Bitcoin Sempat Jatuh di Bawah US$ 80.000, Kini Mulai Membaik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bitcoin (BTC) mengalami pemulihan dan tercatat diperdagangkan di level US$82.000 pada perdagangan Jumat (16/10/2026) pagi waktu Asia. Pergerakan ini menunjukkan adanya pemulihan terbatas setelah tekanan jual, meskipun arah harga selanjutnya masih bergantung pada kondisi pasar dan minat investor terhadap aset berisiko. Sebelumnya, pada Kamis (15/20/2026) malam harga BTC sempat turun di bawah US$80.000 untuk pertama kalinya dalam hampir sebulan pada Oktober 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual saham perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Amerika Serikat yang menekan aset berisiko dan mengurangi optimisme pasar kripto.
Tekanan pasar juga tercermin dari penurunan probabilitas Bitcoin mencapai US$100.000 pada Natal. Peluang target harga itu turun menjadi 9,7%, menunjukkan sikap investor spekulatif yang semakin defensif.
Meski demikian, sejumlah analis aset digital masih melihat prospek jangka panjang Bitcoin secara positif. Namun, dalam jangka pendek, pergerakan harga masih menghadapi tekanan akibat rendahnya selera risiko investor.
Baca Juga
Inflasi AS Melambung ke 3,7%, Bitcoin Jatuh ke Bawah US$ 82.000
Minat investor ritel terhadap Bitcoin juga menunjukkan pelemahan. Pada Oktober 2026, pencarian global di Google untuk kata kunci Bitcoin dan BTCUSD dilaporkan merosot ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut terjadi setelah harga Bitcoin terkoreksi dari rekor sekitar US$126.080 pada Oktober 2025 menjadi kisaran US$82.500–US$83.400. Penurunan ini turut meredam ekspektasi terhadap reli harga yang biasanya dinantikan pada musim gugur.
Baca Juga
Analis aset digital Willy Woo mengutip Pluang menilai, rendahnya minat pencarian Bitcoin terkadang berkaitan dengan fase pembentukan titik terendah harga dalam jangka panjang. Meski demikian, indikator tersebut tidak dengan sendirinya memastikan bahwa harga telah mencapai dasar koreksi.
Di sisi lain, minat terhadap pasar kripto secara keseluruhan disebut masih bertahan. Hal ini mengindikasikan sebagian investor ritel mungkin mengalihkan perhatian ke token alternatif, alih-alih sepenuhnya meninggalkan pasar aset digital.
Sementara itu, modal institusional semakin berperan dalam menyediakan likuiditas Bitcoin. Perubahan komposisi pelaku pasar tersebut berpotensi mengurangi pengaruh langsung aktivitas investor ritel terhadap pergerakan harga.
