Mengapa Saham Telkom (TLKM) Lanjutkan Pelemahan? Begini Penjelasan dan Target Harga
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih terpantau melanjutkan pelemahan. Hingga penutupan perdagangan Selasa (23/4/2024), harga saham TLKM telah terkoreksi 21,91% year to date (ytd) ke level Rp 3.100.
Bahkan, perdagangan saham TLKM pagi ini juga menunjukkan pergerakan bervariasi dengan kecenderung melemah. Koreksi saham TLKM berbanding terbalik dengan dua emiten telko lainnya, seperti PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang bergerak menguat.
Lalu, mengapa saham TLKM turun dalam ytd yang berbanding terbalik dengan saham emiten telko lainnya dengan penguatan? Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta, faktor utama pemicu penurunan harga saham TLKM adalah koreksi saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang sudah mencapai 52,71% (ytd).
Baca Juga
Kinerja Keuangan Telkom (TLKM) Kuartal I-2024 Sesuai Estimasi, Begini Target Sahamnya
“TLKM kan sebenarnya mengalami unrealize loss di saham GoTo. Memang terlihat sentimen yang jadi dasar pelemahan harga TLKM,” ungkap Nafan kepada investortrust.id, Selasa (23/4/2024).
Meski terbawa sentiment negative saham GOTO, Mirae Asset Sekuritas tetap optimistis terhadap target harga saham TLKM ke level Rp 4.790 per saham. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Won Jonghoon menyebutkan, TLKM menggunakan metode discounted cash flow (DCF) 10 tahun dengan nilai biaya modal tertimbang (WACC) sebesar 12,5% dan tingkat pertumbuhan terminal sebesar 1,5%. TLKM diperdagangkan pada valuasi EV/EBITDA sebesar 4.4x (hampir -2.0 SD).
”Kami percaya bahwa TLKM saat ini memiliki kinerja yang baik dalam operasionalnya, namun mungkin tidak memenuhi ekspektasi investor dalam hal kecepatan,” jelas Jonghoon dikutip dari risetnya hari ini.
Meski demikian, dia memandang TLKM sebagai investasi jangka panjang yang menguntungkan, terutama mengingat kisaran valuasinya yang rendah saat ini.
Baca Juga
Starlink Masuk Indonesia, Kinerja Keuangan dan Saham Telkom (TLKM) Justru Bisa Moncer, Kok Bisa?
Baru-baru ini, TLKM merilis hasil kinerja kuartal I-2024 yang mencatatkan pendapatan Rp 37,4 triliun yang naik 3,7% (yoy), Pertumbuhan pendapatannya terutama didorong pertumbuhan pesat pendapatan dari data internet dengan pendapatan Rp22,2 triliun atau naik 11,3% (yoy), dan juga pertumbuhan signifikan dari bisnis interkoneksi dengan pendapatan Rp2,58 triliun yang naik 16% (yoy).
“Pertumbuhan konsumsi data seluler yang berkelanjutan merupakan tren global secara keseluruhan, namun peningkatan pendapatan interkoneksi terutama disebabkan oleh fakta bahwa TLKM berhasil meraih peluang dari bisnis suara pasar grosir internasional,” papar Jonghoon.
Salah satu poin paling menonjol dari kinerja TLKM di kuartal pertama adalah penurunan signifikan pada bisnis IndiHome dengan pendapatan sebesar Rp 6,86 triliun yang turun 4,6% (yoy). Namun hal tersebut dikarenakan TLKM memutuskan untuk melakukan reklasifikasi pendapatan perusahaan IndiHome (B2B) ke layanan Data, Internet & IT mulai 2024.
Oleh karena itu, menurut penjelasan TLKM, pendapatan IndiHome B2C pada kuartal I-2023 adalah Rp 6,4 triliun, menghasilkan pertumbuhan 6,6% di kuartal I-2024.
Sebagai kinerja operasional, muatan data TLKM pada kuartal pertama tahun ini mencapai 4,823.8PB atau tumbuh 14.4% (yoy), sehingga meningkatkan pertumbuhan pendapatan secara keseluruhan.
“ARPU-nya berada di level yang sama yaitu Rp 45,3 ribu dibandingkan periode sama tahun lalu, sementara itu sedikit turun sebesar 2,6% secara QoQ,” imbuh Jonghoon.
Baca Juga
Fundamental Tak Berubah, Penurunan Saham Telkom (TLKM) Kesempatan ‘Buy’
Selain itu, ARPU IndiHome B2C juga turun sebesar 2,5% QoQ sehingga Mirae Asset berasumsi hal ini terutama disebabkan strategi akuisisi pelanggan aktif TLKM dengan memberikan beberapa keuntungan bagi pelanggan.
Dengan demikian, pengguna TLKM secara keseluruhan meningkat pada kuartal I-2024. Pengguna selulernya meningkat menjadi 159,7 juta atau naik 0,2% (QoQ), dan pelanggan IndiHome B2C juga meningkat menjadi 10,3 juta atau 2,6% (QoQ).
Di sisi lain, TLKM membukukan total Opex Rp 18 triliun yang naik 5,3% (yoy), terutama disebabkan peningkatan dua digit pada beban pegawai serta peningkatan beban interkoneksi.
Beban biaya untuk pegawai mereka meningkat menjadi Rp 4,13 triliun atau 10,4% dibandingkan kuartal I-2023. Hal ini akibat THR dicatatkan pada kuartal pertama, mulai tahun ini, sedangkan THR tercatat pada kuartal kedua sebelumnya, hingga tahun lalu.
Peningkatan beban interkoneksi sebagian besar disebabkan pertumbuhan pendapatan interkoneksi. Namun berkat inisiatif FMC, biaya G&A menurun secara signifikan sebesar 17,3%.
Baca Juga
BCA (BBCA): Harga Naik hingga Diborong Asing, Ternyata Target Sahamnya masih Meggiurkan
“Poin penting lainnya dari pengeluarannya pada kuartal I-2024 adalah besarnya kerugian dari posisi investasi GOTO. TLKM mencatat kerugian Rp 403 miliar dari posisi GOTO di kuartal pertama ini,” ujar Jonghoon.
Hal tersebut, tampak tidak positif bagi investor mengenai fakta bahwa keuntungan perusahaan sangat dipengaruhi oleh harga saham GOTO. Akibatnya, laba operasional TLKM turun menjadi Rp 11,0 triliun atau koreksi 3,7% (yoy), dan laba bersihnya juga turun menjadi Rp 6,05 triliun atau 5,8% (yoy) dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Namun, EBITDA emiten pelat merah ini menunjukkan sedikit peningkatan menjadi Rp 19,4 triliun atau 2,2% (yoy), meskipun marginnya turun 0,7 pts. Selain itu, margin keuntungan berdampak negatif lebih besar terhadap level Telkomsel.
Pendapatan Telkomsel meningkat setelah menjalankan bisnis IndiHome B2C, namun labanya sangat terpengaruh akibat integrasi tersebut. Namun, aspek positifnya adalah meskipun ada peningkatan biaya akibat proses integrasi, biaya telah kembali normal secara bertahap sejak kuartal pertama ini.
“Di level Telkomsel, total biaya turun menjadi Rp 15,1 triliun (-3,7% QoQ), sehingga meningkatkan margin EBITDA sebesar 0,8 poin menjadi 47,0% di Januari-Maret 2024,” tutup Jonghoon.
Pergerakan Saham TLKM

