United Tractors (UNTR) Tambah Akuisisi Saham Supreme Energy menjadi Rp 804,01 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) melalui anak usahanya PT Energia Prima Nusantara (EPN) telah menandatangani ademdum peningkatan nilai akuisisi saham di perusahaan pengembangan pembangkit listrik geothermal, PT Supreme Energy Sriwijaya, dari Rp 634,94 miliar menjadi Rp 804,01 miliar
Kenaikan nilai akuisisi tersebut sejalan dengan addendum penambahan jumlah saham Supreme Energy Sriwijaya (SES) yang diakuisisi dari semula 40,476% menjadi 49,6%.
Corporate Secretary UNTR Sara K Loebis mengatakan, EPN akan menambah jumlah yang diambil dalam penerbitan saham baru SES dari semula 40,476% senilai Rp 634,94 miliar menjadi 49,6% senilai Rp 804,01 miliar.
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Gandeng Energia Pasang PLTS Off-Grid di Area Kerja Pamapersada
“Berdasarkan amandemen perjanjian pengambil bagian (SSA), EPN akan mengambil bagian saham-saham baru dala SES menjadi sebanyak 948,127 saham atau setara dengan 49,6% dari total saham yang dikeluarkan SES. Nilai transaksinya mencapai US$ 51,87 juta atau Rp 804,01 miliar,” tulisnya dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/12/2023).
Perseroan sebelumnya mengumumkan akan mengakuisisi sebanyak 66,7% saham perusahaan holding yang bergerak di bidang tambang nikel, PT Anugerah Suraya Pacific Resources (ASPR). Nilai akuisisnya mencapai Rp 1,64 triliun.
Baca Juga
Didukung Segmen Ini, Target Saham United Tractors (UNTR) Direvisi Naik ke Rp 30.600
Akusisi mayoritas saham ASPR dilakukan perseroan melalui anak usahanya PT Danusa Tambang Nusantara (DTN). Sedangkan penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat (Conditional Shares Sale and Purchase Agreement/CSPA) 66,7% ASPR direalisasikan UNTR melalui anak usahanya DTN pada 16 Oktober 2023.
Pembelian sebanyak sebanyak 66,7% saham ASPR dilakukan dengan pengambil alihan sebanyak 33,33% ASPR dari PT Kirana Pascama (KP). Perseroan juga akan mengambilalih masing-masing sebanyak 16,67% saham ASPR dari PT Bintang Prima Investama (BPI) dan PT Anugerah Dayakaya Angkasa (ADA).

