BRI Beri Dividen Interim Rp 12,7 Triliun, Negara Kantongi Segini
JAKARTA, Investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI telah membayarkan dividen interim senilai Rp 12,7 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 6,8 triliun disetorkan ke pemerintah, dan sisanya yaitu Rp 5,9 triliun diberikan ke publik.
Direktur Utama BRI, Sunarso mengatakan, pemberian dividen interim ini menjadi komitmen BRI dalam menciptakan value, baik dari sisi economic value maupun social value khususnya bagi para shareholders.
”Keberhasilan yang telah kita raih tidak hanya mencerminkan ketahanan kita dalam merespons berbagai tantangan, tetapi juga menegaskan tekad kita untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi negara dan masyarakat Indonesia,” ujarnya, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (19/1/2024).
Sunarso melanjutkan, BRI memiliki potensi untuk membagikan dividen payout ratio lebih tinggi dari kondisi normal. Hal tersebut tercapai ketika BRI membayarkan 85% dari net profit tahun 2021 dan 2022 kepada shareholders sebagai dividen
“Perseroan memastikan pembagian dividen interim ini tidak mengganggu permodalan BRI dan di sisi lain semua kebutuhan investasi, seperti investasi untuk IT telah terpenuhi serta cadangan untuk meng-cover berbagai risiko telah disediakan dengan memadai,” katanya.
Baca Juga
Performa Keuangan BRI
Dikatakan Sunarso, keputusan pihaknya membagikan dividen interim tersebut tidak lepas dari performa keuangan yang apik, setidaknya hingga kuartal ketiga 2023.
”BRI mampu menjaga profitabilitas yang berkelanjutan serta pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang solid, dibarengi dengan kualitas aset yang terjaga dengan baik,” terang Sunarso.
Hingga September 2023, kredit yang disalurkan bank pelat merah ini tumbuh 12,53% secara tahunan menjadi Rp 1.250,72 triliun. Penyaluran kredit untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga tumbuh 11,01% atau dari Rp935,86 triliun pada September 2022 menjadi Rp 1.038,90 triliun. Alhasil, porsi kredit UMKM BRI terhadap total kredit mencapai 83,06%.
“BRI juga mampu menjalankan fungsi intermediasi dengan diimbangi manajemen risiko yang baik. Hal tersebut tercermin dari rasio NPL (non performing loan) BRI secara konsolidasian yang manageable dan terus menurun di level 3,07%,” jelas Sunarso.
Dalam upaya mendorong penyaluran kredit, BRI telah menyiapkan pencadangan yang cukup sebagai langkah antisipatif. Ini terlihat dari NPL coverage BRI yang sebesar 228,56%, dengan menggunakan pencadangan tersebut untuk melakukan write off atas kredit yang mengalami pemburukan.
Sementara, untuk DPK yang berhasil dihimpun BRI mencapai Rp 1.290,29 triliun. Dana murah atau current account saving account (CASA) menjadi pendorong utama pertumbuhan DPK, dimana meningkat 13,21% secara tahunan.
“Kemampuan BRI dalam menyalurkan kredit dan pembiayaan juga didukung dengan likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat. Hal ini terlihat dari LDR (loan to deposit ratio) bank secara konsolidasian yang terjaga di level 87,76% dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 27,48%,” pungkas Sunarso.
Dari sisi aset secara konsolidasian juga naik 9,93% menjadi Rp 1.851,97 triliun. Hal ini juga dibarengi dengan laba dalam sembilan bulan yang mencapai Rp 44,21 triliun atau tumbuh 12,47%. (CR-13)

