Usai Melemah di Kuartal I, Bagaimana Prospek Emiten Batu Bara Selanjutnya?
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja keuangan mayoritas emiten pertambangan batu bara sepanjang kuartal I-2024 di bawah konsensus. Rendahnya pencapaian dipicu atas volume penjualan yang lebih rendah dari perkiraan dan berlanjutnya penurunan rata-rata harga jual.
Analis CGS International Sekuritas Nathania Giovanna Adjie dan Jacquelin Hamdani dalam riset yang dipublikasikan pekan ini menyebutkan bahwa rata-rata volume penjualan emiten batu bara turun sekitar 1-26% pada kuartal I-2024, dibandingkan kuartal IV-2023. Begitu juga dengan penjualan batu bara thermal turun sekitar 1-10% pada kuartal I-2024, dibandingkan kuartal IV-2023.
Baca Juga
Siapkan Capex hingga US$ 700 Juta, Adaro Energy (ADRO) Beberkan Investasi Ini
Secara emiten, CGS Sekuritas menyebutkan, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi emiten dengan penurunan kinerja paling dalam akibat jatuhnya rata-rata harga jual. Begitu juga dengan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan penurunan kinerja dan penjualan akibat penundaan pengapan. Sedangkan emiten dengan penjualan yang lampaui estimasi adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADMR) didukung peningkatan harga jual batu bara thermal.
Berdasarkan data volume penjualan batu bara ADRO mencapai 16,5 juta ton pada kuartal I-2024, dibandingkan kuartal IV-2023 sebanyak 16,6 juta ton. Sedangkan PTBA mencapai 9,7 juta ton, dibandingkan kuartal akhir 2023 sebanyak 10 juta ton.
Baca Juga
Indo Tambangraya (ITMG) Ungkap Penyebab Laba Turun 66% Jadi US$ 61 Juta di Kuartal I-2024
Begitu juga dengan volume penjualan ITMG turun sebanyak 11% dari 5,6 juta ton kuartal akhir 2023 menjadi 5 juta ton pada kuartal I-2024. Sedangkan volume penjualan ADMR turun dari 1,5 juta ton menjadi 1,1 juta ton.
Terkait harga jual, rata-rata harga jual batu bara ADRO turun dari US$ 89 per ton pada kuartal IV-2023 menjadi US$ 86,1 juta ton pada kuartal I-2024. Begitu juga dengan PTBA anjlok 10% dari US$ 68,8 per ton menjadi US$ 62 per ton, ITMG turun dari US$ 97,8 menjadi US$ 97 per ton. Sebaliknya ADMR catatkan kenaikan harga jual dari US$ 252 per ton menjadi US$ 261,5 per ton.
“Melihat realisasi tersebut, kami memperkirakan volume penjualan batu bara diperkirakan bertumbuh untuk kuartal selanjutnya. Namun rata-rata harga jual masih cenderung turun. Hal ini diperkirakan membuat margin keuntungan akan turun pada kuartal selanjutnya,” terangnya dalam riset yang dipublikasikan tersebut.
Baca Juga
Yield 13,6%, Ini Jadwal Lengkap Dividen Jumbo PTBA Rp 4,57 Triliun
Kondisi tersebut mendorong CGS International mempertahankan peluang berlanjutnya bearish atas saham sektor batu bara. Sedangkan sentiment positif datang dari peningkatan permintaan selama musim panas kuartal II-2024. Dengan saham pilihan teratas ADRO dan ADMR yang direkomendasikan hold. Sebaliknya saham PTBA dan ITMG direkomendasikan reduce.
Grafik Saham Batu Bara

