdasarkan data dari 6wresearch.com, Pasar Refraktori Indonesia mencatat pertumbuhan tingkat pengiriman sebesar 78,34% pada 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan diperkirakan akan mencatatkan pertumbuhan CAGR sebesar 4,7% hingga tahun 2026.
Menurut Ridwan, Indonesia cenderung mengandalkan impor untuk memenuhi permintaan pasar refraktori yang terus meningkat. Faktor impor Pasar Refraktori pada 2021 sebesar US$204,63 juta sedangkan pada 2017 sebesar US$151,06 juta.
Adapun China, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan Austria termasuk di antara pemain pasar teratas pada tahun 2021, di mana China memperoleh pangsa pasar terbesar sebesar 88,12% dengan nilai pengiriman sebesar US$174,84 juta.
Baca Juga
Pasar ini terutama didorong oleh meningkatnya permintaan produk refraktori di berbagai industri seperti industri baja, industri nickel, industri tembaga, industri pupuk dan petrokimia, industri semen, Industri kaca, industri keramik, industri minyak kelapa sawit, industri makanan dan minuman, industri pembangkit listrik dan sebagainya.
“Peningkatan produksi besi & baja, nikel smelter dan berbagai macam smelter ditambah dengan meningkatnya permintaan akan konservasi energi telah diidentifikasi sebagai salah satu pendorong utama meningkatnya pasar Refraktori di Indonesia. Hal itu tentu sejalan dengan optimisme kami untuk dapat terus bertumbuh ke depannya,” ujar Ridwan.
Rencananya dana hasil IPO sebesar 36,65% atau sekitar Rp 24,90 miliar akan digunakan untuk pembelian tanah dan bangunan dari pihak terafiliasi di Surabaya dan Gresik, Jawa Timur.
Sekitar 10,02% atau sebesar Rp 6,44 miliar untuk pembangunan dan perbaikan bangunan yaitu penyelesaian bangunan, sekitar 5,67% atau Rp 3,65 miliar untuk pembelian peralatan laboratorium baru.
Selanjutnya, sekitar 6,84% atau sebesar Rp 4,4 miliar untuk pembelian mesin produksi baru dan sisanya sekitar 38,82% akan digunakan sebagai Operational Expenditure (OPEX) berupa persediaan barang jadi dan bahan baku.

