Kendaraan Listrik Makin Populer, Intip Peluang Emiten Nikel dan EV
JAKARTA, investortrust.id - Kampanye penggunaan kendaraan listrik berkembang di Indonesia, bahkan mendapat dukungan subsidi dari pemerintah. Hal ini seiring dengan fakta Indonesia yang memiliki sumber daya alam nikel, komponen utama baterai.
Deputy Head of Research Sinarmas Sekuritas, Inav Haria Chandra, mengatakan, berkembangnya popularitas dan adopsi lendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) secara global menawarkan peluang signifikan bagi Indonesia, terutama untuk industri nikelnya.
“Tahun 2030, Wood Mackenzie memprediksi penjualan mobil listrik global akan meningkat dari 3 juta unit pada tahun 2021 menjadi 49 juta unit pada tahun 2040, atau dengan rata-rata peningkatan 16% per tahun,” ujar Inav melalui keterangan resmi yang diterima Rabu (27/3/2024).
Lebih lanjut, Inav menilai, permintaan nikel untuk produksi baterai diprediksi akan mengalami peningkatan permintaan dari 211 kilo ton pada tahun 2021 menjadi 700 kilo ton pada tahun 2030.
“Secara khusus, tren ini menguntungkan Indonesia dengan memungkinkan perusahaan nikel untuk mendapatkan deposit nikel limonit mereka,” kata dia.
Deposit limonit, yang secara historis tidak dimanfaatkan secara maksimal karena kandungan nikelnya yang lebih rendah dibandingkan dengan bijih saprolit, kini menjadi semakin berharga.
Baca Juga
Prospek Emiten Nikel Tak Sesuram Bayangan, Sekuritas Ini Ungkap Buktinya
Menurut Inav, keberadaan teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) menjadi game-changer bagi Industri nikel di Indonesia.
HPAL memungkinkan para penambang nikel di Indonesia untuk tidak hanya mengekstrak nikel dari bijih limonit dengan cara yang lebih efektif dan efisien tapi juga memproduksi MHP, sebuah produk intermediary yang kaya akan nikel dan kobalt.
“MHP berperan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan nikel sulfat, komponen kunci dalam pembuatan baterai yang diperlukan untuk kendaraan listrik,” ujar dia.
Selain itu, pendapatan deposit nikel limonit diharapkan dapat merangsang manfaat ekonomi yang signifikan bagi Indonesia, termasuk peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan kemajuan teknologi dalam industri penambangan dan pengolahan nikel.
Kemudian, teknologi HPAL diprediksi akan meraup biaya investasi sebesar US$ 50.000 atau sekitar Rp 784,7 juta per ton dari kapasitas produksi.
Dalam kurun waktu 2021-2026 diprediksi setidaknya akan terdapat 12 HPAL yang akan beroperasi di Indonesia dengan total kapasitas mencapai 957 ribu ton per tahun, diprediksi menelan biaya sekitar US$ 47 miliar.
Secara singkat, menurut Inav, kenaikan global EV merupakan keuntungan bagi Indonesia, di samping memberikan peluang emas bagi perusahaan nikel untuk memonetisasi cadangan nikel.
“Hal ini sejalan dengan dorongan global menuju elektrifikasi dan keberlanjutan lingkungan, Indonesia tidak hanya sebagai pemasok utama tapi juga sebagai kontributor penting dalam revolusi hijau,” pungkas Inav. (CR-5)

