Berjajar Rencana Ekspansi, Begini Target Terbaru Saham Telkom (TLKM)
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dinilai masih memiliki daya tarik jangka panjang, seiring munculnya berbagai sentimen positif di industri telko.
Selain itu TLKM punya segudang strategi ekspansi yang diyakini akan memompa kinerja Perseroan di masa datang.
Analis PT Panin Sekuritas, Aqil Triyadi memandang, kondisi industri telko cenderung positif, didorong oleh konsolidasi beberapa operator telko dan diikuti dengan turunnya tensi perang tarif paket data.
Dampak dari konsolidasi industri tersebut sudah terlihat dari kenaikan ARPU di kuartal III-2023. Sementara itu, TLKM sendiri aktif mengembangkan Fixed Mobile Convergence (FMC) yang diyakini akan menjadi pendorong kinerja perseroan ke depan, ditambah dengan penggabungan Indihome dan Telkomsel akan berdampak terhadap efisiensi biaya di 2024.
Baca Juga
IHSG Awal Transaksi Menguat, Saham SHID, NICE, dan CGAS Melesat
‘’Kami juga melihat positif, perkembangan serat optik, data center serta pengembangan industri digital, yang akan menjadi katalis positif untuk perseroan,’’ urai Aqil dikutip dari riset yang diterbitkan, Selasa (9/1/2024).
Untuk itu pihaknya merekomendasikan ‘’BUY’’ untuk TLKM dengan target price Rp 4.700. Target ini mengimplementasikan EV/EBITDA sebesar 5 kali di 2024.
Adapun target price konsensus analis untuk saham TLKM berada di level Rp 4.640. Artinya potential upside TLKM mencapai 17,7% dari harga penutupan sebelumnya Rp 3.960 per saham.
Ekspansi Telkom
Berderet rencana kerja TLKM diyakini akan mendorong kinerjanya di masa datang, diantaranya pendirian entitas baru untuk konsolidasi InfraCo.
Diketahui, Perseroan berencana untuk menyelesaikan pendirian entitas baru yang mengkonsolidasikan infrastruktur telekomunikasi untuk berbagai jaringan atau InfraCo yang nantinya akan menjadi sumber pendapatan baru Telkom di segmen enterprise B2B.
InfraCo nantinya selain akan mengembangkan data center, juga akan mendorong kinerja perseroan melalui cakupan serat optik, menyediakan layanan telekomunikasi, dan mendorong penciptaan nilai tambah bagi pelanggan.
Baca Juga
Antisipasi Lonjakan Trafik di Libur Nataru, Telkom Group Tingkatkan Kapasitas 28 Tbps
Perlu diketahui, perseroan tengah menyiapkan kabel bawah laut Patara-2 yang merupakan sambungan kabel komunikasi laut (SKKL) yang akan menghubungkan sejumlah pulau di Indonesia. Perseroan telah menggandeng NEC Corporation, perusahaan asal Jepang dalam pembangunan sambungan kabel komunikasi laut Patara-2.
Selanjutnya Perseroan menjalin kerja sama dengan Huawei. Kerja sama ini dalam hal pembangunan layanan dan solusi B2B, termasuk eksplorasi peluang dari bisnis data center dan cloud.
Kemudian Perseroan menargetkan menjadi pusat data ceter di kawasan ASEAN. Melalui NeutraDC, perseroan optimistis di tahun 2025 menjadi market leader pada industri data center.
Perlu diketahui, hingga saat ini TLKM telah memiliki 30 fasilitas pusat data, terdiri dari 25 fasilitas berada di Indonesia dan 5 fasilitas di luar negeri, mencakup Singapura, Hong Kong, dan Timor Leste.
Adapun terkait sinergi dengan GOTO dinilai menghasilkan pertumbuhan 25%. Perseroan kembali menegaskan belum memiliki rencana untuk melepas investasi di GOTO, meski saham GOTO terus mengalami penurunan.
Manajemen TLKM mengatakan dari tahun 2022 hingga tahun ini sinergi dengan GOTO telah tumbuh 25%, dengan memanfaatkan kerjasama dengan mitra driver Gojek untuk menggunakan provider Telkmosel. ‘’Perlu diketahui hingga akhir 2022 sinergi TLKM dengan GOTO berhasil menghasilkan pendapatan sekitar Rp 1,4 triliun,’’ kata Aqil.
Baca Juga
Atas berbagai upaya yang dilakukan, serta sentimen positif industri, Panin Sekuritas memperkirakan kinerja TLKM bakal tumbuh lebih solid.
‘’Kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan perseroan di 6% - 8% YoY, ditopang oleh pertumbuhan industri telko, permintaan data, potensi perkembangan 5G, FMC, serta data center,’’ urai Aqil.
Sementara EBITDA diyakini akan tumbuh mid to high single digit di 2024. Adapun perseroan menargetkan EBITDA margin di tahun depan akan berkisar di 50% dengan guideline dividen payout ratio berada 60%-80% dari laba bersih.
Sebagai catatan, pada kuartal III-2023, Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 111,2 triliun atau 2,2% YoY dengan EBITDA tumbuh 4,4% YoY di September 2023. ‘’Hasil tersebut masih in-line dengan proyeksi kami di tahun 2023,’’ ulas Aqil.

