‘Passive Fund’ Bisa Beri Investor Kenyamanan Berinvestasi
JAKARTA, investortrust.id - Namanya sudah malang melintang selama 30 tahun di industri pasar modal nasional. Bahkan nama Putut Endro Andanawarih selaku Direktur Investasi PT BNI Asset Management dicatat sebagai salah satu dari yang ikut membentuk fondasi awal industri reksa dana di Tanah Air, dan sempat menduduki posisi sebagai Dewan Penasehat Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia (PWMII) periode 2016-2019 dan periode 2019 - 2022.
Jejak tapaknya membekas di sejumlah perusahaan manajer investasi domestik, sejak ia memulai kariernya sebagai fund manager di Bank Niaga medio 1989-1992. Berikutnya ia juga tercatat menduduki posisi sebagai direktur di PT Bahana TCW Investment Management (1994 – 2003), dan sempat duduk di posisi serupa di PT First State Investment Indonesia (2003 – 2011).
Sebelum bergabung sebagai direktur di BNI Asset Management sejak 2017, penggemar olah raga roadbike ini juga sempat mendapat kepercayaan sebagai Direktur Pengembangan Bisnis PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (2011 – 2017). Melihat periode kariernya di bisnis fund manager di dalam negeri, nyata bahwa ia merupakan salah satu pelaku yang benar-benar merasakan sejumlah fase up and down di perekonomian nasional serta pasar modal Tanah Air.
Wajar jika ia memiliki ilmu yang cukup mumpuni soal penempatan dana investasi, berkat tempaan waktu dan pengalaman panjangnya sebagai fund manager. Tak heran pula dari tangan dinginnya, hadir sejumlah produk investasi reksa dana yang dinilai sesuai dengan kebutuhan para investor dari segala profil risiko.
Bicara industri reksa dana, jebolan jurusan Matematika di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1987 dan Master Keuangan dan Pasar Modal dari University of San Fransisco, AS tahun 1994 ini, sepakat dengan para pelaku industri lainnya. Ia memandang potensi penurunan suku bunga Federal Reserves (The Fed) yang bakal diikuti oleh sejumlah bank sentral dunia termasuk Bank Indonesia, bakal memberikan angin segar bagi para pemilik reksa dana pendapatan tetap.
“Kondisi seperti ini saya pikir bagus juga buat (reksa dana) pendapatan tetap, karena suku bunga akan turun. Kalau suku bunganya turun yang untung adalah obligasi. Seperti Jungkat jungkit, kalau suku bunga turun harga obligasi naik. Kalau suku bunga naik harga obligasi turun. Ini relasi harga obligasi dan suku bunga,” ujar Putut Endro Andanawarih saat berbincang-bincang dengan Investortrust.id beberapa waktu lalu.
Dengan logika dasar tersebut, tak lantas Putut jor-joran meramu produk reksa dana berbasis pendapatan tetap untuk ditawarkan kepada nasabah BNI Asset Management. Belakangan ia lebih sibuk memasak produk berbasis indeks, yang akhirnya lahir 9 produk reksa dana indeks di kumpulan Family of Index BNI AM.
Ia beranggapan, produk passive fund seperti reksa dana indeks justru punya peminat yang jauh lebih besar karena lebih banyak kenyamanan berinvestasi yang bisa dinikmati para nasabahnya. Langkah tak biasa ini tampaknya akan menjadi pamungkas bagi BNI AM untuk merangkum lebih banyak investor, yang pada ujungnya menggembungkan volume dana kelolaan (Asset under management).
Apa alasan yang menjadi dasar BNI AM meramu produk passive fund ini bagi para nasabahnya, dan apa pandangannya tentang potensi pertumbuhan industri reksa dana di Tanah Air? Simak perbincangan Fajar Widhiyanto dan Yuswialdyth Ardelia Almira, serta pewarta foto Elsid Arendra Filemon dengan sosok four wheel drive enthusiast ini.
Bagaimana pergerakan reksa dana saat ini?
Karena covid, subsidi banyak dikucurkan, kita banyak di rumah, sehingga orang bisa nabung. Jadi tahun 2019 - 2021 (diterapkan PPKM), lalu dibuka kembali ekonomi pada tahun 2022-2023, membuat uang yang tadinya tak terpakai dialokasikan ke produk investasi. Terlihat angka investasi sempat naik sampai Rp 560 triliun waktu itu.
Tapi kalau lihat dari Januari 2023 ke Januari 2024, AUM turun dari Rp 512 triliun ke Rp 504 triliun. Kenapa? karena kita mengalami K-shape recovery, kelompok di bawah saving-nya tergerus. Yang tadinya bisa saving, sekarang gak bisa.
