Inflasi AS Melambung ke 3,7%, Bitcoin Jatuh ke Bawah US$ 82.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) turun ke bawah US$ 82.000 setelah inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) meningkat menjadi 3,7% pada September 2026, dari 3,4% pada Agustus. Kenaikan inflasi tersebut meredupkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Mengutip data CoinMarketCap, pukul 07.23 WIB, Bitcoin tengah diperdagangkan di kisaran US$81.702, turun sekitar 1,98% dalam 24 jam terakhir. Pelemahan juga terjadi pada aset kripto lainnya, dengan Ethereum (ETH) turun 3,21% menjadi sekitar US$2.425 dan Solana melemah 2,68% ke level US$104,33. Kapitalisasi pasar kripto alhasil tinggal US$2,74 triliun usai turun 1,91%.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 0,6% secara bulanan pada September, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi konsumen mencapai 3,7%, meningkat dari 3,4% pada bulan sebelumnya.
Kenaikan harga energi menjadi faktor utama pendorong inflasi. Harga bensin melonjak 9,1% secara bulanan dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan IHK September. Sementara itu, indeks energi meningkat 5,2% dalam sebulan dan naik 20,4% secara tahunan.
Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi, juga meningkat. Indeks tersebut naik 0,3% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan pada September, dibandingkan 2,4% pada Agustus.
Baca Juga
Kenaikan inflasi memperkuat kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin, karena ekspektasi biaya pinjaman yang lebih tinggi cenderung mengurangi minat investor terhadap aset berisiko.
Selain inflasi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar turut memberikan tekanan terhadap pasar kripto. Pelemahan harga juga terjadi setelah permintaan institusional terhadap produk investasi berbasis aset kripto menunjukkan penurunan pada pekan sebelumnya.
Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus keluar bersih sekitar US$681 juta selama periode 5–9 Oktober 2026. Arus keluar tersebut mengakhiri tren dana masuk yang berlangsung selama tiga pekan.
Baca Juga
Jelang Rilis Inflasi AS, Harga Bitcoin Turun 3%, Ethereum dan XRP Terkoreksi Lebih Dalam
Pada periode yang sama, ETF Ethereum spot mencatat arus keluar bersih sekitar US$542 juta. ETF Ethereum milik BlackRock, ETHA, menyumbang arus keluar sekitar US$477 juta.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati rilis data inflasi AS berikutnya yang dijadwalkan pada 10 November 2026 untuk menilai apakah tekanan harga berlanjut pada Oktober atau mulai mereda.
Dari sisi teknikal, area US$82.000 menjadi salah satu level yang diperhatikan setelah ditembus ke bawah. Bitcoin juga dipantau di sekitar US$81.500, yang menjadi area stabilisasi tekanan jual harian pada 14 Oktober.
Jika tekanan jual berlanjut dan harga bertahan di bawah area tersebut, Bitcoin berisiko menguji kembali level terendahnya pada Oktober. Sebaliknya, pemulihan ke atas US$83.000 dapat mengindikasikan bahwa tekanan pasar akibat rilis data inflasi mulai mereda.
