IHSG Rebound 41 Poin, Saham BIPI, GDYR, hingga BBYB Melesat
JAKARTA, investortrust.id– Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Rabu (22/5/2024), ditutup rebound dengan kenaikan 41,66 poin (0,58%) menjadi 7.227,70. Pergerakannya berada dalam rentang 7.185,68-7.239,86 dengan nilai transaksi Rp 5,06 triliun.
Penguatan indeks didukung kenaikan sejumlah sektor saham, seperti sektor teknologi 2,06%, sektor energi 1,55%, sektor consumer non primer 0,83%, sektor kesehatan 0,66%, dan sektor keuangan 0,38%. Sebaliknya pelemahan melanda saham sektor material dasar 0,23% dan sektor industry 0,04%.
Baca Juga
Berbalik Laba, Prospek dan Target Saham Bank Neo (BBYB) Ini Menggiurkan
Di tengah rebound IHSG, lima saham berikut torehkan lompatan harga, yaitu saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) naik Rp 18 (29,51%) menjadi Rp 79, PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) naik Rp 320 (22,86%) menjadi Rp 1.720, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) naik Rp 44 (18,97%) menjadi Rp 276, PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV) naik Rp 11 (14,10%) menjadi Rp 89, dan PT Trimuda Nuansa Citra Tbk (TNCA) menguat Rp 21 (13,38%) menjadi Rp 178.
Sebaliknya lima saham dengan pelemahan paling dalam sesi I, yaitu saham PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) menjadi Rp 66, PT Jaya Trishindo Tbk (HELI) menjadi Rp 525, PT Remala Abadi Tbk (DATA) menjadi Rp 308, PT Indo Boga Sukses Tbk (IBOS) menjadi Rp 163, dan PT Wijaya Cahaya Timber Tbk (FWCT) menjadi Rp 151.
Kemarin, bursa saham Wall Street ditutup menguat didukung kenaikan indeks Dow Jones 0,17%, S&P500 menguat hingga 0,25%, dan indeks Nasdaq melesat 0,22%.
Baca Juga
Market Cap Tembus Rp 1.501 Triliun, Simak Fakta Barito Renewables (BREN) Ini
Sedangkan IHSG BEI kemarin ditutup kembali anjlok sebanyak 80,65 poin (1,11%) menjadi 7.186,04. Pelemahan tersebut dipicu atas koreksi sebanyak 350 saham, 213 saham ditutup stagnan, dan hanya 211 saham naik.
Penurunan indeks kemarin dipengaruhi atas kejatuhan saham-saham empat emitan bank papan atas. Kejatuhan juga dipicu aksi penjualan bersih (net sell) lebih dari Rp 1 triliun yang sebagian besar melanda saham emiten bank papan atas.
Grafik IHSG