AUM beberapa reksa dana turun, apa penyebabnya?
Investor retail tumbuh sampai 5 juta lebih. Itu gak lepas dari investor yang taruh uangnya ke sana (reksa dana). Yang bergeser hanya alokasinya, sehingga kelihatan penurunan pada reksa dana saham sebesar 17,6% year on year pada Januari 2024, pasar uang turun 7,2%, dan reksa dana index turun 6,7%.
Terlihat penurunan besar pada reksa dana saham dan pasar uang, karena orang butuh uang. Gak bisa dimungkiri ada juga imbas (penurunan) dalam 2 tahun terakhir saat pemerintah agresif memasarkan sukuk retail, sukuk tabungan yang return-nya lebih tinggi dari deposito (reksa dana). Alami, terjadi pergeseran ke SBN.
Apakah pergeseran akan terjadi jangka panjang?
Dari nature-nya obligasi yang dipasarkan itu kan 3 sampai 5 tahun, uang itu akan mature. Tapi setidaknya investor tetap punya minat berinvestasi, dan ini peluang buat mempertahankan kekayaannya.
Cuma secara teori seharusnya obligasi pemerintah itu gak akan terus tinggi. Ke depan saat berjalan normal, akan kembali teori high risk high return (obligasi saat ini menawarkan high return dengan risiko nihil). Pasti akan ada penyesuaian lagi. Inilah penyebab keluarnya dana dari reksa dana saham dan pasar uang.
Selama covid pertumbuhan ekonomi 4% -5%, kenapa pasar modal stagnan?
Perusahaan terus memberikan return, artinya terus tumbuh. Saham-saham Big Cap profit-nya juga lebih bagus tahun ini dibandingkan tahun lalu. Harusnya kinerja pasar modal bagus. Tapi index-nya gak kemana-mana. Artinya price earning ratio mereka turun. Harganya tetap, earning perusahaan nambah terus, PE ratio-nya yang turun, harusnya lebih murah dong. Ambil contoh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PER nya oke, artinya murah kan.
Yang menarik tahun kemarin itu tingkat return index seperti JCI naik hampir 9% dalam 1 tahun terakhir. Tapi kalau kita lihat IDX 30 itu cuma 4%, Kompas 100 cuma 2,46%, pergerakannya tumbuh kecil. Sementara saham kapitalisasi kecil-kecil naiknya luar biasa, ini yang membuat market terlihat berbeda. Karena yang market cap-nya kecil-kecil itu justru valuasinya tinggi banget.
MI bisa manfaatkan kenaikan saham-saham kapitalisasi mini?
Buat fund manager dengan nasabah institusi, gak bisa beli saham kecil-kecil ini. Kalau ada yang mau redeem, likuiditasnya nggak ada. Jadi tidak memungkinkan buat investor besar invest ke saham yang kecil-kecil ini. Karena likuiditasnya gak ada.
Seperti BNI AM yang harus mengelola dana masyarakat, secara peraturan harus mampu mengembalikan uangnya ke nasabah itu T+7 (settlement date 7 hari). Jadi saya harus milih saham yang likuid, yang fundamentalnya bagus.Tapi di tengah kondisi ini, indeks JCI naik 9% return-nya. Walaupun saham big cap gak kemana-mana.
Di sisi lain sekarang suku bunga tinggi di seluruh dunia. Orang pasti mulai hati-hati melihat value. Dan kalau sudah melihat value, maka yang akan mereka cari adalah fundamental. Yang tadinya mahal banget, bisa turun juga. Karena kalau valuasinya kemahalan, pasti akan mencari keseimbangan baru. Berarti sebaiknya kita melihat saham-saham yang fundamentalnya baik.
Contoh ICBP, harusnya dia kelas dunia jika dilihat dari footprint-nya, karena tak hanya bergantung pada market di Indonesia. Ia sudah hadir di Afrika, Timur Tengah, Eropa mulai tersedia. Dia sudah global player, gak beda sama Nissin. Yet secara valuasinya (masih murah, red), menarik kan? Cuma orang belum ke sana. Masih dengan konsep stock seperti artificial intelligence. Tapi secara valuasi mahal.
Banyak investor masih belum melihat fundamental?
Saya pikir ke depan orang juga pasti balik lagi ke nalar. Bahwa harga emiten Big Cap turun ada reason-nya. Seperti infrastruktur, staple. Tapi terkait emiten sektor pangan, semua orang harus makan. Ini peluang bagus untuk mulai invest di pangan, karena ada ancaman El Nino dan lainnya. Ini disukai BNI AM.
