Analis Asing: Menyamakan Pasar Saham Indonesia dengan Lebanon dan Zimbabwe Tidak Masuk Akal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Langkah MSCI yang berniat mereklasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market mendapat respons luar dari para analis. Seorang analis asing, Angus Mackintosh dari Alethia Capital Singapura menilai MSCI berlebihan karena menempatkan pasar Indonesia satu kelompok dengan pasar Lebanon, Palestina, Argentina, dan Zimbabwe dan itu tidak masuk akal.
“Langkah ini tidak mencerminkan kondisi kesehatan sebagian besar perusahaan terbuka maupun perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Menempatkan Indonesia dalam satu kelompok dengan Lebanon, Palestina, dan Argentina adalah hal yang tidak masuk akal,” kata Angus dalam pernyataannya, Jumat (16/10/2026).
MSCI membuka konsultasi untuk kemungkinan mereklasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Tenggat masukan adalah 30 April 2027 dan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.
Angus menegaskan bahwa tindakan MSCI terasa berlebihan mengingat berbagai upaya yang telah dilakukan Indonesia untuk mengatasi masalah seputar transparansi pasar dan jumlah saham yang beredar di publik (free float).
Menurut dia, masalah bagi Indonesia adalah kurangnya bukti implementasi serta kegagalan dalam menjatuhkan sanksi terhadap pihak-pihak yang jelas terlibat dalam manipulasi saham.
“Satu-satunya cara bagi Indonesia untuk memperbaiki situasi ini adalah dengan menjatuhkan sanksi berat dan denda kepada mereka yang terlibat dalam manipulasi saham secara terencana,” tuturnya.
