Sambut Penurunan Suku Bunga The Fed, Ekonom Bahana Sarankan Dana Pensiun Borong SBN
JAKARTA, investortrust.id – Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (Fed) diyakini akan melunak dalam pengetatan kebijakan moneternya.
Mengacu pada konsensus, setelah mempertahankan suku bunga pada Desember 2023, The Fed dipercaya akan mulai menurunkan suku bunganya tahun depan.
Terkait keyakinan tersebut, Kepala Ekonom PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat merekomendasikan pengelola dana pensiun untuk memperbanyak kepemilikan surat berharga negara (SBN).
Dia mengekspektasikan terjadinya global bond repricing yang bisa jadi angin segar bagi dana pensiun.
“Dengan adanya dinamika global, tren komoditas, dan daya beli yang belum kelihatan, ya mendingan kita lihat yang obvious dulu lah dalam investasi bahwa SBN akan rally,” tegas Budi dalam Focus Group Discussion ‘Ke Mana Dana Pensiun Menginvestasikan Dana di Tahun 2024’, di kantor Investortrust, Rabu (20/12/2023).
Baca Juga
NAB Industri Reksa Dana Kembali Turun ke Level Terendah, Bahana TCW Tetap Memimpin
Dia menjelaskan, bila dana pensiun berinvestasi di SBN dengan imbal hasil (yield) 10 tahun di kisaran 6,5% pun dipercaya sudah cukup menguntungkan. Di luar pajak, level imbal hasil tersebut dianggap menguntungkan karena sudah melampaui proyeksi inflasi sekitar 2,5%(+-1%).
“Berlaku teori valuasi, relakan dulu bond yield turun kemudian rally, baru nanti valuasi aset yang lebih risky seperti saham itu akan ngikut,” ucap Budi.
Sebelumnya, dia memberi pemahaman bahwa dunia investasi Indonesia pada 2024 akan diwarnai dinamika global sebagai katalis eksternal yang tidak dapat dikontrol. Namun di waktu yang sama, terdapat pemilu sebagai sentimen internal Indonesia yang dapat memengaruhi arah investasi.
Di level global konsensus percaya bahwa The Fed akan segera mengakhiri pengetatan kebijakan moneternya. Keyakinan ini dilatarbelakangi dua pertanda, yakni imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) yang mulai turun, diikuti pelemahan dolar.
“Karena itu emas meningkat jadi dana pensiun yang bisa meningkat ke emas lagi, enjoying kondisi sekarang,” imbuh Budi.
Baca Juga
Inovasi Teknologi, Jurus Bahana Sekuritas Pacu Kontribusi Investor Ritel 35%
Dari dalam negeri, meredanya ledakan harga komoditas menggoyahkan posisi neraca dagang Indonesia, yang bahkan mencatatkan defisit transaksi berjalan. Hal ini kemudian menimbulkan penurunan daya beli.
“BI merespons global dynamic ini, modenya tahun ini bergeser tadinya pro-growth ke stabilisasi. Bahkan dari berbagai matriks suku bunga kita sudah ketinggian,” ujar Budi.
Dia optimistis, SBN akan jadi jenis investasi pertama yang terdampak sikap dovish The Fed. Pasalnya, mereka menjadi acuan banyak bank sentral dalam menentukan suku bunga.
Budi menilai, SBN Indonesia banyak disuka investor karena Indonesia jadi salah satu negara yang mampu mencetak surplus anggaran dengan fiskal relatif sehat, pasca-pandemi. Hal ini membuat suplai SBN terus berkurang.
Kenaikan suku bunga the Fed dalam dua tahun terakhir, telah menjadi beban berbagai negara maju karena imbal hasil obligasi mereka naik. Artinya, ongkos ekonomi mereka menjadi berat.
“Kemungkinan akan terjadi slower growth sehingga negara bisa bayar nggak? Akan terjadi repricing,” sambung Budi.
Kabar baiknya, imbal hasil obligasi Indonesia masih di level 6,5%, jauh lebih tinggi dari rata-rata 5 tahun terakhir. Sedangkan kebanyakan negara lain, selain Indonesia dan China, imbal hasil obligasinya di atas itu. Misal Inggris, ongkos utang mereka 4,4% itu jauh lebih tinggi dari 1,5% dalam rata-rata lima tahun terakhir.
“Itu beban berat loh, beban utang naik tiga kali lipat,” pungkasnya.

