Target Saham ANTM dan INCO Dipangkas, Mirae Masih Rekomendasikan Beli
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas memangkas target harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia (INCO). Kendati begitu Mirae masih memberikan rating beli terhadap dua saham tersebut.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan menyebutkan, nikel memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan ekspor Indonesia. Saat ini, sebagian besar nikel yang diproduksi di Indonesia tergolong nikel kelas dua, antara lain nickel pig iron (NPI) dan ferro nickel (FeNi).
“Pada tahun-tahun mendatang, Indonesia diperkirakan akan memproduksi 21 juta ton FeNi,” tulis Darma dalam riset yang dipublikasikan pada Senin (8/1/2024).
Selain itu, gelombang smelter nikel kelas satu joint venture Indonesia-China juga akan semakin dekat. Dinamika ini dapat menyebabkan lonjakan pasokan nikel kelas 1 mulai 2024.
Baca Juga
Midi Utama (MIDI) Pertebal Modal Anak Usaha Restoran Rp 70 Miliar
Di tengah surplus produksi nikel Indonesia dan lambatnya pemulihan ekonomi China pada 2024, Darma memperkirakan harga nikel London Metal Exchange (LME) rata-rata akan berkisar antara US$ 15.000-18.000 per ton.
Menurut dia, sinyal positif untuk nikel Indonesia mungkin didukung prospek permintaan mendatang dari ekspektasi pertumbuhan baterai kendaraan listrik. Permintaan kendaraan listrik penumpang dan komersial global diperkirakan meningkat dan tumbuh lebih dari 40% CAGR dari 2022 hingga 2023.
“Namun demikian, kami tetap berhati-hati karena peralihan yang sedang berlangsung dalam industri baterai EV ke baterai LFP (lithium ferro phosphate) karena keunggulannya dibandingkan NMC (nikel, mangan, cobalt),” sambung Darma.
Oleh karena itu, potensi hilirisasi nikel di Indonesia masih bergantung pada perkembangan ekosistem baterai kendaraan listrik dalam negeri dan permintaan baterai kendaraan listrik berbasis nikel di masa depan.
“Kami memberikan peringkat netral untuk sektor nikel Indonesia berdasarkan faktor-faktor yang disebutkan di atas. Cakupan kami meliputi ANTM dan INCO,” tegas dia.
Baca Juga
Mirae Asset Sekuritas Indonesia pun memilih saham ANTM karena transformasinya menuju produsen baterai kendaraan listrik berbasis nikel yang terintegrasi. Sekaligus adanya kebijakan dividen yang dinilai besar yakni minimal 30% dari laba bersih.
“Rekomendasi kami untuk ANTM adalah trading buy, dengan TP (target price) Rp 1.850 per saham,” imbuh Darma.
Sedangkan untuk INCO, Mirae Asset Sekuritas melihat potensi pertumbuhan yang akan semakin besar pada 2025, berdasarkan ekspansi di masa depan. Pada 2024, kinerja keuangan INCO diperkirakan tetap bergantung pada harga nikel global dan kemampuannya dalam mengelola biaya.
“Rekomendasi kami untuk INCO adalah trading buy, dengan TP Rp 4.900 per saham,” tegasnya.
Kedua target harga yang disebutkan Darma, terpantau lebih kecil dari target harga sebelumnya. Pada 27 September 2023, Mirae Asset mematok harga Rp 2.175 untuk ANTM dan pada 25 Oktober 2023 target harga INCO ditempatkan pada level Rp 6.300.
Sedangkan pada perdagangan Senin (8/1/2024), harga saham ANTM ditutup pada level Rp 1.650 atau turun 1,49% dari perdagangan Jumat (5/1/2024). Saham pelat merah ini terhitung sudah terkoreksi 5,17% dalam tiga bulan, dibandingkan level harga pada Oktober 2023 atau setelah target harga terakhir dipublikasikan Mirae tahun lalu.
Di sisi lain harga saham INCO masih berada pada level Rp 4.280 per Senin (8/1/2024), sudah turun 21,22% dalam tiga bulan terakhir.

