Tahan Harga BBM Saat Minyak Dunia Naik dan Rupiah Melemah, Pertamina Ungkap Alasan Ini
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk kembali menahan harga jual bahan bakar minyak (BBM) pada Mei 2024. Padahal, sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta telah menaikkan harga di tengah kenaikan harga minyak dunia.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menyebutkan, meski harga minyak dunia merangkak naik dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat melemah, Pertamina tidak menaikkan harga BBM non-subsidi.
Baca Juga
“Penyesuaian harga BBM non-subsidi memang mengacu pada regulasi. Namun pada kondisi saat ini, kami mendukung upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas perekonomian," kata Irto saat dihubungi investortrust.id, Jumat (3/5/2024).
Irto menjelaskan, keputusan tidak mengubah harga BBM mengacu pada beberapa aspek, antara lain Kepmen ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang formulasi harga JBU atau BBM non subsidi. Dalam aturan ini, formulasi harga BBM di antaranya dipengaruhi oleh nilai tukar dolar AS dan MOPS.
Sementara itu, berdasarkan laporan dari CNBC, Kontrak West Texas Intermediate bulan Juni $79,40 per barel, naik 39 sen atau 0,49%. Minyak mentah AS naik 10,8% year to date (ytd). Sedangkan Kontrak Brent bulan Juli $83,96 per barel, naik 52 sen atau 0,62%. Minyak patokan global naik 9% ytd.
Baca Juga
Minyak Mentah AS Naik setelah Menyentuh Titik Terendah dalam 7 Minggu
Berdasarkan informasi yang didapat dari laman resmi Pertamina, harga Pertalite tetap berada di angka Rp 10.000/liter. Adapun untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax masih Rp 12.950/liter, Pertamax Green 95 Rp 13.900/liter, Pertamax Turbo Rp 14.400/liter, Dexlite Rp 14.550/liter, dan Pertamina Dex Rp 15.100/liter.
Sebagai informasi, harga tersebut berlaku untuk wilayah Jawa dan wilayah dengan besaran pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) sebesar 5%.