Lihat PE ratio GCI IDX dan Kompas 100, IDX 30. Market GCI yang tadi 8%, secara valuasi itu lebih mahal dibandingin yang IDX 30. Cuma harus disadari, volatilitasnya tinggi. Kalau sudah seperti ini mainnya jangka panjang. Untuk investor itu kan lebih baik jangka panjang. Saya pikir ke depan appetite masyarakat akan kesana. Cuma memang belum sekarang. Apalagi pada bulan Desember lalu hingga Februari digelar pemilu, apa iya investor berani taruh uangnya di pasar modal.
Pemilu berpengaruh kepada minat investasi?
Market sudah mengerucut, lebih memilih satu kali putaran pilpres. Kepastiannya lebih besar, ini yang membuat antusiasme atau optimisme investor untuk invest lebih besar. Memang di 2024, tahun pemilu, belum ada kepastian pemerintahan baru, pengusaha masih menunggu waktu. Tapi mereka mulai ancang-ancang, ketimbang menunggu hingga Oktober (pengumuman resmi dari KPU). Mereka sudah mulai menata rencana investasinya. Ini yang jadi katalis positif terutama di pasar modal after the election. Unfortunately 57 negara menggelar pemilu. Agak fragile. Tapi investasi kan nggak cuma buat sekarang, sampai ke depan. Once ini settle, sudah ada fondasi yang lebih bagus.
Jadi kapan sebaiknya kembali masuk ke alokasi investasi?
Pertanyaannya when to invest, investor biasa selalu ngomong setelah pemilu setelah kebijakan makin jelas, barulah invest. Tapi sebagai player itu mulai invest-nya kapan? Sekarang. Kita nggak pernah tahu when is the low. Mulai invest-nya gradually, bertahap. Semakin kita mulai itu semakin bagus. Nggak pernah saya sarankan investasi semua sekaligus. Lakukan bertahap. Semakin yakin, semakin besar posisinya.
BNI AM melihat sektor apa yang menarik tahun ini?
Kalau menurut saya itu di perusahaan-perusahaan besar. Kalau melihat ini harusnya oke. Contoh menarik itu seperti si Indofood. Saya juga melihat perbankan bagus. Beberapa tahun terakhir naik terus nilai sahamnya. Apakah itu akan berhenti? rasanya nggak. Apalagi nanti suku bunga juga akan turun. Suku bunga turun harusnya perbankan juga bagus kinerjanya. Dan porsi perbankan 38% sebagai konstituen indeks. Dia harusnya proxy kita di pasar modal. Bunga deposito juga akan turun. Di sisi lain inflasi juga tinggi, sehingga harus cari instrumen lain, jangan ditempatkan di reksa dana saham semua, jadi ada fixed income yang durasi pendek, fixed income durasi panjang, tergantung maunya kemana.
Di luar negeri inflasinya masih belum turun. Awalnya dikatakan akhir tahun kemarin suku bunga akan turun cepat di Amerika. Tapi di-extend. Kita harus hidup dengan seperti itu (higher for longer). Walaupun sebetulnya BI punya kemampuan untuk turunin suku bunga, cuma nanti nilai tukar terkena imbasnya. Ya kita nunggu, tapi akan turun.
Apa pilihan terbaik buat investor reksa dana?
Kalau kita punya banyak produk reksa dana index, kita punya Family of Index fund, ada 8 index fund. Investor bisa shift investasinya ke mana saja. Dan secara definisi, index fund itu reksadana yang mereplikasi kinerja indexnya. Kalau lihat di luar negeri, perkembangan index fund atau passive fund juga tumbuh gila-gilaan. Pertumbuhan dari index fund di Indonesia itu juga tinggi. Dengan reksa dana indeks, investor punya kesempatan beli indeks saham. Isinya 4 kali diganti dalam setahun. Kita akan tahu bahwa IDX 30 itu isinya 30 emiten yang terbesar. Simplicity ini disukai investor sehingga dia tumbuh besar, dan biaya pengelolaan juga sangat efisien.
Secara industri itu tumbuh besar?
Betul, dan kita juga lumayan in term of size, BNI AM nomor 2 dari total pengelola reksa dana index.
Kalau lihat dari pertumbuhannya, ternyata investor itu banyak yang beli index fund, dan dia mungkin suka sama konsepnya, 30 emiten terbesar. Kita juga punya Growth 30, 30 emiten yang tumbuhnya paling tinggi, orang suka juga. Kita juga punya Sri Kehati kita juga meluncurkan tema ESG. Jadi banyak investor tanam dana di pasar saham, tapi juga ingin perusahaannya bersih, green. Itu permintaan investor lalu kita buat. Kita juga ada Sharia Growth, ada Prime Bank ada yang High Dividend 20.
