Mengapa Saham Bank Himbara Tergerus?
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham bank-bank yang masuk dalam Himpunan Bank Milik Negara (HIMBARA) mencatatkan penurunan dalam sebulan terakhir. Penurunan paling dalam setelah dirilis laporan kinerja keuangan kuartal I-2024 dengan hasil di bawah ekspektasi pasar.
Berdasarkan data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan paling dalam dicatatkan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan koreksi harga mencapai 14,80% menjadi Rp 4.750 dalam sebulan terakhir atau kurun waktu 3 April hingga 3 Mei 2024. Selanjutnya koreksi dicatatkan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebanyak 13,65% menjadi Rp 1.265.
Penurunan tak kalah pesatnya dalam sebulan terakhir juga melanda saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebanyak 11,78% menjadi Rp 4.830 dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun sebanyak 10,22% menjadi Rp 6.150.
Baca Juga
Penurunan saham bank Himbara tersebut berbanding terbalik dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), emiten bank dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di BEI, justru mencatatkan penguatan 1,981% menjadi Rp 9.850 dalam sebulan terakhir.
Lalu, apa pemicu penurunan dalam saham bank Himbara dalam sebulan terakhir? Sejumlah analis menyebutkan kinerja keuangan bank Himbara kuartal I-2024 di bawah ekspektasi yang memicu sejumlah analis memangkas turun target kinerja keuangan dan saham bank Himbara. Hal ini mengerek turun harga saham bank-bank ini dalam sebulan terakhir.
Pergerakan Saham Bank Himbara Dibanding BBCA Sebulan Terakhir
Mandiri Sekuritas dalam riset yang diterbitkan hari ini menyebutkan bahwa tekanan jual terhadap saham perbankan hingga menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI dipengaruhi atas peningkatan risiko pertumbuhan kinerja keuangan emiten sektor bank yang berotensi menurunkan laba per saham emiten ini.
Mandiri Sekurita melanjutkan koreksi besar-besaran saham bank juga dipengaruhi atas aksi jual pemodal asing terhadap emiten saham bank setelah ada tanda-tanda risiko lebih tinggi terhadap pertumbuhan kinerja keuangan sektor bank dalam negeri, seperti bank-bank Himbara.
Baca Juga
NIM Turun di Luar Dugaan, Target Keuangan dan Saham Bank Mandiri (BMRI) Dipangkas
“Kami memperkirakan risiko pasar saham bank akan tetap tinggi sampai ada tanda-tanda lebih jelas terkait penurunan risiko terhadap makro ekonomi,” tulisnya dalam riset tersebut.
Berdasarkan data saham perbankan menjadi penyumbang terbesar net sell saham di BEI dalam sebulan terakhir. Net sell terbanyak melanda saham BBRI senilai Rp 8,47 triliun, saham BBCA Rp 1,41 triliun, BMRI senilai Rp 872,62 miliar, BBNI Rp 549,37 miliar, dan BBTN Rp 48,58 miliar.
Pangkas Target
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano memilih untuk memangkas turun target kinerja keuangan dan saham BMRI. Hal ini dipicu atas rendahnya pertumbuhan laba bersih Bank Mandiri hanya 1% yang diikuti dengan penurunan margin keuntungan bersih (NIM).
Realisasi tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas memangkas turun target laba bersih BMRI dari 57,87 triliun menjadi Rp 56,87 triliun. Sedangkan NIM perseroan direvisi turun dari perkiraan semula 5% menjadi 4,9%. Kecenderungan penurunan NIM terjadi setelah terjadi kenaikan biaya dana di tengah pengetatan likuiditas perbankan nasional.
Baca Juga
Saham BNI (BBNI) Anjlok Usai Rilis Keuangan, Dua Analis Ini Ungkap Prospek Sesungguhnya
Pemangkasan target kinerja tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target harga saham BMRI dari Rp 7.600 menjadi Rp 7.400 dengan rekomendasi dipertahankan beli.
Pemangkasan target kinerja keuangan dan saham juga diberikan CGS CIMB Sekuritas terhadap saham BBRI. Pemangkasan tersebut mempertimbangkan pengetatan likuiditas dan kecenderungan penurunan kualitas aset kredit BBRI setelah melihat realisasi kinerja keuangan kuartal I-2024.
Baca Juga
CGS CIMB Sekuritas merevisi turun target saham BBRI dari Rp 7.100 menjadi Rp 6.500, meski demikian saham BBRI tetap dipertahankan dengan rekomendasi add. Pemangkasan tersebut juga mempertimbangkan revisi turun target kinerja keuangan BRI tahun ini dengan perkiraan laba bersih direvisi turun dari Rp 67,21 triliun menjadi Rp 63,04 triliun.
Target NIM perseroan juga direvisi turun dari 8% menjadi 7,8% tahun ini. Begitu juga dengan target pertumbuhan kredit direvisi turun dari 12,1% menjadi 10,5%.

