Begini Kinerja Saham Bank 5 Besar Ytd, Siapa Yang Tercuan?
JAKARTA, investortrust.id – Dari lima saham bank dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi saham dengan tingkat penguatan paling pesat sepanjang tahun 2024 berjalan atau year to date (ytd).
Sedangkan empat saham bank besar lainnya, BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI menjadi saham-saham perbankan yang berhasil torehkan harga tertinggi baru (all time high/ATH) sepanjang masa pada Maret 2024. Namun memasuki April 2024, pergerakan harga saham empat bank besar menunjukkan penurunan dalam.
Baca Juga
BSI Sebut Kehadiran Bank Syariah Hasil Akuisisi Akan Jadi ‘Sparing Partner’
Data BEI periode perdagangan awal tahun hingga penutupan perdagangan 5 April 2024 atau sebelum libur panjang lebaran, saham BRIS menjadi satu-satunya saham bank dengan lompatan harga paling pesat mencapai 55,1%. Saham bank syariah terbesar di Tanah Air ini melesat dari level penutupan akhir tahun 2023 Rp 1,740 menjadi Rp 2.700 pada penutupan perdagangan saham sebelum libur lebaran.
Bahkan, harga saham tersebut tertinggi terhitung sejak Maret 2021 dan mendekati level tertinggi sepanjang masa lebih dari Rp 2.900. Rekor lompatan harga saham BRIS didukung penguatan kinerja keuangan yang pesat sepanjang tahun 2023 dan potensi berlanjutnya penguatan kinerja keuangan ke depan.
Saham bank besar dengan kenaikan pesat lainnya dicatatkan saham BMRI dengan penguatan 12,8% ytd, saham bank pelat merah ini menguat dari level Rp 6.050 menjadi Rp 6.825. Bahkan, saham ini sempat menyentuh rekor penutupan tertingig level Rp 7.400 pada 15 Maret 2024.
Penguatan selanjutnya dicatatkan saham BBCA dengan kenaikan ytd mencapai 4,5% dari Rp 9.400 menjadi Rp 9.825. Meski kenaikan tipis, saham BBCA ternyata mencatatkan ATH baru sepanjang masa tahun ini pada 14 Maret 2024 di level Rp 10.325.
Baca Juga
Asing Net Sell Saham Sepekan Rp 11,41 Triliun, Empat Saham Bank Ini Penyumbang Utama
Sedangkan dua saham bank papan atas lainnya justru mencatatkan penurunan harga tipis ytd, yaitu saham BBRI turun 1,3% dari Rp 5.725 menjadi Rp 5.650 dan saham BBNI turun 1,3% dari Rp 5.375 menjadi Rp 5.300.
Meskipun saham BBRI dan BBNI menunjukkan penurunan harga terhitung sejak akhir 2023 hingga perdagangan terakhir sebelum libur lebaran ini, dua saham ini ternyata berhasil torehkan lompatan harga ke level tertinggi baru sepanjang masa tahun ini. Saham BBRI cetak ATH penutupan Rp 6.400 pada 13 Maret dan BBNI bukukan ATH penutupan Rp 6.225 pada 14 Maret 2024.
Prospek Bank
Analis RHB Sekuritas Wan Muhammad Ammar, David Chong, dan Andrey Wijaya dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa saham emiten bank dinilai tetap menarik, meskipun terjadi tekanan jual dalam beberapa hari terakhir. Optimisme didukung kondisi politik membaik usai pilpres, pemangkasan suku bunga, dan peningkatan permintaan kredit.
“Kami baru-baru ini bertemu dengan manajemen enam bank yang diriset RHB Sekuritas. Dari pertemuan tersebut terungkap pandangan positif manajemen terhadap outlook pertumbuhan kredit bank kuat setelah pemilu satu putaran rampung,” tulisnya dalam risetnya.
Baca Juga
Prospek Bank Investasi Global Membaik, Merger dan Akuisisi Bakal Marak
Meski demikian tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM) bank berpotensi tinggi setidaknya hingga ada pelonggaran aturan GWM atau penurunan tingkat suku bunga perbankan. Penurunan NIM memang bisa memicu keuntungan bank kuartal I tahun ini lebih rendah dari perkiraan.
Tekanan terhadap NIM dipengaruhi ketatnya likuiditas selama periode lebaran dan pembagian dividen. “Kami menduga peningkatan permintaan kredit ditambah likuiditas ketat memperbesar tekanan terhadap NIM bank kuartal I tahun ini,” terangnya.
Salah satu pemicu saham sektor bank tetap kuat, menurut RHB Sekuritas, adalah tuntasnya pemilihan umum presiden satu putaran yang berimbas terhadap permintaan kredit akan meningkat. Kepastian politik tersebut mempercepat ekspansi korporasi yang tentu percepatan pencairan kredit.
Baca Juga
OJK: Perbankan Siap Hadapi Berakhirnya Stimulus Restrukturisasi Dampak Covid-19
Penguatan saham bank juga didukung atas ekspektasi likuiditas akan mulai melonggar setelah lebaran ini. Pelonggaran likuiditas juga akan didukung rencana The Fed memangkas suku bunga pada semester II tahun ini yang bisa mendorong Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter, seperti penurunan GWM dan pemangkasa tingkat suku bunga. Perbaikan juga didukung keinginan sejumlah bank untuk menaikkan bunga pinjaman kembali.
Meski demikian, RHB Sekuritas menyebutkan, harga saham bank diprediksi bisa lanjut tertekan dalam jangka pendek. Tekanan dipicu aksi ambil untung setelah harga melesat awal tahun dan antisipasi investor terhadap laporan kinerja keuangan emiten bank kuartal I-2024 di bawah ekspektasi.
Tekanan harga saham bank, terang RHB Sekuritas, juga datang dari kekhawatiran pemotongan The Fed akan mundur dari perkiraan semula yang tentu membuat pelonggaran kebijakan BI tertunda. Penurunan juga dipicu atas valuasi sejumlah saham bank sudah terlalu tinggi.
Berbagai faktor tersebut mendorong RHB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi overwieght saham bank dengan pilihan teratas saham BBNI, BMRI, BNGA, dan BBTN.
Prospek Saham Bank