Antisipasi BNI AM terhadap tingginya minat pada Index Fund dengan strategi apa?
Dengan kecenderungan investor seperti ini, BNI AM punya family of index. Tujuannya, kalau market-nya lagi naik, yang dicari itu saham-saham pertumbuhan. Harusnya growth yang menang.
Tapi kalau kita lagi sekarang kayak gini, recovery kayak gini, ekonominya lagi melemah, yang dicari pertumbuhan? Boro-boro, yang dicari aman. Yang dicari high dividend. Bisa lihat, kami punya high dividend.
High dividend, pertumbuhan return-nya satu tahun terakhir itu 18%. Ke depan, dengan semakin dalamnya pemahaman investor, kalau pusing mau pilih apa, kami punya HD 20, 20 perusahaan di Indonesia dengan dividen tertinggi dan punya kinerja yang bagus 3 tahun terakhir.
Indeks HD 20 itu emiten yang masuk dalam index 30 atau bisa dari luar indeks?
Bisa. Jika dividennya tinggi. Itu kan yang dipilih oleh investor, bukan BNI AM yang milih. Jadi, ada orang lain di luar sana yang milih seperti itu, kita cuma nyiapin kendaraannya. Kalau orang senang sama produk itu, kenapa tidak?
Menurut Anda ini bisa menarik para investor kembali ke reksa dana?
Di luar negeri produk ini telah menjadi pilihan. Terlihat di Amerika, ada pergeseran dari active fund ke passive fund.
Apa alasan mereka lebih banyak bergeser ke passive fund?
Ini preferensi investor karena lebih mudah dipahami. Dari sisi monitoring juga lebih gampang. Walaupun sebetulnya jendela untuk investasi langsung juga bisa. Tapi risiko juga besar. Jadi balik lagi preferensi dari investor.
Kalau cara investasi itu kan ada dua pilihan besar, active fund dan passive fund. Tidak semua MI itu suka passive fund karena dia percaya dengan kemampuan fund manager-nya akan bisa beat the market. Tapi kalau pasif, dia ke indeks. Asumsinya apa? Namanya fund manager juga kan kadang-kadang ada salahnya juga. Ada kemungkinan dia miss. Ini yang mendorong preferensi orang ke passive fund.
Makanya itu juga tumbuh besar. Jadi awalnya pertama kali mungkin investornya adalah institusi, tapi lambat laun beralih juga, ngapain sih ke reksa dana atau main saham langsung? Kalau yang dicari adrenalinnya itu mungkin masih oke, main sendiri. Tapi itu kan jatahnya untuk main sendiri, bukan untuk investasi.
Untuk investasi orang-orang mungkin berpikir, kalau bisa kita investasi di perusahaan yang 30 tahun lagi masih ada. Di produk reksa dana indeks, tiap kuartal konstituennya dinilai, yang jelek dibuang. Itu yang buat investor nyaman. Portfolionya akan di-refresh tiap 3 bulan. Jadi risiko investor punya barang yang jelek di dalam portfolio itu akan minimal.
Apa keistimewaan kelompok index ini buat investor?
Saya sengaja buat Family of Index. Dan orang bisa switching atas permintaan mereka. Jika nasabah gak mau yang high dividend karena ekonominya lebih bagus sehingga mau investasi dengan karakter growth, bisa. Lalu dari growth mau defensif lagi, balik lagi ke IDX30 bisa.
Akan ada produk reksa dana baru tahun ini?
Tergantung dari appetite investor. Diluncurkan Reksa dana indeks Prime Bank dan High Dividend itu hasil ketemu klien, apa yang mereka mau. Ini kebutuhan dari pasar yang kita coba provide. Kemarin orang mungkin gak begitu melihat ini, High Dividend misalnya dividend yield-nya sebesar 7,3%. Kebayang gak, main saham bisa dapat dividend yieldnya 7,3%. Sementara kalau kita bicara HD 20 setahun tingkat return-nya 18%, dan 7% berasal dari dividen.
Sementara bunga deposito berapa? Ada saham yang bisa ngasih dividen lebih tinggi dari deposito, ditambah capital gain. Masak sih gak mau. Apalagi tahun ini bukan tahun yang ekspansif gila-gilaan oleh emiten. Mereka masih defensif.
Ada semacam konsensus tahun ini adalah tahunnya reksadana pendapatan tetap. Anda setuju?
Tahun ini backdrop gedenya AS akan menurunkan suku bunga karena perlambatan ekonomi. Kalau suku bunga the Fed turun, harusnya Indonesia juga turunkan suku bunga. Ini yang jadi katalis positif kenapa bond menarik. Saya setuju dengan view bahwa tahun ini tahunnya reksa dana pendapatan tetap.
