IHSG Jebol 11,16% Usai Trading Halt I Dibuka, Bakal Trading Halt II ?
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026), jatuh sebanyak 658 poin (11,16%) menjadi 5.210 setelah trading halt pertama dibuka atau pukul 09.30 wib. Pelemahan ini sejalan dengan ancaman MSCI terhadap penerapan standalone pasar saham Indonesia.
Seluruh sektor saham alami kejatuhan parah seluruh sektor saham, seperti sektor energi, material dasar, dan industry turun lebih dari 13%. Penurunan lebih dari 10% melanda saham sektor konsumer primer, konsumer non primer, infrastruktur, dan saham lainnya. Kejatuhan juga melanda seluruh saham big cap yang bergeraek ke auto reject bawah (ARB), seperti saham BBCA, BREN, BBRI, BMRI, TPIA, ASII, DSSA, BYAN, dan ITMG.
Perdagangan saham BEI berpotensi terkena trading halt atau penghentian sementara kedua, apabila penurunan IHSG berlanjut hingga lebih dari 15%.
Baca Juga
Sebaliknya saham BSWD masih berhasil catatkan lompatan harga dengan kenaikan 25% menjadi Rp 5.625 dan TRUK melesat 24,81% menjadi Rp 3.220. Kenaikan juga melanda saham ABDA, DAYA, INTD, dan BIKE.
Sebelumnya, BEI dalam pengumuman resminya, Jumat, (16/10/2026) menyebutkan bahwa telah dilakukan tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 08:58:00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).
Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 09:28:00 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan IHSG yang mencapai 8%. BEI melakukan upaya ini dalam rangka menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan efisien sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan diatur lebih lanjut pada Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
Baca Juga
BEI Minta Klarifikasi MSCI soal Usulan Standalone Pasar Saham RI
Kemarin, IHSG ditutup turun signifikan 63,24 poin (1,33%) menjadi 5.863. Sebaliknya pemodal asing justru mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 567,96 miliar. Net buy terbanyak melanda saham BBCA senilai Rp 286,10 miliar, BBRI mencapai Rp 90,73 miliar, dan ENRG senilai Rp 72,32 miliar.
Pelemahan dipicu kejatuhan hampir seluruh saham big cap bersamaan dengan kejatuhan pasar saham Asia. Sejumlah big cap dengan kejatuhan dalam, yaitu saham BREN jatuh 6%, TEBE anjlok 14,65%, TPIA jatuh 5,67%, DSSA jatuh lebih dari 6%, BBCA jatuh hampir 1%, dan BYAN jatuh hampir 3%.
Meski IHSG terjerembab, beberapa saham ini justru berhasil catatkan kenaikan hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham AKKU melesat 34,62% menjadi Rp 105, BSWD naik 25% menjadi Rp 4.500, ALDO naik 24,92% menjadi Rp 1.955, PTSP naik 24,72% menjadi Rp 1.665, dan TFCO naik 24,61% menjadi Rp 2.000.
