Medco Energi (MEDC) Raih Pinjaman Baru Rp 5,25 Triliun, Begini Penggunaannya
JAKARTA, investortrust.id – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menandatangani Perjanjian Kredit Fasilitas Term Loan II dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp 5,250 triliun
Penandatanganan perjanjian pinjaman dilakukan kedua pihak pada 14 September 2023 di Jakarta.
Sekretaris Perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk Siendy K. Wisandana mengatakan pihaknya akan menggunakan dana pinjaman tersebut untuk membiayai ulang kewajiban dalam bentuk obligasi (termasuk obligasi dalam mata uang USD dan IDR).
Baca Juga
‘’Penandatangan pinjaman ini merupakan kejadian yang akan menyebabkan bertambahnya kewajiban keuangan secara material,’’ papar Siendy dalam keterangan tertulis, Senin (18/9/2023).
Adapun jatuh tempo pinjaman tersebut ditetapkan pada tanggal 23 Juni 2028, atau berjangka waktu kurang dari lima tahun.
Saat ini 50,5% saham MEDC dikuasai oleh PT Medco Daya Abadi Lestari dan 49,5% dipegang publik. Emiten ni belum menerbitkan laporan keuangan semester I-2023.
Per kuartal I-2023, MEDC menorehkan kinerja positif dengan pendapatan meningkat 18,40%, meskipun laba bersihnya terkoreksi 8,86% (yoy).
Baca Juga
Transportasi Umum Overcapacity, Warga Pilih Gas Sepeda Motor Pribadi
MEDC membukukan pendapatan total sebesar US$ 558,09 juta (sekitar Rp 8,40 triliun). Sumber pendapatan berasal dari pendapatan kontrak dengan pelanggan senilai US$ 547,46 juta, dan pendapatan keuangan US$10,62 juta.
CEO MEDC Roberto Lorato menyebut bahwa pendapatan perseroan juga ditopang oleh kenaikan permintaan energi regional. Dengan berfokus pada efisiensi biaya yang berkelanjutan, MEDC mampu merealisasikan biaya unit migas yang cukup ideal.
Penurunan laba MEDC antara lain disebabkan kenaikan beban pokok pendapatan yang mencapai US$ 325,68 juta atau meningkat 40,49(yoy). Sebagai konsekuensinya, laba kotor perseroan sedikit terkoreksi 2,97% ke level US$ 232,40 juta.
Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$ 82,05 juta (setara Rp 1,23 triiliun), menurun 8,86% dari periode sama 2023 sebesar US$ 90,03 juta. Selain itu, EBITDA tercatat sebesar US$ 327 juta.