Bicara pendapatan tetap ada dua, jangka panjang atau long end dan medium. Tapi kalau kita lihat tingkat yield-nya berkisar dari 6 hingga 6,6 - 6,8 antara yang medium dan long end. Cuma 0,6% bedanya antara yang 1 tahun sama 30 tahun. Jadi bisa dibilang suku bunga kita itu flat.
Kondisi ini bisa dibilang Ini gak wajar. Gak setiap saat ada. Harusnya sesuai teorinya high risk high return.
Kondisi seperti ini terjadi karena covid. Bahkan di Amerika Itu yield obligasi tenor 10 tahunnya 4,2%, sementara tenor satu tahun 5%, terbalik. Orang dikasih insentif untuk masuk ke yang jangka pendek, dengan harapan tahun depan akan turun.
Kondisi seperti ini bagus juga buat pendapatan tetap, karena suku bunga akan turun. Kalau suku bunganya turun yang untung adalah obligasi. Seperti jungkat jungkit, kalau suku bunga turun Harga obligasi naik. Kalau suku bunga naik harga obligasi turun. Ini relasi harga obligasi dan suku bunga.
Pembatasan unit link untuk ke reksa dana berbasis SBN apakah membatasi gerak masuk dana ke reksa dana?
Ya, sekarang mereka larinya ke KPD. Di kita juga ada beberapa investor masuk ke KPD. Peraturan ini sifatnya masih baru. Tapi bisa dibilang reksa dana dari dulu banyak dipegang asuransi. Mostly itu investor institusi. Industri Reksa dana yang sehat itu bukan dari investor institusi, harusnya justru kita-kita (ritel).
Dengan banyaknya investor retail di reksadana, otomatis pendalaman market juga semakin besar. Jika ada peraturan yang membuat porsi industri turun, harusnya bisa diimbangi inflow dari retail.
Apakah ada aturan yang jadi ganjalan di industri reksadana?
Peraturan itu bagian dari pendewasaan bagi semua pihak. Kita kerja bareng-bareng. Dan kemarin kita gencarin masalah literasi. Literasi itu satu hal, bagus untuk mengetahui. Tapi kan harusnya setelah belajar itu mereka bisa memanfaatkan. Nah ini yang harus terus dilanjutkan, supaya masyarakat nanti masuk berinvestasi seperti slogan reksa dana, ‘’pahami, nikmati”. Pendewasaan dari MI itu juga harus ditingkatkan. Diiringi pengawasan regulator soal governance. Investornya pun butuh pendewasaan. Peraturan-peraturan yang ada sekarang itu jangan dilihat sebagai hambatan. Berat tapi memang harus dilalui. Misalnya jual produk harus mengenal nasabah, risk profiling.
Apakah aset kripto jadi ancaman bagi industri?
Kalau orang di kripto ada KYC (know your costumer)-nya gak. Gimana tuh? Supaya level of playing field nya fair. Itu harus diatur. Kalau enggak lari ke sana (kripto) semua. Ini bukannya minta dipersulit (transaksi kripto), tapi coba buat level of playing field nya itu sama. Orang harus tahu juga gimana penanganannya dan secara undang-undang. Ini sebetulnya untuk melindungi investor.
BNI AM termasuk yang besar penjualannya lewat fintech dan agregator?
Kita mungkin ada 28 agen penjualan reksa dana, sebagian besar itu fintech.
Berapa porsi total dana kelolaan yang didapat dari fintech dan agregator?
Masih kecil gak sampai 10% dari total AUM kita. Aset tahun kemarin itu sekitar Rp 31 triliun. Secara revenue itu retail atau agen penjual seperti itu bertribut ke bottom line kita lumayan bagus. Kita juga shift business model kita, dulu BNI AM lebih ke institusi, sekarang kita udah punya divisi agen penjual khusus retail. Retail kita melalui agen penjual, ada bank, ada sekuritas, juga fintech. Kecil dari sisi AUM, tapi investor ritel kita dari sisi jumlah besar sekali, di atas 90% porsinya dibandingkan institusi. Investor institusi kita mungkin gak sampai 100, tapi investor ritel kita ratusan ribu.
AUM per Desember 2023?
Kira-kira Rp 34 triliun. Alhamdulillah selama saya disini pertumbuhan BNI AM selalu bisa delivered ke shareholder itu di atas rata-rata. Saat industri itu turun 0,1%, kita masih tumbuh di atas itu. Lucky lah kita sampai sekarang.

