Target Harga Saham Bukit Asam (PTBA) Direvisi Naik, Laba Melonjak dan Potensi Dividen 10%
Poin Penting
|
JAKARTA, investotrust.id – Target harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) direvisi naik menjadi Rp 3.480 per saham dengan rekomendasi beli, seiring dengan peningkatan proyeksi laba pada 2026 dan 2027. Kenaikan estimasi harga jual rata-rata batu bara (average selling price/ASP) menjadi faktor utama yang mendorong revisi tersebut.
Revisi naik target harga dari Rp 3.200 menjadi Rp 3.480 tersebut mempertimbangkan metode discounted cash flow (DCF). Target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan harga saham sekitar 8,4% dari harga penutupan kemarin level Rp 3.210. Target harga tersebut juga didukung estimasi imbal hasil dividen (dividend yield) sebesar 10%.
Revisi naik target harga tersebut juga mempertimbangkan revisi naik sejumlah indikator. Proyeksi rata-rata harga jual batu bara perseroan direvisi naik dari semula Rp 820 ribu menjadi Rp 1,04 juta per ton tahun ini. Target volume penjualan juga direvisi naik dari semula sebanyak 46,3 juta ton menjadi 48,1 juta ton. Adapun stripping ratio direvisi naik dari semula 5 kali menjadi 5,6 kali.
Baca Juga
Bukit Asam (PTBA) Kejar Hilirisasi, Batu Bara Jadi Gas hingga Bahan Baterai
Revisi naik target harga dan volume tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik proyeksi kinerja keuangan PTBA tahun ini. Proyeksi pendapatan tahun ini direvisi naik dari semula Rp 37,94 triliun menjadi Rp 50,30 triliun. Begitu juga dengan proyeksi laba bersih direvisi naik dari semula Rp 3,49 triliun menjadi Rp 4,41 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan, kenaikan asumsi harga jual batu bara menjadi pendorong utama peningkatan proyeksi kinerja PTBA. Revisi proyeksi volume penjualan turut memengaruhi estimasi kinerja perseroan. Meski demikian, pertumbuhan laba diperkirakan tidak berlangsung secara berkelanjutan. “Kami memproyeksikan laba PTBA pada 2027 turun 18% secara tahunan, seiring normalisasi harga jual batu bara dan margin keuntungan,” tulisnya.
Peningkatan volume penjualan menjadi faktor pendukung kinerja PTBA, terutama pada 2027. Perseroan masih menghadapi keterbatasan pengiriman batu bara pada 2026 akibat keterlambatan pembangunan terminal bongkar Kramasan. Guna mengatasi kendala tersebut, manajemen tengah mencari kapasitas alternatif melalui PT Kereta Api Indonesia (KAI) guna mendukung pengiriman batu bara.
Indikasi volume penjualan PTBA pada 2026 terdiri atas 28 juta ton melalui Tarahan, 8 juta ton melalui Kertapati, 7 juta ton dari tambang mulut (mine-mouth), dan 4 juta ton melalui Kramasan. Berdasarkan komponen tersebut, analis memperkirakan penjualan batu bara mencapai 48,1 juta ton, di bawah target manajemen sebesar 49,5 juta ton.
Kenaikan RKAB
Memasuki 2027, PTBA berencana mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk produksi sebesar 53 juta ton. Volume pengiriman melalui Kramasan diperkirakan meningkat menjadi 9 juta ton. “Kami memperkirakan penjualan batu bara PTBA tumbuh 6% secara tahunan pada 2027 dan 2028, masing-masing menjadi 51 juta ton dan 54,1 juta ton. Pertumbuhan tersebut ditopang tambahan kapasitas pengiriman,” tulisnya.
Selain ekspansi kapasitas, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, peningkatan penjualan batu bara dari tambang mulut berpotensi mendukung margin keuntungan PTBA. Perseroan memperluas penjualan mine-mouth melalui tambahan penyerapan oleh PT PLN (Persero). Saat ini, volume penyerapan tersebut mencapai sekitar 250.000 ton per bulan, yang diperkirakan setara dengan 1,75 juta ton sepanjang 2026.
Baca Juga
Produksi Batu Bara 2026 Tak Sebanyak 2025, Bahlil: Yang Penting PNBP Naik
Manajemen menyebut penjualan dengan skema tersebut menggunakan mekanisme harga berbasis biaya (cost-plus), sehingga berdampak positif ke margin. Seorang produsen semen juga dilaporkan menyerap tambahan volume dengan skema serupa. “Perubahan pendekatan manajemen merupakan langkah positif, terutama melalui penguatan koordinasi dengan KAI dan peningkatan perhatian terhadap biaya operasional. Pengurangan volume pengangkutan menggunakan truk berbiaya tinggi juga dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi operasional PTBA,” tulisnya.
Di tengah peluang pertumbuhan volume dan proyeksi lompatan laba, dividen menjadi salah satu daya tarik saham PTBA. BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan dividend yield perseroan bisa mencapai 10%. Meski demikian peluang kenaikan valuasi saham masih terbatas. PTBA saat ini diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (forward price-to-earnings/P/E) sebesar 7,8 kali, mendekati level satu standar deviasi di atas rata-rata lima tahun.
Belanja modal yang tinggi juga menjadi faktor pembatas. PTBA sebelumnya mengungkap belanja modal 2026 sebesar Rp3,6 triliun, sementara investasi besar tambahan diperkirakan berlanjut pada 2027–2028, terutama untuk rencana pembangunan pembangkit listrik Mempawah. “Kami memperkirakan belanja modal PTBA mulai kembali normal pada 2029,” tulisnya.
