Bitcoin Berpeluang Tembus US$ 100.000 di Akhir 2026, Ini Faktor Pendorongnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) berpotensi kembali menembus level US$100.000 sebelum akhir 2026, didukung oleh peningkatan adopsi institusional, permintaan terhadap aset lindung nilai, serta kejelasan regulasi. Namun, tekanan inflasi dan prospek kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) masih menjadi risiko bagi pergerakan aset kripto tersebut.
Kepala Riset Bitwise Ryan Rasmussen memperkirakan harga Bitcoin akan bergerak lebih tinggi dalam beberapa minggu ke depan, meskipun pasar masih menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
“Kami yakin Bitcoin akan menutup tahun ini di harga yang lebih tinggi, bahkan berpotensi di atas US$100.000,” ujar Rasmussen kepada CoinDesk, Senin (19/10/2026).
Baca Juga
Bitcoin Belum Keluar dari Tren Bearish, Trader Tunggu Breakout US$ 84.200
Menurut dia, terdapat tiga faktor utama yang mendukung prospek Bitcoin dalam jangka panjang, yakni pembelian oleh investor institusional melalui exchange-traded fund (ETF) dan perusahaan, permintaan terhadap aset berwujud (hard assets) di tengah inflasi dan peningkatan utang pemerintah, serta kejelasan regulasi yang dapat mengurangi persepsi risiko investasi kripto.
Meski demikian, Rasmussen memperkirakan volatilitas masih akan berlangsung menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan pemilihan umum paruh waktu AS pada November 2026.
Berbeda dengan Bitwise, Kepala Riset LO Adam Morgan McCarthy memperkirakan Bitcoin akan bergerak dalam kisaran US$85.000–US$95.000 hingga akhir tahun. Ia menilai kebijakan moneter yang ketat dan tekanan inflasi berpotensi membatasi kenaikan harga.
McCarthy mengatakan, peluang Bitcoin untuk kembali menembus US$100.000 akan meningkat apabila ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember berubah menjadi jeda kebijakan, didukung penurunan harga minyak dan inflasi.
Data inflasi AS yang dirilis pada 14 Oktober menunjukkan indeks harga konsumen meningkat 0,6% secara bulanan, sedangkan inflasi inti naik 0,3%. Kenaikan harga bensin menyumbang lebih dari separuh kenaikan inflasi utama tersebut.
Kepala Riset CoinShares James Butterfill juga menyoroti tantangan yang dihadapi Bitcoin akibat inflasi yang bertahan tinggi di tengah pelemahan pasar tenaga kerja. Menurut dia, penurunan inflasi dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan, sedangkan tekanan harga yang berlanjut berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi.
Menilik data Coinmarketcap, Senin (19/10/2026) pukul 09.50 WIB, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 82.665 usai menguat 1,18% dalam 24 jam terakhir
Baca Juga
Bitcoin Sempat Jatuh di Bawah US$ 80.000, Kini Mulai Membaik
Posisi Pasar dan Arus Dana Institusional
Di sisi lain, pedagang derivatif senior Laser Digital Luca Invernizzi menilai pergerakan Bitcoin hingga akhir tahun masih akan dipengaruhi kondisi makroekonomi, khususnya imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang.
Ia menyoroti pemulihan Bitcoin dari level terendah pada musim panas yang dinilai belum cukup kuat, seiring volume perdagangan yang tipis, arus masuk ETF yang melambat, serta berkurangnya pembelian oleh perusahaan.
Namun, penggunaan leverage yang lebih rendah berpotensi membuka ruang bagi kenaikan harga apabila Bitcoin mampu menembus level resistensi tertentu.
Invernizzi mengatakan, penembusan kuat di atas US$90.000 dapat memicu penutupan posisi jual (short covering), yang berpotensi mempercepat kenaikan harga.
Sementara itu, Citi mencatat kapitalisasi pasar kripto meningkat dari sekitar US$2,1 triliun menjadi hampir US$3 triliun sepanjang kuartal III 2026. Arus dana ke ETF institusional kembali positif, diikuti perbaikan aktivitas perdagangan, penggunaan stablecoin, dan pengembangan infrastruktur aset digital.
Citi juga melihat minat investor mulai meluas ke bisnis pendukung ekosistem kripto, termasuk tokenisasi, layanan kustodian, stablecoin, dan penyelesaian transaksi.
Adapun Butterfill menilai perlambatan arus masuk ke produk investasi kripto setelah mencatatkan aliran dana sebesar US$11,1 miliar sejak pertengahan Juli lebih mencerminkan ketidakpastian pasar daripada perubahan fundamental Bitcoin.
Dengan demikian, prospek Bitcoin hingga akhir 2026 masih bergantung pada keseimbangan antara permintaan institusional dan perkembangan ekosistem kripto dengan tekanan makroekonomi, terutama inflasi serta arah kebijakan suku bunga The Fed.
