Kerek Tenancy Ratio, Mitratel (MTEL) Lakukan Strategi Berikut
JAKARTA, investortrust.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menargetkan tenancy ratio Menara telekomunikasi mencapai 1,7-1,8 kali pada tahun 2025, dibandingkan posisi saat ini sekitar 1,52 kali. Pertumbuhan akan didorong penyewaan Menara telekomunikasi perseroan di luar pulau Jawa.
Direktur Utama Mitratel (MTEL) Theodorus Ardi Hartoko mengatakan, guna mendongkrak tenancy ratio, perseroan menggencarkan analisa pasar untuk menarik minat operator telekomunikasi masuk ke daerah tersebut. Kurang dari 6.000 menara telekomunikasi berlokasi di kawasan banyak penduduk dengan ekonomi tergolong baik.
Baca Juga
Akuisisi Menara dan Fiber Optik Rp 1,86 Triliun, Saham Mitratel (MTEL) Kian Menarik
“Keunggulan tersebut ditawarkan ke sejumlah operator telekomunikasi untuk perluasan jaringan ke daerah tersebut,” terangnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Strategi kedua, dia mengatakan, perseroan mencoba menyamakan strategi perluasan jaringan yang sedang digencarkan operator telekomunikasi, seperti Sumatra dan Indonesia Timur. Perseroan mengoptimalkan pemasaran menara telekomunikasi yang ada di kawasan terebut.
Terkait tenancy ratio saat ini, Theodorus yang akrab disapa Teddy ini mengatakan, MTEL masih berada di bawah industri mencapai 1,5 kali, dibandingkan industri sekitar 1,8-19 kali. “Kita memiliki sebanyak 38 ribu menara telekomunikasi dengan jumlah tenan 54 ribu, artinya satu menara masih ada peluang kenaikan 0,5 kali,” terangnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Baca Juga
BFI Finance (BFIN) Bagikan Dividen Interim Rp 421,10 Miliar, Simak Jadwal Ini
Kondisi tersebut membuat beberapa menara telekomunikasi perseroan masih memiliki ruang yang cukup untuk disewa operator telekomunikasi. Hal ini menjadi sumber pertumbuhan pendapatan perseroan ke depan.
Tenancy ratio adalah perbandingan jumlah penyewa atau pengguna lainnya, dibandingkan jumlah menara telekomuniasi provider infrastruktur telekomunikasi. Semakin besar tenancy ratio, semakin produktif setiap menara dalam menghasilkan pendapatan.
Dua Digit
Teddy mengatakan, perseroan telah berhasil membelanjakan dana hasil IPO saham lebih cepat dari target yang ditetapkan. Dampaknya jumlah menara telekomunikasi perseroan melesat dari awal 28 ribu menjadi 38 ribu unit. Sedangkan tenan melesat dari 42 ribu menjadi 57 ribu.
“Pertumbuhan jumlah menara dan pelanggan tersebut berimbas terhadap peningkatan pendapatan dan laba bersih perseroan hingga dua digit,” terangnya di Jakarta, belum lama ini.
Pertumbuhan pesat tersebut, terang dia, ditopang pendekatan dua strategi, yaitu pertumbuhan organic dan anorganik. Pertumbuhan organik dilakukan dengan agresif mencari peluang sumber pertumbuhan baru.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Kembali Akuisisi 803 Menara, Manajemen Ungkap Keunggulan Ini
“Pendekatan pertumbuhan organik dilakukan dengan melihat sejumlah opportunity. Selama kesempatan tersebut memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, kami agresif menggarapnya,” terangnya.
Sedangkan pertumbuhan anorganik melalui sejumlaha akuisisi. Menurut dia, perseroan baru saja mengakuisisi sebanyak 803 menara dengan tenak 1.327 menara. Sebanyak 72% dari menara terletak di luar pulau jawa dan sisanya di pulau Jawa.
“Aksi akusisi ini diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan kuat perseroan tahun 2024, meskipun kondisi ekonomi diperkirakan masih menghadapi sejumlah tantangan tahun depan,” terangnya.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Akuisisi Fiber Optik 967,1 Km, Nilainya Segini
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan dan Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengatakan, perseroan tidak sembarangan saat mengakuisisi aset. “Kita tak sembarangan saat mengakuisisi. Setiap akuisisi sudah harus menghasilkan revenue bagi perseroan di hari pertamanya. Akuisisi juga harus memiliki potensi tambahan nilai ke depan,” terangnya.
Sebelum dilakukan akuisisi, dia mengatakan, Mitratel menggelar due digiligence secara detil dan kuat. Selama due diligence dikaji potensi pendapatan aset tersebut dalam jangka panjang.

