Setelah Berduet Tembus ATH, BBRI Menuju 6.600, BMRI ke 7.300
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Bank Mandiri (BMRI) telah mencetak rekor harga saham tertinggi (All Time High) pada perdagangan Senin (12/02/2024).
Hingga penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (12/02) pukul 16.18 WIB, saham BBRI naik 175 poin atau 2,99% ke level 6025 dengan kapitalisasi pasar Rp 913,14 triliun, sedangkan saham BMRI telah naik 150 poin atau 2,16% ke level 7.100 dengan kapitalisasi pasar Rp 662,67 triliun.
Hal ini tidak terlepas dari kinerja fundamental bank yang sangat baik dan menarik. Analis Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico mengatakan bahwa di tengah ketidakpastian pada tahun 2023, kedua bank tersebut mampu mencetak kinerja yang sangat baik, didukung dengan penyaluran kredit dan penurunan biaya provisi bank.
Baca Juga
Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI Cetak ATH dan Diborong Asing, Ternyata Ini Pemicunya
Sepanjang 2023, BBRI melaporkan penyaluran kredit senilai Rp 1.266,4 triliun atau tumbuh 11,2% secara tahunan (yoy). Sedangkan Bank Mandiri sukses mencatatkan pertumbuhan kredit hingga 16,3% menjadi Rp 1.398,1 triliun hingga akhir 2023. Kenaikan ini ditopang oleh sejumlah segmen pinjaman yang mencatat pertumbuhan positif.
“Masing masing perbankan buku besar, sudah memiliki segmented customernya masing masing, sehingga hal ini lah yang membuat kinerja bank bank tadi menjadi terjaga dengan baik,” ungkap Analis Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico saat dihubungi investortrust.id.
Ke depannya, Nico memprediksi bahwa saham BBRI akan menuju 6.600 dan BMRI akan menuju 7.300. Angka tersebut diprediksi berdasarkan potensi valuasi di masa yang akan datang atau investasi jangka panjang.
Baca Juga
Hal-hal yang diprediksi dapat berpotensi melanjutkan penguatan dalam kedua harga saham tersebut adalah naiknya konsumsi dan daya beli, kehadiran pemilu, meningkatnya transaksi sehingga mendorong aktivitas perbankan, potensi penurunan tingkat suku bunga The Fed, serta meningkatnya penyaluran kredit. Sedangkan, sentimen yang berpotensi menjadi tantangan adalah pemilu yang tidak kondusif, tensi geopolitik yang mendorong inflasi, serta Tingkat suku bunga The Fed yang lebih tinggi untuk waktu yang lama.
Oleh sebab itu, Nico menyarankan kepada para investor untuk memperhatikan durasi investasi dan momentum untuk membeli dan menjual saham. “Karena tentunya saham saham yang sudah ATH (all time high) akan berpotensi besar untuk koreksi,” pungkasnya.
Baca Juga
Didukung Aksi Borong Investor Asing, Saham BBRI, BMRI, dan BBNI Kompak ATH

