Nantikan Respons Balasan Israel, Harga Emas Bergerak Terbatas
JAKARTA, investortrust.id -- Harga aset safe haven seperti emas bergerak terbatas menjelang sesi perdagangan sesi Eropa (17/4). Pada sesi perdagangan Selasa, emas mampu membentuk level tertinggi harian baru US$ 2.398,25 per troy ons. Namun sayangnya masih belum mampu memecahkan level tertinggi sepanjang masa US$ 2.431,43 yang terjadi pada pekan lalu.
Harga emas kembali di bawah level US$ 2.400 pada Rabu pagi ini setelah mengalami penutupan yang lebih lemah sehari sebelumnya. Emas mencoba untuk kembali meraih level US$ 2.400 namun masih belum mampu hingga siang ini, meskipun dolar AS (USD) telah mengikuti penurunan kecil dalam imbal hasil obligasi AS.
Saat ini pelaku pasar menunggu beberapa pembicara baru dari Federal Reserve (The Fed) AS.
“Potensi pelemahan terhadap emas bisa terjadi karena aksi profit taking, sebab pelaku pasar menanti perkembangan konflik Iran dengan Israel. Israel sebelumnya sudah menyatakan akan membalas serangan yang dilakukan Iran pada Sabtu pekan lalu,” tulis riset Monex, Rabu (17/4).
Sementara dalam riset ICDX, harga emas meningkat dengan support saat ini beralih ke area US$ 2.363 dan resistance terdekat berada di area US$ 2.400.
“Support terjauhnya berada di area US$ 2.320 hingga ke area US$ 2.300, sementara untuk resistance terjauhnya berada di area US$ 2.431 hingga ke area US$ 2.460,” tulis riset ICDX, Rabu (17/4).
Ketegangan geopolitik terus meningkat di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan lebih dari 300 drone dan rudal terhadap sasaran militer di Israel pada Sabtu malam sebagai tanggapan atas dugaan serangan Israel terhadap konsulat Iran di Suriah pada 1 April. Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengkonfirmasi serangan tersebut.
Pihak Iran mengkonfirmasi bahwa serangan tersebut ditujukan pada target tertentu. Mengenai hal tersebut, Israel kemungkinan akan melaksanakan serangan balasan lagi kepada Iran.
Apabila ketegangan antara dua negara ini segera selesai dan tidak meningkat maka fokus akan kembali pada prospek Fed AS. Namun, jika ketegangan antara Israel dan Iran semakin meningkat, pasar akan memasuki mode Risk Off.
“Logam mulia dan mata uang safe haven diperkirakan akan mengalami kenaikan, sementara aset berisiko diperkirakan akan mengalami aksi jual,” tulis riset.
Penurunan FFR Molor
Data penjualan ritel AS di bulan Maret menunjukan peningkatan yang melebihi ekspektasi. Yield treasury AS untuk produk 10 tahun meningkat dua hari berturut-turut, membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang atraktif dan membatasi kenaikan harga dari komoditas logam kuning.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan para pengambil kebijakan akan menunggu lebih lama dari perkiraan sebelumnya untuk memangkas suku bunga (Fed Fund rate/FFR) menyusul serangkaian angka inflasi yang belum mencapai target.
Powell menunjuk pada kurangnya kemajuan tambahan yang dicapai mengenai inflasi setelah penurunan cepat yang terlihat pada akhir tahun lalu, dan mencatat bahwa kemungkinan akan membutuhkan lebih banyak waktu bagi para pejabat untuk mendapatkan keyakinan yang diperlukan bahwa pertumbuhan harga mengarah ke sasaran The Fed sebesar 2% sebelum penurunan yang lebih rendah.
Ia mengatakan bahwa perekonomian AS telah menunjukkan kinerja yang cukup kuat dan mengakui bahwa data terbaru menunjukkan kurangnya kemajuan yang signifikan dalam hal pengendalian inflasi Amerika Serikat. Selain itu anggota The Federal Open Market Committee (FOMC) Tom Barkin juga memberikan pernyataan bahwa data Consumer Price Index (CPI) belum mendukung untuk terjadinya soft landing.
Menyusul pernyataan tersebut, para pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap Federal Reserve untuk memangkas suku bunga lebih dari sekali pada tahun ini. Para investor dan pelaku pasar juga memundurkan ekspektasi mereka untuk pemangkasan suku bunga pertama dari bulan Juni ke bulan September tahun ini.
Secara terpisah, sepekan terakhir, harga emas naik 0,84% secara point to point. Artinya, emas menguat selama empat pekan beruntun. Selama sebulan ke belakang, harga melesat 9,22%. Sepanjang pekan kemarin harga emas juga sempat mencetak rekor tertinggi di penutupan sebanyak tiga kali yakni pada Senin, Selasa, dan Kamis pekan ini. Rekor harga penutupan masih di posisi US$ 2.373 per troy ons yang tercipta pada Kamis (11/4).
Pada pekan lalu harga emas menguat setelah data inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan, sehingga meningkatkan harapan akan pemotongan suku bunga AS tahun ini, sementara kekhawatiran geopolitik yang berkelanjutan menambah kilauan logam mulia tersebut.
Fokus investor pekan ini mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah pasca serangan Iran terhadap Israel. Serta rilis data produksi industri untuk bulan Maret dan data perumahan baru. Tak terkecuali Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell juga dijadwalkan untuk berbicara pada hari yang sama. Sementara data penjualan rumah eksisting bulan Maret dijadwalkan akan dirilis pada Kamis (18/4) esok. (Lona Olavia)

