Ada Isu Utang BUMN Karya di Balik Rontoknya Harga Saham Bank-Bank Himbara
JAKARTA, investortrust.id – Pengamat pasar modal yang juga Ketua Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pasar Modal (LP3M) Investa, Hari Prabowo mengungkapkan, rontoknya harga saham bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dalam beberapa hari terakhir dipicu banyak hal, salah satunya isu restrukturisasi utang BUMN karya.
Rencana restrukturisasi utang BUMN karya, di antaranya PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), tengah santer berembus di pasar. Investor menganggap restrukturisasi utang jumbo BUMN karya bisa menekan profitabilitas bank-bank BUMN.
“Aksi lepas saham bank-bank BUMN oleh investor secara masif merupakan antisipasi terhadap kemungkinan dilakukannya restrukturisasi utang BUMN infrastruktur, seperti Waskita Karya dan sejumlah BUMN lainnya,” kata Hari Prabowo kepada investortrust.id di Jakatrta, Rabu (8/5/2024).
Baca Juga
Dalam beberapa hari terakhir, saham bank-bank anggota Himbara, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) rontok akibat tekanan jual yang dilakukan para investor, khususnya investor asing. Tekanan jual juga dialami bank swasta yang dikenal sangat solid, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Namun, pelemahan saham BBCA tidak separah bank-bank BUMN.
Dara RTI menunjukkan, saham BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA dalam sebulan terakhir mengalami penurunan yang amat signifikan dari harga tertingginya. Hingga 7 Mei 2024, saham BMRI anjlok 9,06%, BBRI tergerus 21,18%, BBNI terpangkas 16,81%, dan BBCA menyusut 1,52%. Penurunan saham BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA turut menyeret jatuh indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada periode yang sama, IHSG melemah 1,13%.
Pengaruhi Laba Bank
Menurut Hari Prabowo, program restrukturisasi utang BUMN bisa memengaruhi perolehan laba bank-bank pelat merah. Soalnya, utang terbanyak BUMN, khususnya BUMN infrastruktur, berasal dari kredit bank-bank anggota Himbara. Utang BUMN yang direstrukturisasi pun sangat besar.
“Saham BBCA mengalami penurunan harga saham paling kecil karena kredit yang disalurkan BCA ke BUMN tidak sebesar yang disalurkan Bank Mandiri, BRI, dan BNI,” tutur dia.
Hari menjelaskan, selain isu restrukturisasi utang BUMN, pelemahan saham bank-bank Himbara (BBRI, BBNI, BMRI) dan BCA dipicu kinerja fundamental masing-masing emiten.
“Laba bersih per saham (earning per share/EPS) BRI, BNI, Bank Mandiri, dan BCA pada kuartal I-2024 menunjukkan pertumbuhan yang lebih kecil dibandingkan periode sama tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bisa diasumsikan bahwa perolehan laba bank-bank itu ke depan mulai terbatas,” papar dia.
Baca Juga
Investor Asing Net Sell Rp 3,13 Triliun Sepekan, Saham Bank BUMN Penyumbang Terbesar
Pemicu lainnya, kata Hari Prabowo, adalah kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 6,25% yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pada 24 April silam.
Hari mengemukakan, penaikan BI-Rate akan memicu kenaikan suku bunga kredit. Kenaikan suku bunga bukan saja dapat mengganggu pertumbuhan kredit, tapi juga berpotensi mendorong kenaikan kredit bermasalah (non performing loans/NPL) jika tidak dikelola dengan baik.
Hari menegaskan, anjloknya saham bank-bank BUMN dan BBCA bisa dimanfaatkan para investor untuk melakukan akumulasi beli. Soalnya, rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) keempat bank tersebut kini lebih murah.
Berdasarkan catatan investortrust.id, saham BBRI memiliki PER 44,19, dengan PER disetahunkan (annualized) 11,05 kali. Sedangkan PER BMRI mencapai 45,65 kali dengan PER disetahunkan 11,41 kali. Adapun BBNI dan BBCA masing-masing memiliki PER 32,49 kali dan 90,22 kali dengan PER disetahunkan 8,12 kali dan 22,56 kali.

