IHSG Mendadak Anjlok 1,75%, Ternyata Gara-gara Ini?
JAKARTA, investortrust.id – Penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan sesi I sebanyak 127,313 poin (1,75%), Senin (1/4/2024), menjadi 7.161,5. Sedangkan sektor saham keuangan menjadi penekan utama indeks.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan IHSG dipengaruhi sejumlah faktor, yaitu data inflasi di atas targetkan, rampungnya pembagian dividen saham-saham bank besar, dan sentimen dovish dari The Fed.
Baca Juga
Pemicu utama penurunan indeks berasal dari pelemahan saham bank papan atas dengan kapitalisasi pasar (market cap) jumbo, yaitu BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BRIS. Mengutip data RTI pada periode yang sama, harga saham BBCA melemah 2,23% menjadi Rp 9.850 sedangkan BBRI terkoreksi 3,31% menjadi Rp 5.850.
Selanjutnya harga saham BMRI tergerus 4,14% menjadi Rp 6.950 dalam perdagangan sesi I hari ini, penurunan terbesar dialami saham BBNI yang berkurang 5,08% menjadi Rp 5.600.
“Penurunan Saham bank dipengaruhi sentimen dividen yang mereda. Bank yang sudah cum dividen ada BRI dan Mandiri. Sementara BCA dan BNI masih menunggu cum dividen,” jelas Nafan kepada investortrust.id.
Baca Juga
Dunia Virtual Online (AREA) Optimistis Kinerja Tumbuh 30% Setelah IPO
Dengan begitu, ia menyimpulkan bahwa berlalunya masa cum dividen sejumlah bank otomatis membuat euforia pembagian dividen bagi kalangan investor sudah mulai mereda. “Di sisi lain, sentimen dovish dari The Fed juga sudah mereda sehingga Rupiah terdepresiasi ke level Rp 15.900-an,” sambung Nafan.
Dari sentimen dalam negeri lainnya, secara makro Nafan menjelaskan bahwa kenaikan inflasi periode Maret 2024 begitu tinggi, salah satunya akibat momen Ramadan yang diiringi kenaikan sejumlah bahan pangan. Kenaikan inflasi disebut-sebut mencapai di atas ekspektasi, alias mendekati kisaran yg ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI).
“Range maksimumnya soalnya berada dalam level 2,5 +-1%, berarti range maksimum di 3,5% mudah-mudahan saja ke depannya stabilitas inflasi bisa terjadi karena dengan demikian BI punya keyakinan kuat untuk melonggarkan kebijakan moneternya,” tutup Nafan.

