PT RMK Energy Tbk (RMKE) Lirik Layanan Logistik Komoditas Nikel
JAKARTA, investortrust.id – PT RMK Energy Tbk (RMKE) mengungkap strategi perusahaan menghadapi era transisi energi, salah satunya dengan merambah bisnis komoditas lain seperti nikel.
Direktur Utama RMKE Vincent Saputra mengatakan, manajemen berniat mengubah sumber pendapatan agar tidak lagi 100% berasal dari komoditas batu bara.
“Ada beberapa yang sedang kami pelajari, misalnya nikel dan bijih besi. Material-material seperti itu karena pengangkutannya, infrastrukturnya, cara lainnya itu sangat mirip dengan batu bara,” jelas dia di kantor Investortrust.id, Rabu (22/5/2024).
Meski keberadaan komoditas yang Vincent sebut tidak ada di Sumatera Selatan (Sumsel), manajemen mengaku telah melakukan survei atau mempelajari bisnis nikel dan bijih besi yang sumbernya ada di Kalimantan dan Sulawesi.
Sekadar mengingatkan, saat ini RMKE masih menjadi penyedia jasa logistik batu bara terbesar di Sumsel. Bersinergi dengan PT KAI, RMKE menyediakan jasa angkutan batu bara terintegrasi melalui jalur kereta api dari kabupaten penghasil batu bara di Lahat dan Muara Enim, Sumsel.
Baca Juga
RMK Energy (RMKE) Bidik Penjualan Batu Bara 3,5 Juta MT, Begini Pergerakan Harga Sahamnya
Selain menyediakan jasa angkut batu bara, RMKE menjalankan bisnis perdagangan batu bara, manajemen pelabuhan batu bara, dan pengelolaan tambang batu bara.
“Makanya dalam beberapa tahun ke depan, kami memaksimalkan aset kami agar punya cashflow yang cukup sehat. Dengan cashflow stabil beberapa tahun, di situ baru kami pakai untuk ekspansi ke industri-industri lain,” sambung Vincent.
Manajemen meyakini prospek bisnis di industri batu bara masih akan menghasilkan, minimal 10-15 tahun mendatang. Dengan begitu, Vincent mengaku akan memaksimalkan kesempatan tersebut untuk mengumpulkan modal diversifikasi bisnis ke komoditas lain.
“Saat itu, harapan kami adalah memanfaatkan aset-aset fossil fuel, sambil pelan-pelan bertransisi jadi perusahaan energi terkemuka namun dengan bahan lain atau ke komoditas lain,” jelasnya.
Dia percaya, bisnis perusahaannya tidak mudah punah di tengah era transisi energi. Sebab, bisnis dasar RMKE adalah perusahaan teknik (engineering) yang membangun pelabuhan hingga stasiun bongkar muat, serta infrastruktur lain.
Baca Juga
Sanksi Regulator Berakhir, RMK Energy (RMKE) Optimistis Kinerja 2024 Melesat
Sedangkan bisnis tambang batu bara baru diakuisisi oleh perusahaan sekira tahun 2019-2020. “Tetapi kami di industri infrastruktur dan logistik ini sudah lebih dari 25 tahun itu bisa dipakai ke komoditas lainnya, tidak hanya batu bara,” tegas Vincent.
Sebagai negara berkembang yang besar, dia percaya bahwa suatu saat Indonesia akan menjadi negara maju. Namun melihat pertumbuhan populasi saat ini, yang turut meningkatkan aktivitas manufaktur hingga kebutuhan energi, Indonesia terlihat masih membutuhkan batu bara.
Tak hanya murah, suplai komoditas energi tersebut juga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang banyak.
“Kalau cari murah saja, mini hidro atau hidro power murah. Namun realitasnya negara dengan musim kemarau panjang membuat suplai tidak stabil. Ini butuh waktu sampai finding the right balance between renewable dan non-renewable,” tutur Vincent. (CR-10)

