Listing di Bursa, Saham Xolare RCR Energy (SOLA) Sempat Melejit 30%
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan perdagangan aspal dan bisnis konstruksi, PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) resmi mencatatkan saham perdana (listing) sebagai emiten ke-24 sepanjang tahun 2024 di Bursa Efek Indonesia, Rabu (8/5/2024).
Jumlah saham yang dicatatkan sebanyak 3,28 miliar saham, di mana 2,62 miliar lembar saham merupakan saham pendiri, dan 656,25 juta lembar saham merupakan saham baru yang dikeluarkan dari portepel Perseroan dengan nilai nominal Rp 20 setiap saham.
Dalam hajatan initial public offering (IPO) tersebut, Perseroan berhasil meraup dana segar sebesar Rp 72,19 miliar. Adapun harga saham perdana Perseroan Rp 110.
Baca Juga
Harga Emas Antam Melorot Rp 10.000 per Gram, Saatnya Borong?
Sesaat setelah listing, Rabu (8/5/2024), pukul 09.01 WIB saham SOLA melesat 30% ke level Rp 144 per saham. Jumlah saham ditransaksikan mencapai 271,28 juta lembar dengan frekuensi sebanyak 2.429 kali transaksi senilai Rp 3,8 miliar.
Gelaran IPO Xolare dimulai dengan melakukan penawaran awal saham atau bookbuilding sejak 16 April hingga 19 April 2024, dengan harga kisaran harga penawaran sebesar Rp 100 hingga Rp 110 setiap saham. Sedangkan offering atau penawaran umum berlangsung sejak tanggal 2 Mei hingga 6 Mei 2024 dengan harga perdana sebesar Rp 110 per saham.
Berdasarkan prospektus IPO disebutkan, sebagian saham yang diterbitkan dalam rangka IPO akan dialokasikan sebanyak 7,5 juta lembar atau sebanyak-banyaknya 0,29% dari modal ditempatkan dan disetor penuh untuk program Management and Employee Stock Option Plan (MESOP).
“Adapun harga pelaksanaan MESOP sekurang-kurangnya sebesar 90% dari rata-rata harga penutupan saham Perseroan selama kurun waktu 25 Hari Bursa berturut-turut di Pasar Reguler sebelum permohonan pencatatan dilakukan ke BEI,” ulas Perseroan dalam prospektus IPO.
Baca Juga
Untuk membantu pelaksanaan IPO, Xolare telah menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. UOB kay Hian menyatakan kesanggupan penuh (full commitment) terhadap penawaran umum perdana saham Perseroan.
Terkait rencana penggunaan dana hasil IPO, Direktur Utama SOLA, Mochamad Bhadaiwi mengatakan, Perseroan akan mengalokasikan sebanyak Rp 48,27 miliar untuk peningkatan modal anak usaha, yang terdiri dari, PT Xolabit Bitumen Industri (XBI), PT Aspal Polimer Emulsindo (APE), PT Modifikasi Bitumen Sumatera (MBS), PT Aplikasi Bitumen Indonesia (ABI), dan PT Bumiraya Energi Hijau (BEH).
Sedangkan sisanya akan digunakan sebagai modal kerja Perseroan yaitu untuk pembelian persedian aspal, biaya operasional kantor, biaya marketing, biaya leasing kendaraan operasional dan gaji karyawan.
Setelah sukses menggelar IPO dan mencatatkan saham di BEI, Bhadaiwi optimistis grup perusahaan akan semakin memiliki daya saing untuk memenangkan kompetisi di industri pengolahan aspal atau bitumen. Terlebih lagi, lanjut dia, sejauh ini integrasi dan sinergi grup yang solid menjadi keunggulan kompetitif bagi SOLA yang memiliki orientasi pada upaya menciptakan kelestarian lingkungan di wilayah kerja Perseroan.
“Selain itu, kami berkomitmen untuk melaksanakan seluruh pengelolaan dan pemantauan dampak lingkungan yang terjadi akibat aktivitas usaha, serta melakukan pengelolaan limbah. Komitmen SOLA dalam menjalankan bisnis berwawasan lingkungan juga ditunjukkan bisnis APE dan MBS yang menjual aspal emulsi yang hemat bahan bakar dan ramah lingkungan,” urai Bhadaiwi dalam keterangan resmi, Rabu (8/5/2024).
Lebih lanjut, saat ini SOLA sudah menyiapkan entitas anak untuk berbisnis di bidang konstruksi solar PV untuk keperluan on-grid di perumahan dan industry, serta off-grid di wilayah yang jauh dari akses PT Perusahaan Listrik PT Xolare RCR Energy Tbk Negara (PLN).
Perseroan juga sedang mencermati pengembangan bio bitumen yang merupakan aspal dari produk sampingan pengolahan minyak nabati, sehingga lebih ramah lingkungan dan sustainable.
Bhadaiwi menambahkan, selama ini kebijakan penelitian dan pengembangan (R&D) yang dilakukan Perseoran memiliki tujuan untuk mengembangkan produk inovatif dan mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan konstruksi.
“SOLA juga menetapkan area prioritas untuk kegiatan R&D, seperti peningkatan kualitas aspal, pengembangan teknologi konstruksi yang lebih efisien dan eksplorasi bahan-bahan alternatif yang ramah lingkungan,” pungkasnya.

