Binance US Incar Dana Segar Rp 1,8 Triliun di Tengah Persaingan Exchange Kripto
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Binance US dilaporkan tengah mencari pendanaan baru hingga US$100 juta dengan target valuasi sekitar US$1 miliar atau sekitar Rp 1,8 triliun. Nilai tersebut turun sekitar 77,8% dibandingkan valuasi pra-pendanaan sebesar US$4,5 miliar yang dicapai bursa kripto tersebut pada April 2022.
Mengutip laporan Bloomberg, Kamis (15/10/2026), pendanaan tersebut ditujukan untuk mendukung upaya Binance US membangun kembali bisnisnya di Amerika Serikat (AS).
Rencana penggalangan dana ini muncul setelah perusahaan menghadapi tekanan regulasi, gangguan layanan perbankan, dan penurunan aktivitas perdagangan yang berdampak terhadap posisinya di pasar kripto AS.
Pada April 2022, Binance US memperoleh pendanaan awal lebih dari US$200 juta dengan valuasi pra-pendanaan US$4,5 miliar. Sejumlah investor yang berpartisipasi dalam putaran tersebut antara lain Foundation Capital, RRE Ventures, Circle Ventures, dan VanEck.
Baca Juga
Bidik Ekspansi USDC di Negara Berkembang, Binance Suntik Rp 1,78 Triliun ke Circle
Tekanan terhadap bisnis Binance US meningkat pada Juni 2023 setelah Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menggugat entitas terkait Binance dan pendirinya, Changpeng Zhao. Persoalan tersebut diikuti memburuknya hubungan perbankan, penghentian layanan dolar AS, serta penyusutan aktivitas perdagangan.
SEC kemudian membatalkan gugatannya terhadap Binance pada Mei 2025. Pada Februari 2025, Binance US juga memulihkan layanan setoran dan penarikan dolar melalui transfer Automated Clearing House (ACH).
Di bawah kepemimpinan CEO Stephen Gregory, yang ditunjuk pada Maret 2026, Binance US berupaya meningkatkan daya saing melalui kebijakan biaya perdagangan yang lebih rendah. Perusahaan menerapkan biaya maker nol dan biaya taker mulai dari 0,02%.
Baca Juga
Presiden Bank Sentral Eropa Minta PM Yunani Halangi Lisensi Binance di Uni Eropa, Ada Apa?
Selain memperkuat perdagangan aset kripto di pasar spot, Binance US juga menjajaki ekspansi bisnis ke seluruh 50 negara bagian AS. Rencana lainnya mencakup pengajuan lisensi derivatif, pengembangan kontrak berjangka abadi, serta penjajakan layanan pasar prediksi dan produk keuangan tambahan.
Namun, perusahaan masih menghadapi persaingan dari bursa kripto lain yang telah memiliki basis pelanggan kuat di AS, termasuk Coinbase dan Kraken.
Jika terealisasi, pendanaan baru tersebut dapat mendukung upaya Binance US memperkuat likuiditas dan memperluas distribusi layanannya. Meski demikian, target valuasi US$1 miliar menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan posisi perusahaan pada 2022.
Hingga laporan Bloomberg diterbitkan, rencana penggalangan dana tersebut belum dikonfirmasi secara terbuka oleh Binance US.
