Sucor Sekuritas Sebut IHSG Bisa Level 7.900, Ini Syaratnya
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal bisa menggapai level 7.900 pada akhir 2024.
Sucor Sekuritas menyebut, target level 7.900 bisa tembus dengan syarat kebijakan suku bunga sesuai skenario The Fed, yaitu adanya pemangkasan.
Melalui pemangkasan suku bunga kata dia, diharapkan dapat menyebabkan rupiah mengalami penguatan, kemudian bond yield mengalami penurunan hingga 5%.
Baca Juga
“Kalau ada pemotongan tingkat suku bunga, rupiah akan menguat, bond yield nya drop itu bisa mendorong indek kita ke level 7.900,” jelas Ekonom Sucor Sekuritas, Ahmad Mikail dalam Webinar Perubahan Ekonomi Indonesia di Tahun 2024 oleh Indonesia Investment Education, Sabtu (13/01/2024).
Dia kembali menegaskan bahwa angka tersebut dapat tercapai apabila situasi tidak berubah. Sebaliknya apabila situasi berubah dengan terjadinya perang yang semakin masif di Timur Tengah, kemudian menyebabkan harga energi dan tingkat suku bunga mengalami peningkatan, maka IHSG akan flat di angka level 7.300 - 7.500.
“Tapi kalau situasi berubah, terjadinya perang, harga energi naik, tingkat suku bunga naik maka akan menjadi flat ya 7.300 – 7.500,” paparnya.
Baca Juga
Utang Luar Negeri Indonesia Makin Bertambah, Tembus US$ 400,9 Miliar
Mikail menyebutkan, bahwa perang di Timur Tengah dampaknya lebih luas dibandingkan perang Rusia-Ukraina. Perang tersebut dapat menyebabkan harga minyak dunia mengalami penaikan drastis, menimbulkan naiknya inflasi di Amerika dari level 2% menjadi 6%-7%.
“Perang Timur Tengah itu akan jauh dampaknya lebih luas daripada perang Rusia-Ukraine. Harga minyak dunia bisa lompat. Nah kalau harga minyak dunia lompat 100% katakanlah ya, ke US$ 160, maka inflasi itu akan kembali naik,” jelas Mikael.
Mikael menjelaskan dampak dari meningkatnya inflasi di Amerika tersebut dapat membuat The Fed batal memotong tingkat suku bunga. Sehingga resesi dapat terjadi yang diikuti dengan inflasi, atau stagflasi global.
“Nah itu akan membuat The Fed akhirnya harus men-stop tingkat suku bunga untuk dipotong, dampaknya tingkat suku bunga akan naik lagi di Amerika, di tengah perlambatan ekonomi di Amerika yang terjadi adalah resesi. Resesi yang diikuti dengan inflasi itu yang disebut dengan stagflasi. Nah yang terjadi adalah stagflasi global,” pungkasnya.

