Kinerja Menurun, Rating Saham Peternakan Tumiyana (WMPP) Dipangkas
JAKARTA, investortrust.id – Emiten peternakan dan pengolahan daging milik Tumiyana, PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) dinilai belum meunjukan kinerja memuaskan sejak IPO Desember 2021. Penurunan kinerja bahkan terus berlanjut hingga semester I-2023.
Pendapatan WMPP tercatat Rp 592 miliar anjlok 72,7% di semester I-2023, sementara rugi bersih yang diakumulasi mencapai Rp 171 miliar, pada periode yang sama 2022 WMPP masih membukukan laba bersih Rp 15 miliar.
Terkait penurunan kinerja tersebut, Samuel Sekuritas menurunkan rating WMPP dari buy menjadi hold dengan target price Rp 50. Saat ini saham WMPP berada di level Rp 50 per saham yang merefleksikan 1,1x PBV FY24F (7% di atas perusahaan sejenis).
Baca Juga
Kontras! Investor Asing Borong Saham BUKA, Saat GOTO Diobral
‘’Selain itu prospek WMPP juga dinilai kurang meyakinkan. Kami tidak melihat adanya potensi peningkatan besar dalam performa WMPP di masa mendatang, mengingat pangsa pasarnya yang kecil, margin yang sangat tipis dari bisnis ternaknya, dan pasar unggas yang lesu,’’ tulis Analis Samuel Sekuritas Farras Farhan dalam riset yang diterbitkan, Senin (11/9/2023).
Sebelumnya, WMPP diperkirakan memiliki pendorong pertumbuhan yang kuat dari bisnis rumah potong hewan barunya (dengan kapasitas 12 ribu ayam/jam) yang meningkatkan kapasitas produksi totalnya menjadi 70,6 ton.
‘’Namun, tingkat utilisasinya turun secara signifikan pada tahun 2023 (proyeksi SSI: 11%). Tidak hanya itu, bisnis peternakan sapi dan pengolahan daging WMPP juga melemah, dengan volume penjualan yang anjlok lebih dari 50%. Hal ini diperperah dengan melonjaknya biaya, karena rasio Opex terhadap penjualan WMPP diperkirakan mencapai 15% tahun ini, naik +700 bps dari tahun 2022,’’ katanya.
Ke depan Farras memperkirakan WMPP akan membukukan pendapatan sebesar Rp 1,18 triliun pada tahun 2023 dan Rp 1,2 triliun pada tahun 2024.
Baca Juga
20 Reksa Dana Paling Moncer 2023, Ada yang Cetak Return 18,16%
‘’Hal tersebut, dikombinasikan dengan prospek margin yang agak suram (proyeksi OPM: -7%) dan rasio OpEx terhadap penjualan yang tinggi, mendorong kami memproyeksikan WMPP akan membukukan kerugian bersih sebesar -Rp 312 miliar pada tahun 2023 dan -Rp 308 miliar pada tahun 2024,’’ urainya.
Lebih lanjut, kerugian bersih diperkirakan berlanjut sampai WMPP menemukan cara untuk meningkatkan efisiensi operasinya. Meski begitu Farras melihat adanya potensi keuntungan pasca restrukturisasi utang, karena dapat meringankan biaya di tahun-tahun mendatang.

