Potensi Libatkan Asing Jadi Pengguna Jasa Bursa Karbon, Ini Kata BEI
JAKARTA, Investortrust.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) buka suara mengenai keterlibatan pihak asing dalam transaksi di Bursa Karbon Indonesia.
Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa posisi BEI adalah menggelar perdagangan karbon di pasar sekunder. Sementara, pasar primer ada pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Sementara terkait boleh atau tidaknya keterlibatan asing dalam bursa karbon, Jeffrey menjelaskan bahwa hal itu bukan semata-mata keputusan Bursa, melainkan keputusan bersama.
Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) 14 pasal 3 ayat 3, dijelaskan bahwa Penyelenggara Bursa Karbon dapat memfasilitasi perdagangan Unit Karbon dari luar negeri yang tercatat di SRN PPI atau unit karbon yang tidak tercatat di SRN PPI, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Kebijakan mengenai apakah asing boleh atau tidak menjadi pengguna jasa, itu telah menjadi kewenangan dari beberapa pihak yang menjaga emisi Indonesia, yakni OJK, kementerian, dan lembaga terkait,” tutur Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (31/01/2024).
Baca Juga
BEI Optimistis, Pengguna Jasa Bursa Karbon Capai 100 Pihak di 2024
Ketika disinggung mengenai perdagangan bursa karbon yang cenderung lesu, Jeffrey mengungkapkan bahwa hal itu adalah proses natural yang harus dihadapi.
“Sebenarnya dengan adanya kebijakan yang ada, mungkin ini adalah faktor natural yang harus dihadapi,” jelasnya.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis jumlah pengguna jasa bursa karbon dapat melampaui 100 pihak pada 2024 dengan memperhitungkan tercapainya integrasi sistem Apple Gatrik dengan sistem registrasi nasional pengendalian perubahan iklim (SRN-PPI).
“Kalau pengguna jasa menjadi lebih dari 100, kami optimistis. Target kami adalah penambahan 50, paling tidak. Artinya, kalau di akhir tahun kemarin itu 46, akhir tahun 2024 paling tidak 96. Ya silahkan ditambah,” ujar Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik di Gedung BEI, Senin (29/1/2024).
Menurut data yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia, transaksi pada perdagangan IDXCarbon hingga 28 Desember 2023 telah terdapat lebih dari 1,7 juta tCO2e carbon credit tercatat dan total volume 494.254 tCO2e telah diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp30,91 miliar oleh 46 registered users.
