Beredar Kabar Merger Gojek-Grab, Begini Dampaknya bagi Prospek Saham GOTO
JAKARTA, investortrust.id – Kabar beredar rencana merger PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan Grab terkait dengan segmen bisnis ride hailing service Gojek bisa menjadi sentiment positif. Konsolidasi hingga merger tersebut bisa berdampak terhadap penguatan prospek bisnis ride hailing service di Indonesia.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis menyebutkan, kabar yang menyebutkan pembicaraan merger unit bisnis ride hailing GOTO dengan Grab bisa saja sebagai inisiatif pemegang saham. Sebagaimana diketahui ada beberapa pemegang saham kedua perusahaan teknologi tersebut sama, seperti SoftBank.
“Kami melihat bahwa GOTO tidak akan mengindari berbagai kesepakatan yang bisa memberikan nilai tambah bagi perseroan, sehingga apabila pembicaraan merger tersebut benar-benar terjadi dan dikomunikasikan dengan baik terhadap pemegang saham, tekanan jual saham ini akan mereda ke depan,” ujarnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
Baca Juga
Dia menambahkan, investor GOTO kemungkinan mendukung langkah kesepakatan terbaru tersebut, karena memberikan nilai tambah bagi perseroan ke depan. Berita konsolidasi tersebut akan menjadi sentiment positif terhadap sahamnya. Sebab, kesepakatan ini bisa mengubah pandanaan terhadap segmen bisnis ride hailing di Indonesia, yaitu bakal terjadi penurunan dana besar untuk persaingan bisnis ini.
Kesepakatan tersebut juga membuka peluang dana yang lebih besar yang bisa digunakan untuk berinvestasi lebih lanjut dalam pengembangan eksosistem GOTO ke depan, seperti pengembangan segmen bisnis financial technology.
Hal ini BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham GOTO dengan target harga Rp 125. Target harga tersebut lebih tinggi, dibandingkan target harga sebelumnya. Hal ini mempertimbangkan dukungan positif tuntasnya merger Tokopedia dengan Tiktok Shop.
Baca Juga
TikTok Tuntaskan Investasi US$ 1,5 Miliar di Tokopedia, Valuasi Saham GOTO Terkerek
Pandangan positif terhadap berita tersebut juga datang dari analis Mandiri Sekuritas Adrian Joezer dan Jennifer Adurey Harjono. Menurut dia, merger Gojek dengan Grab memiliki sinergi yang jauh baik, dibandingkan Gojek-Tokopedia. Meski demikian, sentimen tersebut tergantung dengan skenario merger, valuasi masing-masing, dan harga akuisisi.
Mandiri Sekuritas menyebutkan merger Gojek dengan Grab tersebut akan membawa dampak positif terhadap kedua emiten raksasa teknologi tersebut. Di antaranya, tingkat persaingan semakin rendah.
“Kami menilai sisi positif merger tersebut adalah lanskap persaingan membaik. Hal ini akan membuat EBITDA Gojek menjadi positif didukung aka nada penurunan insetif bagi pelanggan dan biaya overhead yang lebih rendah. Hal ini akan membuat margin EBITDA Gojek meningkat,” terangnya.
Berdasarkan data Gojek berhasil mencatatkan tingkat pertumbuhan pendapatan kotor sebesar 22,5% hingga kuartal III-2023, namun EBITDA disesuaikan terhadap GTV sangat rendah dalam kisaran 0,4%. Sedangkan rasio EBITDA terhadap GTV Grab mencapai 3,4% untuk pengiriman dan 12,8% untuk mobilitas.
Baca Juga
Pendapatan GoTo 2023 Diproyeksi Naik, Ini Lini Bisnis Pendukungnya
Dengan demikian, Mandiri Sekuritas, valuasi saham GOTO bakal bisa terkerek didukung perbaikan margin EBITDA Gojek hingga tingkat profitabilitas ke depan. “Kami memperkirakan hal ini akan membuat EV/Penjualan Gojek bisa meningkat dari posisi saat ini berkisar 2-3 kali, dibandingkan Grab/UBER dalam rentang 3,4kali/3,5 kali,” terangnya.
Meskipun GoTo dan Grab tidak mencapai kesepakatan, Mandiri Sekuritas menyebutkan, segmen bisnis on demand service Gojek diprediksi tetap menarik dipicu tingkat persaingan yang relative rendah, karena hanya didominasi Gojek dan Grab.
Terkait target harga saham GOTO, Mandiri Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 125 per saham.

