Jangan Sampai Lolos! ITMG, INDY dan ADRO Masuk Daftar Saham Undervalued
JAKARTA, investortrust.id – Pergerakan saham-saham sektor energi punya korelasi kuat dengan harga minyak mentah dunia. Ketika harga minyak naik biasanya saham-saham sektor terkait menguat.
Begitu pula sebaliknya, saat harga minyak mengalami tren turun, maka saham-saham sektor energi akan diabaikan. Ini kaitannya dengan kebutuhan energi yang tidak bisa ditunda. Ketika minyak mahal, sumber energi lain seperti batu bara, gas dan lainnya bakal dipilih.
Harga minyak dan komoditas sempat menguat lantaran kondisi geopolitik dunia yang meluas. Perang Rusia versus Ukraina yang masih berlangsung, ditambah dengan memanasnya Kawasan Timur Tengah karena perang Israel versus Hamas.
Kini sentimen perang tidak lagi jadi momok, terlebih terjadi pelambatan ekonomi di Tiongkok yang berpotensi memangkas permintaan minyak.
Baca Juga
Wajib Tahu! Ini 10 Saham Sektor Keuangan dengan Valuasi Termurah dan Termahal
Tren penurunan demand terlihat tercermin pada kondisi mulai turunnya harga minyak mentah sepekan terakhir, periode 6-10 November 2023.
Hingga Jumat kemarin (10/11/2023), harga minyak WTI tercatat turun ke kelevel US$ 76,07 dolar per barel, turun 5,51% dari pekan sebelumnya. Sedangkan jenis brent turun 5,25% sepekan ke level US$ 80,42 dolar dibanding pekan sebelumnya US$ 84,89 dolar per barel.
Meski begitu, penurunan ini tampaknya hanya sementara. Sebab dalam jangka yang lebih panjang, harga minyak dan komoditas diyakini masih berpotensi menguat.
Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta menilai, potensi penguatan harga komoditas menguat, seiring masuknya benua Eropa ke musim dingin. Dia bilang, biasanya saat winter permintaan energi meningkat.
Baca Juga
Harga Emas Batangan Antam Turun Rp 8.000 per Gram, Beli Selagi Diskon
Meski begitu, menurut Nafan kenaikan harga komoditas sumber energi tidak akan melonjak seperti saat sedang kuatnya sentimen perang Rusia – Ukraina tahun lalu.
‘’Saat harga komoditas sangat tinggi, terjadi supplay chain distrupstion, dan kondisi ini tidak terulang tahun ini,’’ papar Nafan.
Mengacu pada perkiraan tersebut, Nafan masih memandang positif saham-saham sektor berbasis energi. Terlebih pada saham-saham yang valuasinya masih menarik, sebab menurut dia ada berjejer saham sektor energi yang masih berpotensi menguat.
Sebaliknya tidak sedikit saham-saham di sektor ini yang sudah tidak layak beli karena valuasinya sudah terbilang mahal.
Untuk memberikan gambaran kepada pemodal terkait kondisi valuasi saham-saham sektor energi, Tim Litbang Investortrust telah menyaring, sejumlah saham sektor komoditas yang masih tergolong undervalue dan yang sudah overvalued.
Data yang tersaji mengacu pada posisi harga saham di penutupan perdagangan pasar saham, Jumat (10/11/2023). Adapun pengukurannya dilakukan berdasarkan posisi price earning ratio (PER) maupun price to book value (PBV) masing-masing saham dibanding saham lainnya pada sektor tersebut.
Saham yang masih undervalued tampak didominasi oleh emiten yang bergerak pada pertambangan batu bara, diantaranya PT Indotambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Indika Energy Tbk (INDY) dan juga saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO).
Sementara saham-saham yang patut diabaikan tentu yang sudah overvalued atau dengan performa kinerja memuaskan diantaranya saham PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI), kemudian PT Mitra Energi Persada Tbk (KOPI) hingga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Valuasi masing-masing saham tersebut terdapat dalam tabel yang disuguhkan Litbang investortrust.id pada artikel ini.

