BBCA-BBRI-BMRI Berdarah-darah, Saham Bank Murah atau Jebakan Maut?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek harga saham perbankan Indonesia kian menarik perhatian setelah mengalami penurunan tajam menyusul rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Meski valuasi sejumlah bank besar telah menyentuh atau bahkan melampaui level terendah saat pandemi Covid-19, tekanan jual asing masih membayangi pergerakan saham sektor perbankan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Nataniella Eva Kezia dan Victor Stefano dalam riset sektor perbankan bertajuk Black Friday Sale: Indonesian Banks at Crisis-Level Discounts menilai bahwa penurunan harga saham bank besar lebih banyak dipicu risiko arus dana keluar dan perubahan klasifikasi indeks ketimbang memburuknya fundamental bisnis.
Baca Juga
Saham BRI (BBRI) Makin Murah, Dividend Yield 13,6% dan PBV Tinggal 1,2 Kali
Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) sejak awal sesi dan ditutup anjlok 11,6% ke level 5.185. Penurunan berlanjut kemarin sebanyak 188,49 poin (3,64%) menjadi 4.996,61. Posisi tersebut merupakan level terendah dalam enam tahun terakhir dan sekitar 40% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa pada Januari 2026 sebesar 9.174.
Tekanan jual juga menghantam saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyentuh batas penurunan harga harian atau auto rejection bawah (ARB) sebesar 15% pada akhir pekan lalu dan tekanan juga berlanjut pada perdagangan kemarin. Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkoreksi 13% dan kembali ditutup turun kemarin.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa faktor utama pemicu kejatuhan tersebut datang dari MSCI yang membuka konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang menjadi Standalone Market pada 16 Oktober 2026. Periode penyampaian masukan berlangsung hingga 30 April 2027, sedangkan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. “Panjanganya periode ketidakpastian tersebut membuat tekanan terhadap saham perbankan berpotensi berlanjut hingga semester I-2027,” tulisnya.
Valuasi Saham Bank Murah?
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa penurunan harga saham bank besar telah membawa valuasinya ke level yang sangat rendah secara historis. Berdasarkan perbandingan rasio harga saham terhadap nilai buku (price to book value/PBV), penurunan valuasi dari puncak ke titik terendah pada siklus ini bahkan lebih dalam dibandingkan periode pandemi Covid-19 untuk BBCA, BBRI, dan BMRI.
BBCA mencatat penurunan valuasi PBV sebesar 61%, lebih dalam dibandingkan penurunan 37% pada periode Covid-19. BBRI mengalami penurunan 62%, dibandingkan 59% saat pandemi, sedangkan BMRI terkoreksi 58%, dibandingkan 54% pada periode yang sama. Untuk proyeksi tahun buku 2026, BBCA diperdagangkan pada PBV 2,1 kali, BBRI 1,2 kali, BMRI 1 kali, dan BBNI hanya 0,6 kali.
Baca Juga
OJK Laporkan Kondisi Pasar Modal Indonesia Pascapengumuman MSCI ke Prabowo
Sebagai perbandingan, level PBV terendah pada periode Covid-19 masing-masing tercatat sebesar 2,9 kali untuk BBCA, 1,1 kali untuk BBRI, 0,9 kali untuk BMRI, dan 0,5 kali untuk BBNI. “Kondisi tersebut menunjukkan saham sejumlah bank besar telah mendekati atau bahkan diperdagangkan di bawah valuasi terendah pada masa pandemi. Namun, valuasi murah belum otomatis menjadi katalis kenaikan harga dalam jangka pendek,” tulisnya.
Dari sisi profitabilitas, sektor perbankan masih memiliki proyeksi rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PE) sebesar 5,3–10,5 kali untuk 2026, dengan tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) 11,8–20,8% dan potensi imbal hasil dividen sebesar 6,8–13,1%.
Meski valuasi sudah tertekan, prospek pemulihan harga saham bank besar masih menghadapi tantangan dari kepemilikan investor asing. Porsi kepemilikan asing saat ini mencapai 69% pada BBCA, 55% pada BBRI, 55% pada BMRI, dan 53% pada BBNI. Angka tersebut memang telah turun, dibandingkan tingkat kepemilikan pada periode Covid-19, yakni 78% untuk BBCA, 74% untuk BBRI, 64% untuk BMRI, dan 46% untuk BBNI.
Baca Juga
MSCI Usulkan Indonesia Keluar dari Emerging Market Jadi Standalone Market
Namun, investor asing masih menguasai lebih dari separuh saham masing-masing bank besar. “Jika Indonesia benar-benar diturunkan menjadi Standalone Market, dana investasi yang menggunakan indeks pasar berkembang sebagai acuan berpotensi harus melepas kepemilikannya di saham Indonesia. Risiko tersebut membuka peluang berlanjutnya tekanan jual asing, meskipun valuasi saham perbankan sudah berada pada level rendah,” tulisnya.
Dengan demikian, menurut BRI Danareksa Sekuritas, pemulihan harga saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI dalam waktu dekat masih sangat dipengaruhi perkembangan konsultasi MSCI serta arus dana investor asing.
Pilihan Utama
Di tengah ketidakpastian tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan, tetapi memilih PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) sebagai saham pilihan utama (top pick) karena dinilai menawarkan posisi yang lebih defensif.
BTPS diperdagangkan pada valuasi PE proyeksi 2026 sebesar 5 kali dan PBV 0,6 kali. Bank ini juga memiliki ROE 13,2% dan potensi imbal hasil dividen sebesar 12%. Salah satu keunggulan BTPS adalah tingkat leverage sebesar 2,3 kali, terendah di antara bank-bank dalam cakupan riset tersebut. Sebagai perbandingan, leverage bank-bank lain berada pada kisaran 5,8–14,6 kali.
Baca Juga
Selain itu, kepemilikan asing di BTPS hanya sebesar 15%, jauh lebih rendah dibandingkan kepemilikan asing pada empat bank besar yang berada di kisaran 53–69%. Kondisi tersebut membuat BTPS dinilai relatif lebih terlindungi dari potensi arus keluar dana yang mengikuti indeks emerging market. BTPS juga telah memperoleh persetujuan untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp1 triliun.
Meski demikian, prospek BTPS maupun sektor perbankan secara keseluruhan tetap menghadapi risiko. Penurunan kualitas aset yang signifikan serta suku bunga acuan dan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menjadi faktor yang menghambat kinerja sektor perbankan.
