Kiat Astra (ASII) Pertahankan Pasar di Tengah Gempuran Mobil China
JAKARTA, investrtrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) tengah menghadapi tantangan besar di tengah kebangkitan mobil listrik di Indonesia. Apalagi, agen Tunggal pemegang merek (ATPM) otomotif raksasa dari China gencar memasarkan produk mobil listrik dengan harga terjangkau di Indonesia.
“Pabrikan otomotif asal China gencar membidik pasar otomotif Indonesia dengan menwarakan mobil listrik harga terjangkau, teknologi paling canggih, dan tenaga mesin yang besar. Menariknya lagi, produsen mobil China satu-satunya yang bisa menawarkan mobil listrik dengan harga di bawah Rp 500 juta,” tulis analis Sucor Sekuritas Christofer Kojongian dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan ini.
Baca Juga
Penurunan Saham Astra (ASII) Parah! Bagaimana Fundamentalnya?
Selain harga bersaing dengan mobil internal combustion engine (ICE), dia mengatakan, mobil listrik buatan China didukung fitur canggih dan tenaga yang lebih kuat, dibandingkan mobil buatan Jepang, seperti yang dijual Astra International.
Ketidakpastian makin menjadi-jadi setelah BYD merangsek masuk ke Indonesia dengan menjual beberapa produk mobil listrik dengan harga terjangkau. BYD sendiri berniat membuka 50 dealer mobil tahun ini. Selain itu dikabarkan beberapa produsen mobil listrik asal China, seperti Ora, Haval, dan Tank juga tertarik masuk ke Indonesia.
“Kami melihat bahwa penyelenggaran pameran otomotif IIMS bulan depan akan memperlihat proyek lebih jelas terkait prospek mobil listrik di Indonesia, termasuk pangsa pasarnya,” terangnya.
Baca Juga
Insentif Mobil Listrik Bertambah, Tantangan Astra International (ASII) Bertambah
Market Share Jepang
Tren penurunan pangsa pasar mobil buatan Jepang di Indonesia telah terlihat dalam tiga tahun terakhir setelah Korea dan China agresif membawa produk-produk baru ke Indonesia. Berdasarkan catatan, penetrasi mobil merk Jepang telah turun dari 90% menjadi 80% dalam tiga tahun terakhir.
“Kami memperkirakan pangsa pasar mobil Jepang akan kembali tergerus dipicu gencarnya pabrikan Korea dan China membidik pasar di Indonesia dengan menawarkan mobil fitur melimpah, tenaga besar, dan harga terjangkau,” tuturnya.
Ekspektasi penurunan mobil besutan Jepang juga didukung kebijakan pemerintah yang mendukung peningkatan penetrasi pasar mobil listrik di Indonesia, seperti subsidi PPN mobil listrik.
Baca Juga
Inilah Mobil Listrik Terlaris di China, BYD Ungguli Tesla
Sejumlah faktor tersebut akan membuat Astra International (ASII) menghadapi tantangan berat, apalagi segmen bisnis otomotif berkontribusi sektiar 50-60% terhadap total pendapatan. Sedangkan sumbangannya terhadap laba bersih berkisar 50-70%.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk menetapkan target rata-rata pertumbuhan tahunan bisnis otomotif mencapai 3,8% dalam lima tahun ke depan. Penurunan tingkat pertumbuhan penjualan otomotif tersebut juga bisa berimbas terhadap bisnis keuangan perseroan.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas merevisi rekomendasi saham ASII menjadi hold dengan target harga dipangkas menjadi Rp 5.400. Target tersebut juga mempertimbangkan revisi proyeksi kinerja keuangan perseroan tahun 2024-2025.
Sedangkan berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ASII telah anjlok mencapai 10,2% sepanjang Januari 2024 berjalan. Bahkan saham ASII satu dari tiga saham dengan penyumbang terbesar terhadap penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) bulan ini.
Estimasi Kinerja Keuangan ASII
Sumber: Sucor Sekuritas
