Laba Tren Melesat, Target Saham Nusantara Sejahtera (CNMA) Kian Menggiurkan
JAKARTA, Investortrust.id – PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA), perusahaan pemilik dan pengelola Bioskop 21 dan Cinema XXI, berpotensi mencetak pertumbuhan kinerja keuangan pesat ke depan, seiring dengan pertumbuhan pendapatan Masyarakat bersamaan dengan peningkatan konsumsi.
CNMA bergerak di bidang pemutaran film dan perusahaan induk, restoran, konsultasi manajemen lainnya, penyewaan venue, serta penyelenggaraan aktifitas MICE. Saat ini, CNMA mengoperasikan bioskop dengan merek dagang Bioskop 21 dan Cinema XXI denga total 1.216 layar di 225 lokasi bioskop yang tersebar di seluruh Indonesia.
Baca Juga
Mandiri Sekuritas: IHSG Menguju Resistance 7.050, Pantau 4 Saham Ini
Analis Indo Premier Andrianto Saputra dan Lukito Supriadi dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, dua hari lalu, menyebutkan bahwa CNMA berada dalam posisi terbaik untuk menangkap keuntungan dari tren peningkatan pendapatan dan konsumsi masyarakat. Apalagi di tengah masih minimnya pilihan hiburan di Indonesia.
Euromonitor menyebutkan bahwa pendapatan per kapita penduduk Indonesia diperkirakan menigkat menjadi US$ 3.209 pada 2025, dibandingkan realisasi tahun 2022 sekitar US$ 2.637. Sedangkan penetrasi bioskok nasional masih jauh di bawah hanya 7,6%, dibandingkan dengan Malaysia/India/Thailand masing-masing sudah mencapai 41%/8,1%/12,9%. “Penetrasi yang rendah ini menjadi peluang besar bagi CNMA untuk meningkatkan penetrasi ke depan,” tulis riset tersebut.
CNMA, sebut Indo Premier Sekuritas, didukung atas gencarnya aksi peningkatan jaringan bioskop hingga ke kota-kota tier 2 dan 3. Hal ini diharapkan dapat mendongkrak penetrasi pasar hingga pendapatan perseroan dalam jangka panjang.
Baca Juga
“Dengan ekspansi ke kota tier 2 dan 3, perseroan bisa menekan biaya sewa gedung dan tenaga kerja. Kompetisi juga lebih rendah dan kecenderung film-film yang diminati berasal dari produksi dalam negeri,” terangnya.
Selain kedua faktor tersebut, sekuritas itu mengungkapkan, monetisasi segmen bisnis lainnya yang berhubungan dengan bioskop akan melambungkan keuangan perseroan. Bahkan, segmen tersebut menawarkan margin keuntungan jauh lebih pesat, dibandingkan penujalan tiket bioskop.
Di antaranya, segmen food and bavarage (F&B) yang menghasilkan margin keuntungan tinggi. Terlihat peningkatan kontribusi penjualan F&B terhadap total pendapatan adri 40% tahun 2019 menjadi 53% pada 2022.
“kami memperkirakan kontribusi segmen F&B akan terus bertambah hingga mencapai level 68% pada 2025, seiring dengan gencarnya optimalisasi pendapatan dari segmen tersebut,” tulis Andrianto dan Lukito.
Pertumbuhan kinerja keuangan, terang riset tersebut, juga bakal didukung tren peningkatan okupansi jaringan bioskop yang dikelola perseroan dengan target mencapai 29% tahun 2024 dan diperkirakan naik menjadi 30% pada 2025, dibandingkan tahun 2019 sekitar 36,8%.
Baca Juga
Jakarta Bertengger di Posisi Kedua Kualitas Udara Terburuk Dunia
“Peningkatan daya beli masyarkat juga diharapkan memulihkan okupansi jaringan bioskop perseroan. Sedangkan jumlah pengunjung diperkirakan meningkat menjadi 79 juta tahun ini dan diharapkan kembali naik menjadi 109 juta pada 2024,” terangnya.
Target Harga
Berbagai faktor tersebut mendorong Indo Premier merekomendasikan beli saham CNMA dengan target harga Rp 350. Target tersebut juga mengasumsikan lompatan laba bersih perseroan tahun 2023 menjadi Rp 662 miliar dan kembali melesat menjadi Rp 1,36 triliun tahun 2024.
Dengan penutupan harga Rp 276 kemarin, potensi cuan saham CNMA masih terbuka lebar mencapai 26,81%. Target tersebut juga mempertimbangkan perkiraan PER tahun ini sekitar 34,5 kali dan menjadi 16,7 kali untuk 2024.
Baca Juga
Indo Premier memperkirakan lompatan pendapatan perseroan menjadi Rp 5,34 triliun tahun 2023 dan menjadi Rp 7,66 triliun pada 2024. Sedangkan laba bersih diharapkan melesat menjadi Rp 662 miliar tahun ini dan menjadi Rp 1,36 triliun pada 2024.
Nusantara Sejahtera (CNMA) dikendalikasi PT Harkatjaya Bumipersada (53,9%), Salween Investment Private Limited (22,5%), dan PT Adi Pratama Nusantara (13,5%). Sedangkan pihak pengendali dan pemilik manfaat sebenarnya (ultimate beneficial owner) terdiri atas Benny Suherman, Cisca Widjaja, Suryo Suherman, Melia Suherman dan Arif Suherman.

