Ini Yang Bikin Gen Z Rentan Terlilit Utang
JAKARTA, investortrust.id - Gen Z atau Generasi Z merupakan generasi yang lahir di antara tahun 1997 sampai 2012. Dilansir dari The Guardian, Gen Z merupakan generasi dengan populasi terbesar secara global. Bukan hal yang aneh apabila dikatakan Gen Z memiliki pengaruh tinggi terhadap pergerakan ekonomi atau kondisi finansial secara umum.
Gen Z juga disebut sebagai generasi yang memiliki kekuatan finansial cukup signifikan. Namun, mereka cenderung memiliki sikap boros dan konsumtif. Menurut data Katadata, banyak Gen Z yang terlilit utang pinjol. Ini didukung oleh data Otoritas Jasa Keuangan per Agustus 2023, total utang pinjol untuk nasabah usia 19-34 tahun mencapai Rp 25,9 triliun.
Hal ini bisa jadi disebabkan karena ada beberapa kebiasaan Gen Z yang tanpa sadar juga membuat mereka rentan terlilit utang, antara lain:
Kesulitan Mengontrol Gaya Hidup
Gaya hidup konsumtif, boros, dan selalu menghamburkan uang adalah dasar dari masalah keuangan serius di masa yang akan datang. Walaupun memiliki kondisi finansial yang cukup kuat, perlahan tapi pasti, keuangan bisa jadi terganggu karena tidak mampu mengontrol gaya hidup. Hal ini seringkali tidak didukung dengan memiliki sisa dana untuk dijadikan tabungan atau dana darurat. Jadi, jika ada kebutuhan atau masalah keuangan yang mendesak, Gen Z akan kesulitan mengatasinya dan terpaksa mengajukan pinjaman uang atau berutang.
Baca Juga
Meneropong Saham-Saham IDX30 Terbaik dengan Reksa Dana Indeks
Ketagihan Layanan Kartu Kredit
Kebiasaan menggunakan kartu kredit dalam setiap transaksi pembayaran merupakan pemicu masalah keuangan Gen Z berikutnya. Penggunaan kartu kredit untuk berbelanja dapat membuat tagihan membengkak karena adanya bunga dan biaya layanan.
Hal ini dapat diperburuk apabila kartu kredit tersebut digunakan untuk membeli barang atau kebutuhan yang sifatnya tidak mendesak. Ini bisa memberikan pengaruh buruk pada kondisi keuangan dengan beban cicilan yang terus bertambah dan semakin menggunung setiap bulannya. Penggunaan kartu kredit secara bijaksana sangat diperlukan.
Terjebak Paylater
Layanan paylater dengan beragam penawaran menggiurkan saat ini bertebaran di mana-mana. Syarat penggunaan yang mudah pun membuat Gen Z tertarik untuk memanfaatkannya. Layanan paylater ini memang bisa menjadi sangat menguntungkan jika digunakan dengan cara yang tepat. Sayangnya, kebanyakan Gen Z menggunakannya secara berlebihan hingga tidak sadar malah terlilit utang.
Harus dipahami bahwa paylater bukan alat untuk mendapatkan tambahan dana demi memenuhi hasrat belanja. Apalagi, setiap tagihan belanja yang dibayar melalui paylater harus dikembalikan sesuai waktu dan jumlah yang sudah ditentukan ditambah tambahan bunga dan biaya layanan.
Baca Juga
'Expect the Unexpected', Siapkan Keuangan untuk Kondisi tak Terduga
Untuk itu, idealnya paylater hanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak dan penting.
Gen Z bisa lebih cermat dalam mengatur dan menggunakan uang yang dimiliki. Dengan begitu, anggapan bahwa Gen Z rentan terlilit utang dapat dipatahkan. Pertimbangkan untuk bisa menyimpan uang ekstra yang dimiliki dalam berbagai bentuk tabungan, atau menumbuhkan nilainya melalui investasi yang sesuai dengan pilihan risiko masing-masing.
Reksa dana dapat dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen investasi yang bisa diaplikasikan. Ada berbagai produk reksa dana yang diterbitkan berbagai manajer investasi. Salah satunya adalah dari manajer investasi Principal Indonesia (PT Principal Asset Management).
Principal Indonesia (PT Principal Asset Management), merupakan perusahaan patungan antara Principal Financial Group®, anggota dari FORTUNE 500® dan layanan keuangan global yang terdaftar di Nasdaq, dengan CIMB Group Holdings Berhad, salah satu grup perbankan dunia yang terkemuka di Asia Tenggara.
Baca Juga
Principal Asset Management Tawarkan Solusi Diversifikasi Investasi di 2024
Principal Indonesia berfokus untuk memberikan keamanan finansial bagi setiap orang dengan keahlian khususnya di investasi reksa dana. Saat ini, Principal Indonesia telah melayani lebih dari 32.000 investor di Indonesia dan memiliki dana kelolaan sebesar Rp 3,825 triliun per 29 Desember 2023.
Kenali Principal Indonesia lebih lanjut melalui website kami di www.principal.co.id
Peringatan: Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
PT Principal Asset Management berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

